<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Mimpi &#187; Buku</title>
	<atom:link href="http://rumahmimpi.net/category/buku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahmimpi.net</link>
	<description>mimpi adalah semangat. dan perlu sebuah rumah buat menampungnya.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 09:26:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Debu yang Menanggung Duka</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/12/debu-yang-menanggung-duka/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/12/debu-yang-menanggung-duka/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 04:32:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Albert Camus]]></category>
		<category><![CDATA[goenawan mohamad]]></category>
		<category><![CDATA[Martin Suryajaya]]></category>
		<category><![CDATA[Nietzsche]]></category>
		<category><![CDATA[Sisifus]]></category>
		<category><![CDATA[theodise]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=960</guid>
		<description><![CDATA[
Sesudah lebih dari 70 tahun, Goenawan Mohamad akhirnya menerbitkan sebuah buku utuh untuk kali pertama. Sebelum ini, kita tahu, buku-buku Goenawan selalu berupa kumpulan—kumpulan puisi, kumpulan esai, kumpulan Catatan Pinggir di Majalah Tempo, kumpulan naskah lakon, kumpulan esai setengah jadi, kumpulan kutipan dari esainya, dan, yang paling menggelikan, kumpulan kicauan di Twitter.
Menerbitkan kumpulan tulisan memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_959" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-959" href="http://rumahmimpi.net/2011/12/debu-yang-menanggung-duka/buku-gm/"><img class="size-medium wp-image-959" title="Buku GM" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/12/Buku-GM-300x225.jpg" alt="Buku-buku GM yang terbit tahun 2011" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Buku-buku GM yang terbit tahun 2011</p></div>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="text-align: justify;">Sesudah lebih dari 70 tahun, Goenawan Mohamad akhirnya menerbitkan sebuah buku utuh untuk kali pertama. Sebelum ini, kita tahu, buku-buku Goenawan selalu berupa kumpulan—kumpulan puisi, kumpulan esai, kumpulan Catatan Pinggir di Majalah <em>Tempo</em>, kumpulan naskah lakon, kumpulan esai setengah jadi, kumpulan kutipan dari esainya, dan, yang paling menggelikan, kumpulan kicauan di Twitter.</p>
<p style="text-align: justify;">Menerbitkan kumpulan tulisan memang hobi Goenawan, sebab, seperti yang tersirat dalam esai-esainya, ia tampaknya memiliki alergi yang lumayan akut terhadap segala hal yang utuh dan total. Penolakannya untuk membuat buku yang utuh selama puluhan tahun prosesnya menjadi intelektual barangkali sejalan dengan pemikirannya yang mempunyai prasangka terhadap totalitas satu gagasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita tahu, esai-esai Goenawan seringkali berisi pembelaan yang gigih atas hal-hal kecil, yang berserak, tak beraturan, semacam chaos yang meski kacau tapi mempunyai keindahannya sendiri. Bentuk esai Goenawan yang seringkali lebih mirip rangkaian kutipan pikiran orang lain disertai komentarnya sendiri, bukan sebuah esai dengan argumen yang kukuh dan kokoh, juga menunjukkan kegemaran Goenawan pada ketidakutuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, mereka yang mengikuti Catatan Pinggir sejak bertahun-tahun lalu pasti menyadari, di balik ketidakutuhan itu, tersimpan semacam garis penghubung, semacam konsistensi gagasan yang selalu hadir meski dalam bentuk yang berbeda-beda. Pemikiran Goenawan soal agama dan Tuhan, soal politik dan Marxisme, soal kodrat hidup manusia, misalnya, hampir-hampir konsisten dari tahun ke tahun. Ide-ide itu selalu datang lagi dan lagi di Catatan Pinggir, meski Goenawan akan membungkus ide tersebut dengan kemasan yang berbeda dengan cara mengutip penulis dan buku yang berlainan.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, meski sejak awal Goenawan menyatakan buku <em>Debu, Duka, dsb</em> berisi “catatan bersambung” yang “tak dimaksudkan untuk menyatu padu”, saya tetap ngotot menyebut buku itu sebagai sebuah buku utuh. Diterbitkan tahun ini sebagai bagian dari perayaan 70 tahun Goenawan Mohamad, <em>Debu, Duka, dsb</em> sebenarnya diniatkan untuk berbicara perihal satu pokok saja, yakni theodise.</p>
