<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Mimpi &#187; Haris Firdaus</title>
	<atom:link href="http://rumahmimpi.net/author/harisf/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahmimpi.net</link>
	<description>mimpi adalah semangat. dan perlu sebuah rumah buat menampungnya.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 09:26:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bersiaga di Jalan Jakarta</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2012/01/bersiaga-di-jalan-jakarta/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2012/01/bersiaga-di-jalan-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 04:13:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[KRL]]></category>
		<category><![CDATA[Trans Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Xenia Maut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=1076</guid>
		<description><![CDATA[


Pada mulanya, saya ingin optimis dengan jalanan Jakarta. Tapi sesudah banyak perempuan diperkosa di mikrolet dan dicabuli di Trans Jakarta, setelah banyak orang dirampok atau dicopet di Kopaja atau Metromini, dan sesudah Xenia Maut yang dikendarai perempuan gendut itu menewaskan sembilan orang, saya tahu alasan untuk optimis itu hampir-hampir habis.
Akhirnya, kita memang harus menerima kesimpulan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0in; text-align: center; " align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: small;"><a rel="attachment wp-att-1077" href="http://rumahmimpi.net/2012/01/bersiaga-di-jalan-jakarta/jalan-jakarta/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1077" title="Jalan Jakarta" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2012/01/Jalan-Jakarta.jpg" alt="Jalan Jakarta" width="492" height="326" /></a><br />
</span>
</p>
<p style="text-align: justify;">Pada mulanya, saya ingin optimis dengan jalanan Jakarta. Tapi sesudah banyak perempuan diperkosa di mikrolet dan dicabuli di Trans Jakarta, setelah banyak orang dirampok atau dicopet di Kopaja atau Metromini, dan sesudah <a href="http://metro.vivanews.com/news/read/282595-identifikasi-xenia-tepis-keterangan-afriyani" target="_blank"><strong>Xenia Maut</strong></a> yang dikendarai perempuan gendut itu menewaskan sembilan orang, saya tahu alasan untuk optimis itu hampir-hampir habis.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, kita memang harus menerima kesimpulan bahwa jalanan Jakarta itu berbahaya dan kita semua harus siap dengan itu. Sebenarnya, semua orang pernah mendengar cerita soal betapa berbahayanya Jakarta dan citra Jakarta sendiri selalu punya dua wajah yang bertolak belakang: di satu sisi gemerlap dan menyenangkan, tapi di sisi lainnya muram dan menakutkan. Semua orang sudah tahu itu, bahkan mereka yang belum sekalipun mengunjungi Jakarta paham betul soal ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya punya banyak kawan di Solo yang selalu memandang Jakarta dengan gentar: macet, panas, penuh polusi, dan rawan kriminalitas. Mereka pada akhirnya tak berminat sama sekali hidup di kota ini. Dalam begitu banyak literatur, di buku, koran, majalah, atau film, citra soal Jakarta yang angker ini diteguhkan dan terus-menerus dikembangkan sampai hampir-hampir mencapai taraf yang imajinatif. Karenanya, kadang-kadang, kegentaran yang ditimbulkan akibat citra angker itu juga berlebihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua tahun lalu, saya tertawa saat seorang kawan yang lahir dan besar di Jakarta berkisah bagaimana berbahayanya jalanan di Jakarta. Saya merasa lucu mendengar itu karena heran: kenapa orang yang sudah 20 tahun lebih tinggal di Jakarta masih juga paranoid terhadap ibukota dan belum juga merasa nyaman menyusuri jalanan di sana. Tapi, setelah semua kejahatan dan kengerian yang terjadi akhir-akhir ini, saya akhirnya bisa menerima paranoia tersebut dan menganggapnya sebagai bagian yang tak terpisahkan untuk mereka yang hidup di Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila Jakarta itu berbahaya dan Anda masih ingin hidup di sana dengan alasan apapun, maka tak ada pilihan lain: Anda harus bersiaga. Sebagai wartawan, saya ditakdirkan untuk berkawan dengan jalanan. Hampir tiap hari saya berkeliaran di jalan, pergi dari satu tempat ke tempat lain. Selama dua bulan pertama, saya masih liputan dengan angkutan umum.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai orang yang tak pernah tinggal di Jakarta, saya akhirnya harus bersusah payah sebelum liputan: mencari alamat tempat yang akan saya kunjungi, lalu mencari-cari rute angkutan umum supaya sampai ke sana. Saya tersesat berkali-kali tentu saja, tapi dari pengalaman dua bulan inilah saya mulai menghafal jalanan Jakarta, juga memahami kegilaan-kegilaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu saat di KRL Ekonomi jurusan Bogor-Jakarta, saya pernah melihat bagaimana seorang penjambret beraksi. Di suatu stasiun yang saya lupa namanya, si penjambret dan satu kawannya merapat ke pintu KRL yang terus terbuka. Saat KRL berhenti di stasiun, mereka tak turun. Tapi begitu kereta berjalan pelan-pelan, mereka tiba-tiba saja melompat.</p>
<p style="text-align: justify;">Awalnya saya yang melihat aksi itu menganggapnya hanya sebagai aksi gagah-gagahan lompat dari kereta yang berjalan. Tapi seorang bapak di samping saya ternyata lebih tanggap. “Maling,” katanya. Semua penumpang kaget dan sekian menit sesudah itu seorang ibu yang duduk di dekat pintu meraba lehernya dan menemukan kalungnya sudah raib. Dia lalu menangis. Sementara kereta terus berjalan dan tak bisa dihentikan sehingga si penjambret pun lolos.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah Jakarta. Kejahatan berlangsung cepat dan tak ada keadilan yang bisa ditegakkan. Korban hanya bisa menerima dan bersedih. Oleh karena itu, saat berada di jalanan Jakarta, sikap waspada sangat dibutuhkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak awal naik angkutan umum di Jakarta, sikap siaga saya otomatis terbentuk. Saya tak pernah menaruh dompet di kantong belakang celana—seperti yang selalu lakukan biasanya. Biasanya, sebelum naik angkot, Kopaja, atau Metromini, saya selalu menyiapkan uang pas, mengambilnya dari dompet, dan meletakkannya di saku samping celana. Saya memindahkan dompet, juga handphone, dari kantong celana ke tas. Saya pastikan telah menutup tas saya rapat-rapat, lalu menaruh tas ransel saya di bagian depan, menempel ke dada, bukan menempel di punggung seperti biasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Solo, kota tempat saya tinggal dulu, saat naik bis kota, saya nyaris tak sesiap-siaga itu. Dan saya begitu rileks saat duduk di angkutan umum di Solo. Tapi di Jakarta, naik Trans Jakarta saja bisa jadi pengalaman yang menegangkan. Bahkan di angkutan umum yang “relatif nyaman” di Jakarta, ketakutan tetap tak terhindarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kawan saya, Ardi Yunanto, pernah melakukan observasi selama satu tahun di atas bus patas AC di Jakarta dan hasilnya menunjukkan bahwa di atas angkutan umum yang relatif nyaman itu saja para penumpang masih merasa cemas dan takut. Ketakutan itu terjadi karena hal yang sebenarnya bisa dianggap sepele:<a href="http://karbonjournal.org/focus/ketakutan-duduk-bersama-catatan-tentang-bus-patas-ac-di-jakarta" target="_blank"> <strong>tentang di mana kita mesti duduk</strong></a>. Salah satu penumpang yang paling cemas soal pilihan duduk ini adalah perempuan, terutama yang muda.</p>
<p style="text-align: justify;">Perempuan muda ini, kata Ardi, biasanya akan memilih sesama perempuan sebagai teman duduk, atau kalaupun akhirnya mesti duduk dengan pria, mereka akan memilih duduk di kursi di dekat jalan. Bila mereka duduk di dekat jendela atau di kursi tengah, mereka akan ketakutan bila saat mereka turun dan harus melewati pria di samping, mereka akan diusili.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah, semua angkutan umum mempunyai rasa cemas dan ketakutannya sendiri dan ini melengkapi horor lain di jalanan Jakarta: perbaikan gorong-gorong yang bisa menyebabkan kecelakaan, banjir, ranjau paku, atau pohon tumbang dan papan reklame ambruk yang bisa menimpa siapa saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan semua masalah itu, secara sadar atau tidak, mereka yang berada di jalanan Jakarta harus bersiap siaga. Kawan saya lain, Deasy Elsara, misalnya, mengisahkan bagaimana dia mesti melindungi diri di jalanan. Dalam <a href="http://deasyelsara.wordpress.com/2012/01/24/jakarta-harus-aman-untuk-semua/" target="_blank"><strong>cerita panjang di blognya</strong></a>, Sara mengaku selalu membawa benda-benda yang bisa melindungi dirinya, seperti pensil mekanik, bolpen, penggaris besi, cutter, pisau lipat, atau alat kikir. Sara juga merekomendasikan alat setrum dan cat semprot sebagai alat yang efektif untuk melindungi diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesudah membaca tulisan Sara, saya makin sadar bahwa kita semua harus siap siaga di jalanan Jakarta. Tapi, soal lain yang mesti diingat adalah: siap siaga tak berarti sama dengan kecurigaan dan ketakutan yang berlebihan. Menyadari bahwa jalanan Jakarta berbahaya tak boleh membuat kita takut dan bercuriga pada semua hal, tapi justru harus membuat kita menyiapkan semua hal supaya kita bisa aman. Muara akhir dari kesiap-siagaan itu, menurut saya, adalah sikap berani, bukan ketakutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sikap lain yang juga saya pegang adalah jangan sampai karena ketakutan itu kita bercuriga pada semua orang. Tulisan Evi Mariani Sofian yang berjudul<span style="color: #000000;"><strong> </strong><span style="color: #000000;"><strong>&#8220;</strong><a style="font-weight: bold;" href="http://karbonjournal.org/focus/keluh-kasih-jalanan-jakarta" target="_blank">Keluh-kasih jalanan Jakarta</a><strong>&#8220;</strong></span></span> dengan baik menunjukkan bahwa ada banyak kasih sayang tak terduga di Jakarta. Selama di Jakarta, saya juga banyak menemukan kejadian menarik dan indah yang mungkin tak akan saya temukan jika kita bercuriga pada semua hal—seperti <a href="http://rumahmimpi.net/2011/07/suatu-pagi-di-bundaran-hi/" target="_blank"><strong>kejadian di Bundaran H</strong><strong>I</strong></a> atau<a href="http://rumahmimpi.net/2011/08/ramadhan-di-jakarta/" target="_blank"> <strong>pengalaman saya berbuka puasa di sejumlah tempat di Jakarta ini</strong></a>.</p>
<p style="text-align: justify;">Waspada pada keburukan tak boleh membuat kita lupa pada kebaikan dan keindahan. Itu prinsip saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 25 Januari 2012</p>
<p style="text-align: justify;">Foto diambil dari <a href="http://www.pelitaonline.com/read/ekonomi-dan-bisnis/nasional/17/4909/h-1-ramadhan-jalanan-jakarta-macet/" target="_blank"><strong>sini</strong></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2012%2F01%2Fbersiaga-di-jalan-jakarta%2F&amp;title=Bersiaga%20di%20Jalan%20Jakarta"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2012/01/bersiaga-di-jalan-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pak Bual</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2012/01/pak-bual/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2012/01/pak-bual/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 15:43:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Pak Bual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=1062</guid>
		<description><![CDATA[Dua tahun lalu, saat datang ke kos-kosan saya di Jakarta, Pak Bual adalah orang yang saya jumpai pertama kali. Kos-kosan itu terdiri dari dua lantai, di mana lantai pertama terdiri dari tiga rumah petak sementara lantai kedua berisi kamar kos berjumlah 12 buah. Siang itu, saya melihat Pak Bual sedang berada di rumah petaknya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1064" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><a rel="attachment wp-att-1064" href="http://rumahmimpi.net/2012/01/pak-bual/lelaki-tua/"><img class="size-full wp-image-1064  " title="Lelaki Tua" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2012/01/Lelaki-Tua.jpg" alt="&quot;Lelaki Tua Beban&quot; karya Basuki Abdullah" width="400" height="287" /></a><p class="wp-caption-text">&quot;Lelaki Tua dan Beban&quot; karya Basuki Abdullah</p></div>
<p style="text-align: justify;">Dua tahun lalu, saat datang ke kos-kosan saya di Jakarta, Pak Bual adalah orang yang saya jumpai pertama kali. Kos-kosan itu terdiri dari dua lantai, di mana lantai pertama terdiri dari tiga rumah petak sementara lantai kedua berisi kamar kos berjumlah 12 buah. Siang itu, saya melihat Pak Bual sedang berada di rumah petaknya yang terletak paling ujung, dekat dengan pagar. Dia sedang menjahit.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya celingak-celinguk sebentar, lalu menyapanya. Ia membalas ramah dan bahkan dengan sukarela membantu saya. Ia yang paling awal memberitahu saya ihwal kos-kosan ini, berapa harga sewanya, bagaimana kondisinya, sudah penuh atau belum, meski jelas bahwa menyampaikan semua informasi itu bukanlah tugasnya. Pak Bual pula yang membantu saya memanggilkan si penjaga kos yang sedang berada di rumah sebelah kepunyaan pemilik kos.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saya sudah sms dia. Duduk dulu aja, Mas,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan saya pun duduk di depan pintu rumah petak itu, memerhatikan aktivitasnya, mesin jahit yang digunakannya, baju-baju dan gambar-gambar model pakaian yang tergeletak di sekitarnya, juga gelas kopinya yang menghitam dan penuh. Saya ingat dia memakai kemeja dan sarung—model pakaian yang selalu ia gunakan saat menjahit dan ngobrol panjang lebar dengan saya pada waktu-waktu yang lebih kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">Siang itu, dalam masa perkenalan kami yang singkat tapi penuh kesan, saya sudah menyadari bahwa dia suka membual. Saya tahu dia sendirian di rumah petak itu karena keluarganya ada di tempat lain. Saya juga tahu dia berasal dari satu kabupaten di Jawa Tengah, entah Kudus atau Pati, tapi saya tak tahu namanya. Sesungguhnya, sampai sekarang saya tak pernah benar-benar tahu namanya. Pak Bual juga tak menanyakan nama saya tapi dia bertanya dari mana asal saya, kerja di mana, kapan mulai merantau ke Jakarta, sudah berkeluarga atau belum.</p>