<p style="text-align: justify;">Theodise adalah terjemahan dari <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Theodicy" target="_blank">theodicy</a></em> dalam bahasa Inggris, yang sebenarnya bermakna semacam pemikiran untuk membuktikan bahwa Tuhan itu berkuasa dan adil dengan sifat-sifat seperti maha penyayang, maha tahu, dan maha kuasa. Berasal dari dua kata, <em>theos</em> yang bermakna Tuhan, dan <em>dike</em> yang berarti keadilan, theodise pertama kali diperkenalkan oleh <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gottfried_Leibniz" target="_blank">Gottfried Leibniz</a>, seorang filsuf Jerman. Inti theodise Leibniz, kata Goenawan, adalah untuk menjawab bagaimana hubungan antara Tuhan yang Maha Penyayang dengan segala kejahatan dan bencana di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam konteks itu, Leibniz membela Tuhan: ia menyatakan bahwa segala macam keburukan di dunia ini terjadi karena alasan yang cukup dari Tuhan. Dalam bahasa lebih gampang, menurut Leibniz, Tuhan selalu punya alasan yang cukup untuk menurunkan keburukan, bencana, dan malapetaka di dunia. Goenawan berbeda pandang dengan Leibniz. Dia tak membela Tuhan dan oleh karenanya, <em>Debu, Duka, dsb</em> diberi subjudul “sebuah pertimbangan antitheodise”.</p>
<p style="text-align: justify;">Buku itu sebenarnya ditulis Goenawan terkait dengan tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004. Saat tsunami terjadi, orang-orang berbondong-bondong mencari penjelasan soal bencana itu, salah satunya dengan bekal agama. Kita kemudian tahu, sejumlah orang menghubungkan bencana itu sebagai bagian dari azab Tuhan karena beberapa waktu sebelum tsunami, konon, ada orang-orang yang melakukan maksiat di Bumi Serambi Makkah itu. Sikap semacam itu adalah sebentuk theodise dan Goenawan menolak hal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Melalui buku ini, Goenawan membangun semacam argumen yang menyangkal theodise dan berupaya memberi penjelasan berbeda mengenai malapetaka dan bencana. Tapi segera saja kita akan tahu, saat melakukan itu, Goenawan akan melintasi jalan yang berliku-liku dengan membahas mengenai hal-ihwal yang mungkin tak berkait langsung dengan theodise. Saat membaca <em>Debu, Duka, dsb</em>, saya justru merasa buku ini merupakan “rangkuman” dari pemikiran Goenawan yang selama ini dikemukakan secara tak utuh lewat pelbagai esainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di buku itu, kita akan menemui “repetisi” dari pelbagai ide Goenawan soal pelbagai hal: tentang Tuhan yang tak bisa direngkuh penuh-seluruh, keadilan yang mustahil, Marxisme yang bisa berarti harapan tapi juga kungkungan, subyek atau sang “Aku” yang cacat dan terikat sejarah, dan sebagainya. Penolakan Goenawan atas theodise tentu saja hadir cukup dominan dalam buku ini meski soal ini bukanlah satu-satunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang pembacaan saya, antitheodise Goenawan sebenarnya berpangkal pada penolakannya atas konsep Tuhan yang pasti dan total. Baginya, Tuhan adalah sosok yang maha transeden, tak bisa dijangkau dengan nalar manusia yang terbatas. Manusia tak bisa mengatakan bahwa tsunami Aceh merupakan azab Tuhan sebab desain Tuhan terhadap semesta itu, bagi Goenawan, tak bisa dijangkau dengan penuh-seluruh. Tuhan dalam pandangan manusia adalah Tuhan yang selalu berada dalam tafsir dan tafsir itu selalu terbuka untuk gagal.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut saya, melalui antitheodisenya, Goenawan bukan hanya menolak konsep Tuhan ala Leibniz tapi juga menolak segala upaya untuk mengonsepkan Tuhan secara pasti dan total, sebuah upaya membentuk konsep yang tak mengakui ada celah untuk salah. Konsep Tuhan yang utuh itu, bagi Goenawan, hanyalah berhala.