<p style="text-align: justify;">Kadang-kadang, saya merasa inilah salah satu ciri keramahan khas Jawa: kita bisa berakrab pada siapa saja tanpa tahu nama tapi kita harus tahu asal orang itu atau dia sudah menikah atau belum. Entah kenapa begitu, tapi yang jelas Pak Bual memberitahu saya banyak hal—di mana istrinya tinggal, berapa anaknya dan kerja di mana saja mereka, apa kerja yang sudah pernah dilakoninya, dan banyak lagi, tapi dia tak pernah menjabat tangan saya dan menyebut nama meskipun hanya nama panggilan.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, lebih dari dua tahun kemudian, saya mengenangnya sebagai Pak Bual semata-mata karena, menurut saya, dia suka membual. Dia adalah orang yang gemar ngobrol dan bercerita tentang banyak hal yang tak terhingga dalam durasi yang mungkin tak berbatas. Pada malam hari sesudah saya pulang kerja, Pak Bual sering mengajak saya duduk di rumah petaknya, mengobrol perihal pengalaman-pengalamannya, dalam waktu yang sangat lama. Obrolan itu juga terjadi pada akhir pekan, ketika saya kebetulan tak keluar kos-kosan dan dia tak pulang ke Bogor untuk menengok istrinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Durasi obrolan-obrolan saya dengan Pak Bual, percayalah, bisa sangat lama, dan itu bukan hasil kontribusi kami berdua melainkan semata-mata karena dia. Kadang-kadang kalau saya malas—dan ini sering terjadi—saya hanya menggumamkan satu kata, tersenyum, mengangguk atau menggeleng, untuk menanggapi berondongan ceritanya yang panjang. Bila saya sudah begitu bosan, atau terdesak oleh keperluan yang penting atau mendadak, maka dengan sesopan mungkin saya akan minta diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu terjadi, Pak Bual selalu kelihatan kecewa, berusaha menahan saya, bertanya apakah saya sudah ngantuk atau hendak ke manakah saya, seolah-olah dia adalah orang yang begitu kesepian sehingga orang yang tak begitu dikenalnya ini menjelma jadi teman yang begitu berharga. Kadang saya tak kuasa meninggalkan dia, terjebak oleh tatapannya yang penuh harap, tapi lebih sering saya meninggalkannya begitu saja. Beberapa kali malah dengan terburu-buru.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan cerita-cerita panjangnya ke saya, Pak Bual datang ke Jakarta pada 1980-an, pada tahun ketika saya belum lahir. Saya lupa bagaimana dan kenapa dia bisa merantau tapi saya ingat dia bercerita bahwa pertama kali datang ke Jakarta, ia menginap di masjid di Pasar Tanah Abang. Cerita ini saja sudah menunjukkan betapa keras hidupnya dan cerita-cerita selanjutnya menguatkan kesan bahwa dia punya kehidupan yang penuh warna—atau dia ingin kelihatan begitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Bual mengaku pernah bekerja untuk sejumlah tokoh paling dikenal di Indonesia. Ia menyebut seorang nama petinggi militer di Jakarta pada 1980-an, di mana dia menjadi orang kepercayaan sang pejabat. Dia berkisah, suatu hari, ia naik motor di sekitar Jakarta dan karena melakukan pelanggaran lalu-lintas, seorang polisi mencegatnya. Pak Bual diminta menunjukkan surat-surat dan saat ia memberikan STNK sepeda motor yang dinaikinya, sang polisi melepaskannya begitu saja tanpa memberikan surat tilang. Penyebabnya, di STNK motor itu tertulis nama sang pejabat.</p>
<p style="text-align: justify;">Berkali-kali Pak Bual memuji kebaikan hati si petinggi militer itu, juga menunjukkan betapa sang majikannya itu punya kekuasaan besar di Indonesia masa itu. Pak Bual juga secara rutin dan terus-menerus mengesankan bahwa dia begitu dekat dan sangat dipercayai si petinggi militer tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain orang dekat si petinggi militer, Pak Bual mengaku pernah menjadi orang kepercayaan Mbak Tutut. Ya, itu Tutut yang putri Presiden Soeharto dan pengakuan itu saja sudah menunjukkan betapa dekatnya Pak Bual dengan episentrum kekuasaan saat Orde Baru masih berjaya. Tidak main-main, Pak Bual bercerita bahwa dia pernah menjadi direktur sebuah perusahaan atas suruhan Mbak Tutut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia juga menyatakan pernah memiliki mall di daerah pinggiran Jakarta tapi pusat perbelanjaan itu bangkrut dan hidupnya menjadi sulit. “Mas tahu mall yang itu kan? Itu dulu milik saya,” katanya. Saya menggeleng. Karena masih baru di Jakarta, saya tak bisa mengenali mall mana yang didakunya, dan akibatnya saya tak bisa mengingat nama mall atau lokasinya sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua kisah itu tentu saja fantastis, tapi yang lebih menakjubkan, Pak Bual dengan enteng mengatakan dekat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Pak SBY itu saya dekat, Mas,” katanya. Ketika dia menyampaikan hal itu dengan ekspresi yang tanpa beban, saya hampir seratus persen yakin dia membual dan menjadikan aktivitas itu sebagai hobi. Maka, ketika dia berkisah soal putrinya yang menjadi doktor dan mengajar di universitas ternama, juga putranya yang berhasil membuka bengkel besar, saya tak lagi menganggapnya serius.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejumlah kawan yang sempat berkunjung ke kos dan mendengarkan kisah-kisah Pak Bual juga punya simpulan bahwa orang tua itu hanya membual. Karena kebiasaannya itu, saya menjaga jarak dengan Pak Bual, kadang berprasangka bahwa dia bisa saja berbuat jahat ke saya. Tapi prasangka saya sungguh-sungguh keji dan salah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bilapun dia benar-benar suka berbohong, Pak Bual tetap sepenuhnya orang baik. Dia selalu menghentikan aktivitasnya saat adzan berkumandang, segera menyambar peci putihnya, lalu bergegas menuju mushola di dekat situ. Dia juga sangat baik ke saya. Berkali-kali dia menjamu saya, misalnya dengan membuatkan kopi atau membagi makanan yang dibelinya. Saat handphone satu-satunya yang saya miliki rusak, Pak Bual dengan ringan tangan meminjamkan handphone miliknya supaya saya bisa berkomunikasi dengan keluarga saya di Solo.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Bual juga seorang pekerja keras. Pada usia menjelang 60-an, dia tetap bekerja dengan tekun meski penghasilannya pas-pasan. Usaha jahit kecil-kecilan yang dikerjakannya itu memang bukan miliknya dan dia hanyalah seorang karyawan. Ia juga seorang lelaki tua yang tabah, berssedia tinggal sendirian selama lima hari per minggu, memasak atau membeli makanannya sendiri, juga mencuci semua pakaiannya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, ketika suatu hari saya menyadari dia sudah pindah tanpa saya ketahui sebelumnya, saya merasa kehilangan. Saya tak pernah tahu kenapa dia pindah tapi kemungkinan besar karena usaha jahit di mana dia menjadi karyawan sudah bangkrut. Dia mungkin membangun usaha jahitnya sendiri, atau berganti kerja ke orang lain, tapi saya yakin di suatu tempat yang baru itu dia akan menemukan pendengar baru, kepada siapa dia membagi bualan-bualan paling fantastis yang pernah diciptakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 12 januari 2012</p>
<p style="text-align: justify;">ilustrasi diambil dari <a href="http://seni-hiburan.mitrasites.com/gambar/basoeki-abdullah.html" target="_blank"><span style="color: #993300;">sini</span></a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2012%2F01%2Fpak-bual%2F&amp;title=Pak%20Bual"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2012/01/pak-bual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Debu yang Menanggung Duka</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/12/debu-yang-menanggung-duka/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/12/debu-yang-menanggung-duka/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 04:32:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Albert Camus]]></category>
		<category><![CDATA[goenawan mohamad]]></category>
		<category><![CDATA[Martin Suryajaya]]></category>
		<category><![CDATA[Nietzsche]]></category>
		<category><![CDATA[Sisifus]]></category>
		<category><![CDATA[theodise]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=960</guid>
		<description><![CDATA[
Sesudah lebih dari 70 tahun, Goenawan Mohamad akhirnya menerbitkan sebuah buku utuh untuk kali pertama. Sebelum ini, kita tahu, buku-buku Goenawan selalu berupa kumpulan—kumpulan puisi, kumpulan esai, kumpulan Catatan Pinggir di Majalah Tempo, kumpulan naskah lakon, kumpulan esai setengah jadi, kumpulan kutipan dari esainya, dan, yang paling menggelikan, kumpulan kicauan di Twitter.