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski antitheodise Goenawan cukup mewarnai <em>Debu, Duka, dsb,</em> tapi ide paling besar (frasa “ide paling besar” sendiri sebenarnya tak mungkin disukai Goenawan) yang dibawa Goenawan, menurut saya, adalah perihal takdir manusia. Maka, <em>Debu, Duka, dsb</em> yang seharusnya berbicara perihal Tuhan itu justru lebih banyak bicara soal manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pandangan Goenawan, Tuhan memang tak lepas dari manusia. Semua pembicaraan perihal Tuhan selalu datang dari kaca mata manusia dan di sini kita akan menemui ambiguitas yang paling digemari Goenawan: bagaimana mungkin Tuhan yang transeden dan tak terjangkau itu bisa diringkus dalam pengertian ala manusia yang terbatas, sempit, dan daif? Bila Tuhan tak bisa dipahami dengan sungguh-sungguh, lalu bagaimana manusia harus menjelaskan dunia dan takdirnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Manusia butuh kepastian untuk memahami dunianya tapi bagaimana bila kepastian itu—pengertian tentang Tuhan, juga keadilan—tak pernah benar-benar ada? Bagaimana bila manusia harus menanggung penderitaan tanpa sebuah dasar yang pasti? Ini pertanyaan-pertanyaan favorit Goenawan dan untuk menjawabnya, ia pasti akan mengutip <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Albert_Camus" target="_blank">Albert Camus</a> atau <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Nietzsche" target="_blank">Nietzshce</a>. Goenawan sangat menggemari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mitos_Sisifus" target="_blank">mitologi Sisifus</a> yang pernah ditafsirkan Camus dengan nuansa absurdisme yang kental. Sisifus dalam tafsir Camus, bisa jadi, adalah model yang paling disukai Goenawan untuk menggambarkan manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sisifus yang dihukum membawa batu ke puncak gunung oleh para dewa itu, kita tahu, adalah terpidana seumur hidup. Tiap kali batu yang dipanggulnya sampai ke puncak bukit, batu tersebut akan turun lagi dari bawah dan Sisifus harus membawanya naik kembali. Lalu batu itu turun lagi dan Sisifus membawanya naik. Dalam tafsir Camus, kita tahu, akhirnya Sisifus justru berhasil mengatasi hukuman itu—bukan dalam pengertian ia berhasil lepas dari hukuman itu tapi ia berhasil <em>menerima</em> hukuman itu sebagai takdirnya. Dalam konteks itu, hukuman itu tak lagi hukuman. Ia takdir yang diterima dengan kepala tegak.</p>
<p style="text-align: justify;">Goenawan sangat menyukai Sisifus yang menerima takdir itu. Baginya, meski manusia ada di dunia yang penuh malapetaka, manusia bisa tetap bahagia dengan menerima takdir tersebut. Dalam konteks ini, Goenawan juga menyukai Nietzsche yang menganjurkan penerimaan atas hidup bahkan jika hidup itu suatu siklus yang selalu berulang kembali secara sama persis.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi dalam kaitan dengan ini, Goenawan akan tak disukai oleh para pemikir Marxis. Sebab, hasil akhir dari penerimaan takdir manusia itu adalah status quo, di mana si tertindas menjadi bahagia bukan karena berhasil menghapuskan penindasan tapi karena si tertindas menerima penindasan itu sebagai takdirnya. Emansipasi, salah satu kata kunci dalam Marxisme, adalah kata yang dicurigai Goenawan: dalam emansipasi memang bisa ada pembebasan tapi dalam tiap emansipasi yang membutuhkan keutuhan total, bisa terjadi pula penindasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah kenapa Martin Suryajaya, salah satu pemikir muda di Indonesia yang gemilang, <a href="http://indoprogress.com/2011/07/26/kritik-dan-emansipasi-kontribusi-bagi-pendasaran-epistemologi-politik-kiri/" target="_blank">mengkritik habis tata bangunan pikir Goenawan soal emansipasi ini</a>. Bagi Martin, akibat terakhir dari logika pikir Goenawan adalah tak perlu ada emansipasi. Sisifus tak perlu melawan dewa-dewa, ia cukup menerima takdirnya. Masalahnya adalah, Goenawan bukan cuma pemikir yang melamun. Dia juga aktivis dan kita tahu selama Orde Baru dia melawan. Dia melakukan emansipasi—sembari, saya bayangkan, ia terus mencurigai proses emansipasi yang dilakukannya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Goenawan juga memihak secara politik ketika dia berpihak pada Boediono dalam Pemilu 2009, juga ketika ia membela Sri Mulyani dalam kasus Bank Century. Artinya, dia tak berpangku tangan meski kita bisa sangat tak sependapat dengan pemihakannya tersebut. Lagipula, dalam mitologi Sisifus, tak ada yang bisa dilakukan lagi oleh Sisifus: ia tak mungkin melawan para dewa. Artinya, hukuman itu memang takdir yang tak bisa diubah.</p>
<p style="text-align: justify;">Melalui Sisifus dalam tafsir Camus, Goenawan, menurut saya, bukannya ingin mengatakan manusia tak bisa melakukan apa-apa buat mencegah keburukan. Bagi saya, Goenawan hanya menyatakan: manusia itu daif dan terbatas sehingga semua upaya yang dilakukannya mungkin tak pernah benar-benar bisa mengubah dunia menjadi surga. Dunia tetap akan penuh dengan malapetaka tapi bukan berarti manusia harus muram menerima itu. Manusia tetap bisa bahagia walau hidup dalam dunia semacam itu, dengan cara menerima takdir tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi sekali lagi: menerima takdir bahwa dunia tak bisa jadi surga bukan berarti berpangku tangan. Perjuangan tetap perlu. Di alam semesta, manusia memang hanya setitik debu yang menanggungkan duka, tapi bukan berarti debu itu tak bisa mengubah apa-apa dan tak perlu melakukan apa-apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 29 Desember 2011</p>
<p style="text-align: justify;">Haris Firdaus</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F12%2Fdebu-yang-menanggung-duka%2F&amp;title=Debu%20yang%20Menanggung%20Duka"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/12/debu-yang-menanggung-duka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Filosofi Roti Dewi Lestari</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/07/filosofi-roti-dewi-lestari/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/07/filosofi-roti-dewi-lestari/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jul 2011 14:46:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Ayu Utami]]></category>
		<category><![CDATA[Dewi Lestari]]></category>
		<category><![CDATA[Madre]]></category>
		<category><![CDATA[Perahu Kertas]]></category>
		<category><![CDATA[Rectoverso]]></category>
		<category><![CDATA[Supernova]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=751</guid>
		<description><![CDATA[

Tiap kali membaca karya Dewi Lestari dan berjumpa dengan hubungan asmara yang begitu tulus dan murni, saya selalu punya bayangan nakal. Bagaimana seandainya bukan Dee yang menulis kisah-kisah itu tapi penulis lain yang lebih urakan dalam soal cinta? Apakah hasilnya akan lain? Barangkali iya.
Seandainya Perahu Kertas ditulis Ayu Utami, misalnya, bisa jadi kita akan melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-925" href="http://rumahmimpi.net/2011/07/filosofi-roti-dewi-lestari/madre/"><img class="aligncenter size-full wp-image-925" title="madre" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/07/madre.jpg" alt="madre" width="485" height="331" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Tiap kali membaca karya Dewi Lestari dan berjumpa dengan hubungan asmara yang begitu tulus dan murni, saya selalu punya bayangan nakal. Bagaimana seandainya bukan Dee yang menulis kisah-kisah itu tapi penulis lain yang lebih urakan dalam soal cinta? Apakah hasilnya akan lain? Barangkali iya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seandainya <em>Perahu Kertas</em> ditulis Ayu Utami, misalnya, bisa jadi kita akan melihat Kugy dan Keenan—dua protagonis dalam novel itu—akan bercinta habis-habisan sepanjang waktu. Dalam versi Ayu Utami, Keenan mungkin akan melukis Kugy dalam pose telanjang yang menggoda dan Kugy akan memasukkan tokoh pelacur dalam dongengnya. Akan