Menerbitkan kumpulan tulisan memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_959" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-959" href="http://rumahmimpi.net/2011/12/debu-yang-menanggung-duka/buku-gm/"><img class="size-medium wp-image-959" title="Buku GM" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/12/Buku-GM-300x225.jpg" alt="Buku-buku GM yang terbit tahun 2011" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Buku-buku GM yang terbit tahun 2011</p></div>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="text-align: justify;">Sesudah lebih dari 70 tahun, Goenawan Mohamad akhirnya menerbitkan sebuah buku utuh untuk kali pertama. Sebelum ini, kita tahu, buku-buku Goenawan selalu berupa kumpulan—kumpulan puisi, kumpulan esai, kumpulan Catatan Pinggir di Majalah <em>Tempo</em>, kumpulan naskah lakon, kumpulan esai setengah jadi, kumpulan kutipan dari esainya, dan, yang paling menggelikan, kumpulan kicauan di Twitter.</p>
<p style="text-align: justify;">Menerbitkan kumpulan tulisan memang hobi Goenawan, sebab, seperti yang tersirat dalam esai-esainya, ia tampaknya memiliki alergi yang lumayan akut terhadap segala hal yang utuh dan total. Penolakannya untuk membuat buku yang utuh selama puluhan tahun prosesnya menjadi intelektual barangkali sejalan dengan pemikirannya yang mempunyai prasangka terhadap totalitas satu gagasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita tahu, esai-esai Goenawan seringkali berisi pembelaan yang gigih atas hal-hal kecil, yang berserak, tak beraturan, semacam chaos yang meski kacau tapi mempunyai keindahannya sendiri. Bentuk esai Goenawan yang seringkali lebih mirip rangkaian kutipan pikiran orang lain disertai komentarnya sendiri, bukan sebuah esai dengan argumen yang kukuh dan kokoh, juga menunjukkan kegemaran Goenawan pada ketidakutuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, mereka yang mengikuti Catatan Pinggir sejak bertahun-tahun lalu pasti menyadari, di balik ketidakutuhan itu, tersimpan semacam garis penghubung, semacam konsistensi gagasan yang selalu hadir meski dalam bentuk yang berbeda-beda. Pemikiran Goenawan soal agama dan Tuhan, soal politik dan Marxisme, soal kodrat hidup manusia, misalnya, hampir-hampir konsisten dari tahun ke tahun. Ide-ide itu selalu datang lagi dan lagi di Catatan Pinggir, meski Goenawan akan membungkus ide tersebut dengan kemasan yang berbeda dengan cara mengutip penulis dan buku yang berlainan.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, meski sejak awal Goenawan menyatakan buku <em>Debu, Duka, dsb</em> berisi “catatan bersambung” yang “tak dimaksudkan untuk menyatu padu”, saya tetap ngotot menyebut buku itu sebagai sebuah buku utuh. Diterbitkan tahun ini sebagai bagian dari perayaan 70 tahun Goenawan Mohamad, <em>Debu, Duka, dsb</em> sebenarnya diniatkan untuk berbicara perihal satu pokok saja, yakni theodise.</p>
<p style="text-align: justify;">Theodise adalah terjemahan dari <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Theodicy" target="_blank">theodicy</a></em> dalam bahasa Inggris, yang sebenarnya bermakna semacam pemikiran untuk membuktikan bahwa Tuhan itu berkuasa dan adil dengan sifat-sifat seperti maha penyayang, maha tahu, dan maha kuasa. Berasal dari dua kata, <em>theos</em> yang bermakna Tuhan, dan <em>dike</em> yang berarti keadilan, theodise pertama kali diperkenalkan oleh <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gottfried_Leibniz" target="_blank">Gottfried Leibniz</a>, seorang filsuf Jerman. Inti theodise Leibniz, kata Goenawan, adalah untuk menjawab bagaimana hubungan antara Tuhan yang Maha Penyayang dengan segala kejahatan dan bencana di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam konteks itu, Leibniz membela Tuhan: ia menyatakan bahwa segala macam keburukan di dunia ini terjadi karena alasan yang cukup dari Tuhan. Dalam bahasa lebih gampang, menurut Leibniz, Tuhan selalu punya alasan yang cukup untuk menurunkan keburukan, bencana, dan malapetaka di dunia. Goenawan berbeda pandang dengan Leibniz. Dia tak membela Tuhan dan oleh karenanya, <em>Debu, Duka, dsb</em> diberi subjudul “sebuah pertimbangan antitheodise”.</p>
<p style="text-align: justify;">Buku itu sebenarnya ditulis Goenawan terkait dengan tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004. Saat tsunami terjadi, orang-orang berbondong-bondong mencari penjelasan soal bencana itu, salah satunya dengan bekal agama. Kita kemudian tahu, sejumlah orang menghubungkan bencana itu sebagai bagian dari azab Tuhan karena beberapa waktu sebelum tsunami, konon, ada orang-orang yang melakukan maksiat di Bumi Serambi Makkah itu. Sikap semacam itu adalah sebentuk theodise dan Goenawan menolak hal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Melalui buku ini, Goenawan membangun semacam argumen yang menyangkal theodise dan berupaya memberi penjelasan berbeda mengenai malapetaka dan bencana. Tapi segera saja kita akan tahu, saat melakukan itu, Goenawan akan melintasi jalan yang berliku-liku dengan membahas mengenai hal-ihwal yang mungkin tak berkait langsung dengan theodise. Saat membaca <em>Debu, Duka, dsb</em>, saya justru merasa buku ini merupakan “rangkuman” dari pemikiran Goenawan yang selama ini dikemukakan secara tak utuh lewat pelbagai esainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di buku itu, kita akan menemui “repetisi” dari pelbagai ide Goenawan soal pelbagai hal: tentang Tuhan yang tak bisa direngkuh penuh-seluruh, keadilan yang mustahil, Marxisme yang bisa berarti harapan tapi juga kungkungan, subyek atau sang “Aku” yang cacat dan terikat sejarah, dan sebagainya. Penolakan Goenawan atas theodise tentu saja hadir cukup dominan dalam buku ini meski soal ini bukanlah satu-satunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang pembacaan saya, antitheodise Goenawan sebenarnya berpangkal pada penolakannya atas konsep Tuhan yang pasti dan total. Baginya, Tuhan adalah sosok yang maha transeden, tak bisa dijangkau dengan nalar manusia yang terbatas. Manusia tak bisa mengatakan bahwa tsunami Aceh merupakan azab Tuhan sebab desain Tuhan terhadap semesta itu, bagi Goenawan, tak bisa dijangkau dengan penuh-seluruh. Tuhan dalam pandangan manusia adalah Tuhan yang selalu berada dalam tafsir dan tafsir itu selalu terbuka untuk gagal.