ada adegan bercinta yang penuh teriakan di kos-kosan Keenan yang sempit dan pengap itu atau hal-hal yang lebih liar dari itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan, akhirnya, kita tidak akan hanya melihat sepasang mahasiswa yang dilanda “cinta murni” nan tulus, tapi juga ledakan birahi yang berapi-api. Tapi, <em>Perahu Kertas</em> ditulis Dewi Lestari, seorang penyanyi romantis yang mendalami spiritualitas, ibu dari dua anak, dan sebagai penulis, Dee tampaknya selalu punya ketertarikan pada “cinta murni” tanpa birahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sudah membaca semua buku Dee, dan itulah kesimpulan sementara saya. Sosok paling urakan dalam soal seks yang saya temukan dalam karya-karya Dee adalah Diva, seorang pelacur kelas atas yang tampaknya lebih pandai berbicara Marxisme ketimbang bercinta. Ada satu bagian dalam buku <em>Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh </em>yang sangat saya sukai, yakni ketika Diva sudah berhadap-hadapan dengan kliennya tapi justru bercerita perihal teori perjuangan kelas dengan fasih.</p>
<p style="text-align: justify;">Adegan itu, bagi saya, sangat lucu. Alih-alih berkisah dengan detail soal persenggamaan, Dee memberi waktu panjang pada Diva untuk bermonolog soal obsesinya menulis paper ihwal Karl Marx. Akhirnya, bagian ini bahkan berakhir tanpa persetubuhan karena sang pria tua akademis yang menjadi klien Diva ternyata tak bisa membangunkan burungnya. Lucu sekali. Pelacur yang menggemari Marxisme? Ayu Utami pasti tidak akan menciptakan karakter semacam itu kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam seri <em>Supernova</em> yang belum selesai itu, Dee memang menciptakan tokoh-tokoh pelacur dan pasangan homo, tapi jangan harap menemukan adegan seks dengan dosis yang sama dengan karya-karya beberapa penulis perempuan lain. Inilah Dee: penulis yang tampaknya masih percaya pada “formula lama” perihal cinta yang tulus. Jika kemunculan Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan Dinar Rahayu, misalnya, membuat kita berhadapan dengan konsepsi baru perihal hubungan percintaan, Dee membuat kita berbalik arah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kita mengamati secara sekilas saja sejumlah karyanya yang berkisah soal cinta, kita sepenuhnya menjumpai formula klasik soal cinta: cinta yang tulus, bagaimanapun, akan mengalahkan segalanya. Tipikal paling baik dari formula ini tentu saja <em>Perahu Kertas</em>, sebuah novel krispi soal hubungan cinta dua mahasiswa yang berhasrat menjadi dirinya sendiri. Sangat klasik? Iya. Tapi, kekuatan Dee bukanlah pada “konsepsi baru” perihal cinta yang hendak ditawarkannya. Dee justru memukau karena dia berhasil membuat cerita bagus dengan formula yang sepenuhnya klasik.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam <em>Perahu Kertas</em> dan sejumlah cerpennya yang terhimpun dalam <em>Rectoverso</em>, Dee sudah membuktikan hal itu. Kurang klasik apa sih kisah cinta Keenan-Kugy itu? Mari kita lihat tokoh protagonisnya. Seorang pelukis muda yang memilih melawan pilihan ayahnya dengan tetap melukis, dan seorang perempuan penulis dongeng yang berantakan penampilannya tapi berkepribadian luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Mari membandingkannya dengan semua tokoh yang pernah diciptakan Ayu Utami—seorang pemanjat tebing yang bengal, seorang spiritualis berjari tangan dua belas, seorang pastur yang menolong gadis gila, dan lain-lain—dan kita akan melihat Keenan dan Kugy sebagai tokoh yang terlanjur tipikal dalam cerita cinta kebanyakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, seringkali Dee juga memilih jalan lain. Dia akan berkisah tentang hal-hal yang sangat spesifik dan tidak semua orang tahu, dan tokoh-tokohnya adalah orang yang datang dari dunia spesifik itu. Inilah yang terjadi pada seri <em>Supernova</em> dan juga buku terbaru Dee yang dikasih judul <em>Madre</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Selama sebulan