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut saya, melalui antitheodisenya, Goenawan bukan hanya menolak konsep Tuhan ala Leibniz tapi juga menolak segala upaya untuk mengonsepkan Tuhan secara pasti dan total, sebuah upaya membentuk konsep yang tak mengakui ada celah untuk salah. Konsep Tuhan yang utuh itu, bagi Goenawan, hanyalah berhala.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski antitheodise Goenawan cukup mewarnai <em>Debu, Duka, dsb,</em> tapi ide paling besar (frasa “ide paling besar” sendiri sebenarnya tak mungkin disukai Goenawan) yang dibawa Goenawan, menurut saya, adalah perihal takdir manusia. Maka, <em>Debu, Duka, dsb</em> yang seharusnya berbicara perihal Tuhan itu justru lebih banyak bicara soal manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pandangan Goenawan, Tuhan memang tak lepas dari manusia. Semua pembicaraan perihal Tuhan selalu datang dari kaca mata manusia dan di sini kita akan menemui ambiguitas yang paling digemari Goenawan: bagaimana mungkin Tuhan yang transeden dan tak terjangkau itu bisa diringkus dalam pengertian ala manusia yang terbatas, sempit, dan daif? Bila Tuhan tak bisa dipahami dengan sungguh-sungguh, lalu bagaimana manusia harus menjelaskan dunia dan takdirnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Manusia butuh kepastian untuk memahami dunianya tapi bagaimana bila kepastian itu—pengertian tentang Tuhan, juga keadilan—tak pernah benar-benar ada? Bagaimana bila manusia harus menanggung penderitaan tanpa sebuah dasar yang pasti? Ini pertanyaan-pertanyaan favorit Goenawan dan untuk menjawabnya, ia pasti akan mengutip <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Albert_Camus" target="_blank">Albert Camus</a> atau <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Nietzsche" target="_blank">Nietzshce</a>. Goenawan sangat menggemari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mitos_Sisifus" target="_blank">mitologi Sisifus</a> yang pernah ditafsirkan Camus dengan nuansa absurdisme yang kental. Sisifus dalam tafsir Camus, bisa jadi, adalah model yang paling disukai Goenawan untuk menggambarkan manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sisifus yang dihukum membawa batu ke puncak gunung oleh para dewa itu, kita tahu, adalah terpidana seumur hidup. Tiap kali batu yang dipanggulnya sampai ke puncak bukit, batu tersebut akan turun lagi dari bawah dan Sisifus harus membawanya naik kembali. Lalu batu itu turun lagi dan Sisifus membawanya naik. Dalam tafsir Camus, kita tahu, akhirnya Sisifus justru berhasil mengatasi hukuman itu—bukan dalam pengertian ia berhasil lepas dari hukuman itu tapi ia berhasil <em>menerima</em> hukuman itu sebagai takdirnya. Dalam konteks itu, hukuman itu tak lagi hukuman. Ia takdir yang diterima dengan kepala tegak.</p>
<p style="text-align: justify;">Goenawan sangat menyukai Sisifus yang menerima takdir itu. Baginya, meski manusia ada di dunia yang penuh malapetaka, manusia bisa tetap bahagia dengan menerima takdir tersebut. Dalam konteks ini, Goenawan juga menyukai Nietzsche yang menganjurkan penerimaan atas hidup bahkan jika hidup itu suatu siklus yang selalu berulang kembali secara sama persis.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi dalam kaitan dengan ini, Goenawan akan tak disukai oleh para pemikir Marxis. Sebab, hasil akhir dari penerimaan takdir manusia itu adalah status quo, di mana si tertindas menjadi bahagia bukan karena berhasil menghapuskan penindasan tapi karena si tertindas menerima penindasan itu sebagai takdirnya. Emansipasi, salah satu kata kunci dalam Marxisme, adalah kata yang dicurigai Goenawan: dalam emansipasi memang bisa ada pembebasan tapi dalam tiap emansipasi yang membutuhkan keutuhan total, bisa terjadi pula penindasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah kenapa Martin Suryajaya, salah satu pemikir muda di Indonesia yang gemilang, <a href="http://indoprogress.com/2011/07/26/kritik-dan-emansipasi-kontribusi-bagi-pendasaran-epistemologi-politik-kiri/" target="_blank">mengkritik habis tata bangunan pikir Goenawan soal emansipasi ini</a>. Bagi Martin, akibat terakhir dari logika pikir Goenawan adalah tak perlu ada emansipasi. Sisifus tak perlu melawan dewa-dewa, ia cukup menerima takdirnya. Masalahnya adalah, Goenawan bukan cuma pemikir yang melamun. Dia juga aktivis dan kita tahu selama Orde Baru dia melawan. Dia melakukan emansipasi—sembari, saya bayangkan, ia terus mencurigai proses emansipasi yang dilakukannya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Goenawan juga memihak secara politik ketika dia berpihak pada Boediono dalam Pemilu 2009, juga ketika ia membela Sri Mulyani dalam kasus Bank Century. Artinya, dia tak berpangku tangan meski kita bisa sangat tak sependapat dengan pemihakannya tersebut. Lagipula, dalam mitologi Sisifus, tak ada yang bisa dilakukan lagi oleh Sisifus: ia tak mungkin melawan para dewa. Artinya, hukuman itu memang takdir yang tak bisa diubah.</p>
<p style="text-align: justify;">Melalui Sisifus dalam tafsir Camus, Goenawan, menurut saya, bukannya ingin mengatakan manusia tak bisa melakukan apa-apa buat mencegah keburukan. Bagi saya, Goenawan hanya menyatakan: manusia itu daif dan terbatas sehingga semua upaya yang dilakukannya mungkin tak pernah benar-benar bisa mengubah dunia menjadi surga. Dunia tetap akan penuh dengan malapetaka tapi bukan berarti manusia harus muram menerima itu. Manusia tetap bisa bahagia walau hidup dalam dunia semacam itu, dengan cara menerima takdir tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi sekali lagi: menerima takdir bahwa dunia tak bisa jadi surga bukan berarti berpangku tangan. Perjuangan tetap perlu. Di alam semesta, manusia memang hanya setitik debu yang menanggungkan duka, tapi bukan berarti debu itu tak bisa mengubah apa-apa dan tak perlu melakukan apa-apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 29 Desember 2011</p>
<p style="text-align: justify;">Haris Firdaus</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F12%2Fdebu-yang-menanggung-duka%2F&amp;title=Debu%20yang%20Menanggung%20Duka"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/12/debu-yang-menanggung-duka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harapan dan Momentum Mesuji</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/12/harapan-dan-momentum-mesuji/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/12/harapan-dan-momentum-mesuji/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 17:40:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[konflik agraria]]></category>