belakangan, <em>Madre</em> telah menjadi perbincangan di Twitter—media sosial paling hip di Indonesia sekarang—terutama karena strategi promosi yang jitu dari Dee dan penerbitnya. Begitu banyak orang yang bahagia mendapat buku <em>Madre</em> dengan tanda tangan Dee dengan cara pre-order. Akan tetapi, dengan segala hormat, saya harus mengatakan bahwa <em>Madre</em> adalah buku Dee yang tergolong tidak saya sukai bersama dengan <em>Filosofi Kopi</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenapa? Sebab, dua buku yang diklaim sebagai kumpulan cerita itu, tidak punya konsep kuat. <em>Madre</em> dan <em>Filosofi Kopi</em> tidak berisi cerita-cerita yang secara kualitas dan kuantitas seimbang bobotnya. Dalam dua kumpulan cerita itu, pasti selalu ada satu cerita yang mendominasi cerita yang lain. Dan dominasi itu terjadi dalam arti yang begitu nyata: satu cerita itu memakan halaman yang begitu banyak, sementara cerita lain hanya memakan dua atau tiga halaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya, ini menyedihkan. Kenapa Dee mesti mengulang keputusannya mengumpulkan tulisan campur aduk dalam sebuah buku? Bukankah dia pernah menerbitkan <em>Rectoverso</em>, sebuah kumpulan cerita yang konsepnya sangat kuat?</p>
<p style="text-align: justify;">Yang bikin saya tambah sedih, setelah membaca <em>Madre</em>, saya menjadi sangat yakin tidak semua tulisan dalam buku itu bahkan bisa disebut sebagai “cerita” yang utuh. Sebagian di antara isi buku itu, bagi saya, hanyalah semacam puisi dan curahan hati Dee. Dalam pembacaan saya, dari 13 tulisan dalam buku itu, hanya empat yang bisa dianggap sebagai sepenuhnya “cerita”, yakni “Madre”, “Have You Ever”, “Guruji”, dan “Menunggu Layang-layang”.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang mendominasi tentu saja adalah “Madre”. Sebagaimana saya bilang di atas, “Madre” ditulis Dee dengan menggunakan salah satu jurusnya yang paling tipikal: menulis dengan mengambil tema utama yang sangat spesifik dan tidak semua orang tahu. Tema utama “Madre” adalah soal roti. Garis besarnya: seorang pemuda bohemian tiba-tiba mendapat warisan sebuah adonan roti dari seorang Tionghoa yang tak dikenalnya. Tansen, laki-laki yang mendamba kebebasan itu, akhirnya harus terikat dengan adonan roti tersebut. Dia meninggalkan hidupnya yang serampangan di Bali dan memilih menetap di Jakarta demi membangun kembali toko roti “Tan de Bakker” yang secara tak terduga menjadi warisannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita menemukan begitu banyak detail perihal membuat roti dalam kisah “Madre” ini, tapi sebenarnya kita mengenali sebuah pola lama. Struktur cerita “Madre”, bisa dikatakan, benar-benar klasik. Cerita dimulai dengan sebuah kejutan yang mengganggu kehidupan Tansen. Dia ragu-ragu masuk ke dunia baru itu tapi akhirnya tak bisa mengelak. Namun setelah masuk, dia kembali ragu-ragu: apakah dunia baru itu harus mengubah hidupnya selamanya? Haruskah dia kembali pada hidup lamanya? Kita semua tahu jawabannya: Tansen tak akan kembali. Dia terikat dan menemukan kebahagiaan di dunia barunya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai di situ, masalah selesai. Dan Tansen akhirnya jatuh cinta dengan Mei, seorang perempuan cantik yang mewarisi toko roti super besar yang menjadi partner bisnisnya. Semua tantangan selesai dan kisah berakhir bahagia. Sangat Platonik dan tidak membekas panjang. Kita mungkin akan sangat menikmati membaca “Madre”, tapi kita bisa begitu saja melupakannya. Sebab, “Madre” tidak mengganggu kita dengan pertanyaan, tapi justru memperkuat harapan-harapan semu kita perihal cinta dan kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya beranggapan, “Madre” sangat mirip dengan “Filosofi Kopi”: sama-sama bicara hal spesifik yang berkaitan dengan masak-memasak, sama-sama beralur simpel, dan tokoh utamanya menemukan kebahagiaan sejati di akhir kisah. Dari sisi buku, dua kumpulan kisah itu juga mirip: sama-sama mengumpulkan tulisan campur aduk menjadi satu sehingga