		<category><![CDATA[Mesuji]]></category>
		<category><![CDATA[Saurip Kadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=878</guid>
		<description><![CDATA[

Pekan lalu, dari Jumat sampai Minggu, saya mengunjungi wilayah Mesuji yang masuk dalam dua provinsi, Lampung dan Sumatra Selatan, untuk meliput seputar konflik di sana. Sejak awal, niatan saya tidak pernah muluk-muluk: saya hanya ingin mendapatkan gambaran nyata perihal konflik itu, dengan validitas yang bisa dipertanggungjwabkan. Ini kelihatannya merupakan soal sederhana, tapi dalam konflik di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-889" href="http://rumahmimpi.net/2011/12/harapan-dan-momentum-mesuji/register-45/"><img class="aligncenter size-full wp-image-889" title="Register 45" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/12/Register-45.jpg" alt="Register 45" width="496" height="283" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Pekan lalu, dari Jumat sampai Minggu, saya mengunjungi wilayah Mesuji yang masuk dalam dua provinsi, Lampung dan Sumatra Selatan, untuk meliput seputar konflik di sana. Sejak awal, niatan saya tidak pernah muluk-muluk: saya hanya ingin mendapatkan gambaran nyata perihal konflik itu, dengan validitas yang bisa dipertanggungjwabkan. Ini kelihatannya merupakan soal sederhana, tapi dalam konflik di Mesuji, sejak awal kita semua menyadari bahwa ada kesulitan untuk memahami fakta-fakta yang sesungguhnya sangat sederhana.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketidakpahaman orang bahwa Mesuji ada di dua provinsi, misalnya, terjadi cukup lama. Juga catatan perihal korban meninggal 30 orang yang diulang-ulang cukup lama. Media massa Jakarta, pada hari-hari awal, melaporkan kasus ini dengan sangat tidak komprehensif, terpotong-potong, dan penuh distorsi informasi. Saya bersyukur ditugaskan ke Mesuji, meski penugasan itu mendadak, dan saya terjun ke lapangan dengan peta konflik yang masih buram.</p>
<p style="text-align: justify;">Menyadari ketidakpahaman saya itu, sejak awal saya menghubungi sejumlah kawan LSM bidang agraria supaya bisa mendapat informasi awal sebagai panduan, juga supaya saya bisa mendapat kontak orang-orang di lapangan yang bisa membantu liputaan saya. Ketika sampai di lapangan, saya baru menyadari kenapa begitu banyak distorsi informasi terjadi soal Mesuji. Penyebab pertama adalah jauhnya jarak Mesuji dengan Jakarta dan susahnya medan untuk mencapai wilayah konflik di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Soal kedua adalah banyaknya wilayah yang mempunyai konflik di Mesuji. Kini, kita tahu, ada tiga konflik besar di Mesuji. Yang pertama terjadi di Desa Sungai Sodong, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), di mana masyarakat berkonflik soal kerja sama pembangunan kebun plasma kelapa sawit dengan dua perusahaan: PT Treekreasi Margamulia dengan PT Sumber Wangi Alam. Konflik inilah yang memakan korban tujuh orang, masing-masing dua warga dan lima orang di pihak PT Sumber Wangi Alam. Dua sekuriti perusahaan, kita tahu, dipenggal kepalanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Konflik kedua terjadi di tiga desa di Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung, yakni Desa Sri Tanjung, Kagungan Dalam, dan Nipahkuning. Warga tiga desa itu berkonflik dengan PT Barat Selatan Makmur Investindo dan PT Lampung Interpretiwi, lagi-lagi soal kerja sama pembangunan kebun plasma kelapa sawit. Satu orang warga meninggal karena ditembak aparat kepolisian.</p>
<p style="text-align: justify;">Konflik ketiga terjadi di wilayah yang akrab disebut sebagai Register 45 di Kabupaten Mesuji. Ini konflik yang paling rumit. Intinya, warga di beberapa desa berebut lahan hutan dengan PT Silva Inhutani Lampung. Konflik ini terjadi karena warga merasa tanah mereka diserobot oleh PT Silva. Penyerobotan ini terjadi ketika PT Silva mendapat tambahan wilayah hutan untuk dikelola menjadi hutan industri.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, masih ada konflik antara warga pendatang yang masuk menduduki lahan yang diklaim milik PT Silva. Sampai sekarang, saya belum mengetahui secara persis ada berapa desa atau wilayah yang punya konflik dengan PT Silva karena luasnya areal Register 45 itu. Yang jelas, selama tahun ini, terjadi beberapa kali penggusuran di Register 45 dengan korban meninggal satu orang karena luka tembak. Akibat penggusuran ini, ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan ladang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari gambaran sekilas itu, jelas bahwa konflik di Mesuji sangat kompleks. Kondisi ini diperparah dengan rentang waktu terjadinya konflik yang sangat lama, juga video kekerasan yang ternyata merupakan kompilasi dari pelbagai kejadian, termasuk kejadian di Pattani, Thailand.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, ketika kasus ini mencuat di Komisi III DPR, sebenarnya tak jelas pihak-pihak yang melaporkan kasus ini mewakili siapa. Sepanjang hasil verifikasi saya di lapangan, Lembaga Adat Megou Pak, yang membawa kasus ini ke Komisi III, sebenarnya hanya merepresentasikan warga di Register 45 dan itu pun tidak secara keseluruhan. Warga Sungai Sondong, juga Sri Tanjung dan kawan-kawan, tidak mempunyai hubungan apapun dengan lembaga adat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Turut campurnya orang-orang semacam <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Saurip_Kadi" target="_blank">Saurip Kadi</a> dalam masalah ini juga menimbulkan pelbagai analisis. Situs <a href="http://petapolitik.com/news/merapat-ke-partai-golkar-jejak-politik-mayjend-purn-saurip-kadi-1/" target="_blank">petapolitik.com</a>, misalnya, membuat analisis panjang yang berkesimpulan Saurip Kadi punya motif politik saat mengangkat kasus ini. Saurip Kadi, kata petapolitik.com, diduga dekat dengan Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie dan ekspos besar-besaran kasus Mesuji berkaitan dengan kepentingan Golkar untuk melemahkan citra pemerintahan SBY-Boediono.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tidak tahu persis sejauh mana kebenaran analisis soal Saurip Kadi dan Golkar itu. Tapi, bila pun itu benar, saya kira ini tidak terlalu masalah. Bagaimanapun, harus diakui, dengan ikut campurnya beberapa tokoh itu justru membuat kasus Mesuji yang sebenarnya sudah lama terjadi tapi tak pernah terekspos besar-besaran bisa mencuri perhatian publik luas. Kini media-media Jakarta berlomba mengirim wartawan ke sana dan berebut menyajikan berita-berita eksklusif.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya berpandangan, sesudah detail konflik lapangan jelas, kini saatnya kita memilih fokus. Lupakan “bunga-bunga” dalam kasus ini, seperti keaslian video dan keterlibatan Saurip Kadi atau Golkar, dan mari berfokus menyelesaikan konflik lahan di sana. Ya, konflik lahan yang harus diselesaikan, bukan sekadar memproses hukum para pelaku pembunuhan. Dalam konteks ini, media massa harusnya didorong tidak hanya terus-menerus bercerita soal aksi pembunuhan dengan pemenggalan kepala dan perusakan pabrik, tapi juga soal konflik lahan di wilayah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tahu, kasus konflik lahan memang kalah seksi daripada pembunuhan sadis dengan memenggal kepala. Saya juga tahu, yang membuat heboh kasus ini adalah soal rekaman kepala yang dipenggal. Tapi, menyoal itu terus-menerus tak menyelesaikan masalah. Konflik agraria adalah sumber masalah, dan masalah ini terjadi puluhan tahun sehingga efek dari konflik itu bisa sangat besar. Yang penting dicatat: konflik lahan itu harus diselesaikan sekarang, saat momentum konflik Mesuji ini belum lewat, dan media massa masih memberi perhatian besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Tim gabungan bentukan pemerintah, oleh karenanya, tidak hanya harus mencari fakta, tapi juga menyelesaikan akar masalah. Tim itu harus menerobos kewenangan birokrasi daerah dan pusat yang selama ini tumpul mencari solusi konflik agraria di Mesuji. Semua itu mesti dilakukan sekarang, ketika momentum terangkatnya kasus ini belum lewat.</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Saya menulis esai yang berapi-api ini semata-mata karena saya merasa <em>terlibat</em> dengan Mesuji, meski jelas saya tak tahu sangat banyak soal konflik di sana. Saya memutuskan menulis ini pada tengah malam ketika saya terus teringat pertanyaan seorang pria yang turut mengadvokasi kasus sengketa lahan di Sungai Sodong.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu petang, sambil menonton televisi yang terus menayangkan konflik Mesuji, pria itu, yang menjadi pemandu saya meliput ke Sungai Sodong, bertanya: “Kalau media memberitakan kasus ini secara besar-besaran gini, kira-kira apakah konflik lahan ini akan selesai ya, Mas?” Saya diam mendengar pertanyaan itu, tapi kemudian memberi jawaban yang bernada optimis. Padahal sebenarnya saya tidak yakin. Saya sedih sekali bila teringat pertanyaan itu. Sangat sedih.</p>
<p style="text-align: justify;">Sama sedihnya ketika saya teringat Keis, perempuan 22 tahun beranak satu, yang rumah dan ladangnya di Register 45 digusur paksa. Saya menemuinya di pengungsian, sedang memandikan anaknya yang masih balita di dalam sebuah ember hitam berukuran kecil. Keis berkeluh kesah dengan suara keras, meski saya tak memintanya, tentang bagaimana dia meninggalkan kampungnya di Jawa Barat bersama suami dan anaknya, lalu pindah ke Mesuji karena tergiur tanah yang berharga murah. “Kalau bisa menangis, kami akan nangis, Mas. Tapi air mata kami sudah susut,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka yang membaca tulisan ini mungkin akan menganggap kisah Keis sebagai klise belaka, tapi saya ada di sana, menatap wajahnya, melihat matanya yang tak punya harapan, juga anak balitanya yang masa depannya tak jelas. Percayalah, kesedihan yang timbul akibat pengalaman fisik jauh lebih menyiksa daripada kesedihan akibat membaca berita paling dramatis sekalipun, dan itulah yang saya rasakan hingga sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya juga sedih ketika ingat perkataan seorang tokoh masyarakat di Desa Sri Tanjung yang menyebut para wartawan dari Jakarta yang meliput konflik di sana sebagai “prajurit yang dikirimkan Allah”. Dia mengatakan itu kepada seorang keluarga korban yang masih trauma dan belum mau terbuka saat saya wawancarai. “Nggak usah takut, mereka ini prajurit yang dikirimkan Allah untuk membantu kita semua,” kata si tokoh itu sambil menunjuk saya dan kawan fotografer saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya bergetar hebat saat mendengar perkataan itu karena menyadari betapa besarnya harapan mereka pada media massa, atau pada momentum yang sekarang terjadi berkait kasus Mesuji. Saya tak bisa membayangkan saat momentum itu kemudian lewat, ketika media tak lagi memberi porsi besar pada kasus ini, dan para warga di Mesuji dibiarkan lagi sendiri dan ketakutan menghadapi perusahaan besar yang dibekingi aparat keamanan. Saya tak bisa dan tak ingin membayangkan itu terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 22 Desember 2011</p>
<p style="text-align: justify;">Haris Firdaus</p>
<p style="text-align: justify;">foto diambil dari <a href="http://www.tempo.co/read/news/2011/12/20/063372818/Mantan-Kapolda-Lampung-Dikeluarkan-dari-TPF-Mesuji" target="_blank">Tempo.co</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F12%2Fharapan-dan-momentum-mesuji%2F&amp;title=Harapan%20dan%20Momentum%20Mesuji"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/12/harapan-dan-momentum-mesuji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tugas Sedih Sondang Hutagalung</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/12/tugas-sedih-sondang-hutagalung/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/12/tugas-sedih-sondang-hutagalung/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 12:16:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Bendera]]></category>
		<category><![CDATA[ICW]]></category>
		<category><![CDATA[KontraS]]></category>
		<category><![CDATA[Petisi 28]]></category>
		<category><![CDATA[Sondang Hutagalung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=868</guid>
		<description><![CDATA[

Seorang pejuang tidak hanya dihargai dari hasil yang dicapainya, tapi juga dari niatan awalnya. Dengan keyakinan semacam itulah saya ingin menyampaikan rasa salut dan hormat untuk Sondang Hutagalung, mahasiswa Universitas Bung Karno, Jakarta, yang membakar diri di depan Istana Merdeka pada Rabu, 7 Desember lalu, demi meneriakkan sebuah protes.
Kita tidak pernah benar-benar mengetahui motivasi Sondang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;"><a rel="attachment wp-att-892" href="http://rumahmimpi.net/2011/12/tugas-sedih-sondang-hutagalung/sondang-hutagalung/"><img class="aligncenter size-full wp-image-892" title="Sondang Hutagalung" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/12/Sondang-Hutagalung.jpg" alt="Sondang Hutagalung" width="375" height="282" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Seorang pejuang tidak hanya dihargai dari hasil yang dicapainya, tapi juga dari niatan awalnya. Dengan keyakinan semacam itulah saya ingin menyampaikan rasa salut dan hormat untuk Sondang Hutagalung, mahasiswa Universitas Bung Karno, Jakarta, yang membakar diri di depan Istana Merdeka pada Rabu, 7 Desember lalu, demi meneriakkan sebuah protes.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita tidak pernah benar-benar mengetahui motivasi Sondang karena belum ada surat wasiat yang ditemukan atas namanya tapi kita semua menerka-nerka Sondang memilih jadi martir untuk membuat sebuah perubahan. Tapi perubahan yang semacam apa? Konon, sebelum membakar diri, Sondang berteriak, “Turunkan SBY!” Dari sini, barangkali, kita bisa menebak bahwa Sondang ada dalam barisan aktivis yang tidak puas dengan kinerja pemerintah SBY-Boediono dan berharap terjadi sebuah perubahan radikal sebelum Pemilu 2014.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila benar Sondang ada dalam barisan aktivis yang berpikiran seperti itu, maka dengan segala hormat, saya harus menyatakan bahwa saya tak sepakat dengan dia. Saya tidak sedang memosisikan diri sebagai pembela dari pemerintah. Saya hanya ingin menjadi seorang yang realistis. Betapapun banyak masalah yang kita hadapi sekarang, betapapun jeleknya kinerja pemerintah di beberapa bidang, kita harus mengakui bahwa membubarkan pemerintahan ini di tengah jalan tak akan menyelesaikan semua masalah.</p>
<p style="text-align: justify;">Alih-alih menyelesaikan semua masalah, pembubaran pemerintah justru menimbulkan segudang masalah baru. Revolusi, apa boleh buat, tidak akan otomatis menyelesaikan masalah di Indonesia. Saya percaya, demokrasi di Indonesia yang ada sekarang sudah cukup baik karena setidaknya kita punya kebebasan berpendapat yang sangat luas meski sistem representasi politik memang belum berkorelasi positif dengan terwakilinya kepentingan rakyat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita semua memahami Indonesia punya banyak masalah dan beberapa di antara kita lalu berimajinasi tentang sebuah perubahan radikal, perubahan total, semacam perubahan besar yang bisa menyelesaikan semua masalah. Revolusi di beberapa negara Timur Tengah menguatkan imajinasi tersebut dan dengan gagah beberapa aktivis menggalang demonstrasi untuk menurunkan SBY-Boediono. Hasilnya, tidak ada apa-apa. Legitimasi SBY-Boediono juga tidak tergerus banyak akibat demonstrasi yang digerakkan oleh massa bayaran itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain konteks sosial Indonesia yang berbeda, yang tidak dalam posisi siap melakukan perubahan radikal, revolusi ala negara-negara Timur Tengah terbukti tak menyelesaikan semua masalah. Pertikaian politik di Mesir dan Libya paska turunnya Husni Mubarok dan Muammar Qadhafi sudah cukup menjadi bukti bahwa revolusi juga terus menyisakan pekerjaan rumah yang tak mudah.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, dalam negara seperti Indonesia yang kondisinya lumayan demokratis, saya berpendapat perubahan sektoral dan setahap demi setahap jauh lebih penting dan berguna. Maksud saya, tidak perlulah SBY-Boediono diturunkan tapi mari berkonsentrasi pada masalah-masalah khusus di pelbagai bidang, seperti hukum, ekonomi, politik, dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang pengamatan saya sebagai wartawan, perbaikan-perbaikan yang terjadi di Indonesia sesudah reformasi merupakan perbaikan yang sifatnya sektoral dan dilakukan sedikit demi sedikit. Tidak radikal. Dibandingkan dengan tuntutan-tuntutan yang sifatnya umum, semacam “Kembali ke Pancasila dan UUD 1945” dan “Turunkan SBY dan Boediono”, dari beberapa kelompok, seperti Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) dan Petisi 28, maka siaran-siaran pers dari Indonesia Corruption Watch (ICW) atau KontraS jauh lebih bergema dan berkontribusi positif.</p>
<p style="text-align: justify;">Riset, investigasi, dan komentar-komentar aktivis ICW dan KontraS di media massa jauh lebih jelas efeknya daripada demonstrasi-demonstrasi Bendera dan Petisi 28. Media massa juga lebih suka pada isu-isu yang sifatnya khusus, tidak abstrak, dan punya efek langsung, daripada sekadar seruan kuno seperti “Mari Kembali ke Konstitusi”. Riset ICW soal rekening gendut Polri, komentar-komentar mereka mengenai kasus Muhammad Nazaruddin dan Nunun Nurbaeti, jelas lebih menyumbang lebih banyak perbaikan daripada demonstrasi yang paling ricuh sekalipun.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan semua argumentasi itulah saya harus menyatakan berbeda pandangan dengan Sondang Hutagalung. Tapi barangkali, aksi bakar diri yang dilakukannya itu tidak harus dipandang sebagai sebuah tindakan yang menghendaki perubahan total. Mungkin Sondang juga tidak pernah berharap akan ada revolusi sesudah dia membakar dirinya. Kenyatannya, kita tahu, memang tidak ada revolusi sesudah Sondang meninggal pada Sabtu, 10 Desember lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya, aksi Sondang itu juga bisa dipandang sebagai bagian dari perubahan bertahap yang harus terus kita perjuangkan. Barangkali, kita juga membutuhkan aksi dengan daya kejut seperti itu, untuk mengingatkan bahwa masalah masih ada dan kita semua harus terus menerus berupaya. Semampu kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Seandainya Sondang tidak memilih membakar diri, dan memilih terus berjuang di Himpunan Advokasi dan Studi Marhaenis Muda untuk Rakyat Bangsa Indonesia (Hammurabi) yang diketuainya, saya kira, dia akan tetap menjadi pejuang. Dia akan tetap punya kontribusi. Tapi Sondang sudah memilih. Dia memilih peran sebagai martir. Kita mesti menghargai keberanian itu meski dengan sedih harus mengakui: kematiannya tak pernah menyulut sebuah perubahan yang benar-benar radikal.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kesadaran itu, bahwa kematian Sondang ternyata tak menghasilkan perubahan radikal, saya tak sedang mengecilkan perannya tapi justru ingin menambahkan rasa salut untuknya. Sebab, dengan kondisi semacam itu, tugas sedih yang dipilih Sondang itu benar-benar menjelma menjadi tugas yang sangat sedih.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 11 Desember 2011</p>
<p style="text-align: justify;">Haris Firdaus</p>
<p style="text-align: justify;">foto diambil dari <a href="http://www.detiknews.com/read/2011/12/12/141332/1788989/1148/media-israel-juga-beritakan-aksi-bakar-diri-sondang-di-depan-istana" target="_blank">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F12%2Ftugas-sedih-sondang-hutagalung%2F&amp;title=Tugas%20Sedih%20Sondang%20Hutagalung"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/12/tugas-sedih-sondang-hutagalung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