terlalu sedikit yang bisa diharapkan dari dua buku tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Saking banyaknya kesamaan di antara keduanya, saya bahkan menganggap <em>Madre</em> harusnya diberi judul <em>Filosofi Roti</em>—sehingga menjadi semacam sekuel dari <em>Filosofi Kopi</em>. Okelah, saya mungkin pembaca yang kecewa. Tapi, setidaknya, saya tidak akan berhenti membaca Dee karena ini. Saya adalah salah satu pembaca fanatiknya dan tahun ini saya akan menagih buku lanjutan dari seri <em>Supernova</em>-nya. Semoga dia memenuhi janjinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 17 Juli 2011</p>
<p style="text-align: justify;">Haris Firdaus</p>
<p style="text-align: justify;">foto diambil dari <a href="http://edupostjogja.com/cmsms/uploads/images/hiburan/madre.jpg" target="_blank">sini</a></p>
<p style="text-align: justify;">NB: baca juga wawancara imajiner saya dengan Dee di <a href="http://rumahmimpi.net/2009/01/punggung/" target="_blank">sini</a>.</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F07%2Ffilosofi-roti-dewi-lestari%2F&amp;title=Filosofi%20Roti%20Dewi%20Lestari"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/07/filosofi-roti-dewi-lestari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingatan-ingatan Ihwal Soeharto</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/06/ingatan-ingatan-ihwal-soeharto/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/06/ingatan-ingatan-ihwal-soeharto/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2011 10:29:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[AM Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Tien]]></category>
		<category><![CDATA[Munari Ari]]></category>
		<category><![CDATA[Soeharto]]></category>
		<category><![CDATA[Sutanto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=712</guid>
		<description><![CDATA[
Ingatan saya tentang Soeharto adalah gambar samar-samar seorang tua dengan rambut memutih dan senyum mengembang yang sedang berdialog dengan para petani. Dia berdiri, memegang mikrophone, dan berbicara pelan. Sementara itu, para petani duduk khidmat mendengarkan dan bertanya dengan nada sesopan mungkin setelah Soeharto berhenti berbicara.
Ingatan masa kecil ini kelak akan ditambahi kenangan perihal seorang presiden [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-935" href="http://rumahmimpi.net/2011/06/ingatan-ingatan-ihwal-soeharto/soeharto-1/"><img class="aligncenter size-full wp-image-935" title="soeharto (1)" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/06/soeharto-1.jpg" alt="soeharto (1)" width="400" height="297" /></a></p>
<p>Ingatan saya tentang Soeharto adalah gambar samar-samar seorang tua dengan rambut memutih dan senyum mengembang yang sedang berdialog dengan para petani. Dia berdiri, memegang mikrophone, dan berbicara pelan. Sementara itu, para petani duduk khidmat mendengarkan dan bertanya dengan nada sesopan mungkin setelah Soeharto berhenti berbicara.</p>
<p>Ingatan masa kecil ini kelak akan ditambahi kenangan perihal seorang presiden berbaju safari dan memakai peci yang membacakan pidato pengunduran diri pada 21 Mei 1998. Sebagai anak kelas 6 SD kala itu, saya hampir tidak punya pendapat ihwal Soeharto. Dia presiden Indonesia sejak 30 tahun lebih sebelumnya, dan kami para murid sekolah dasar terus menatap fotonya tiap hari di ruang kelas. Dia juga hadir di ingatan kami melalui pelbagai mata pelajaran, dari Pendidikan Moral Pancasila hingga Ilmu Pengetahuan Sosial.</p>
<p>Kami belajar tentang konsep-konsep pembangunan yang dirumuskannya, menghafal trilogi pembangunan, menyerap tujuan Pembangunan Lima Tahun, bahkan menghafal nama menteri-menteri di kabinetnya. Kami juga menghafal tiap pasal dalam UUD 1945 yang sangat sakral itu, dan oleh karenanya, kami pastilah tak terlampau memahami kenapa Soeharto yang agung itu harus diturunkan.</p>
<p>Saya, tentu saja, melihat berita-berita demonstrasi dan kerusuhan, juga menjadi saksi bagaimana kerusuhan membakar kota saya, Solo. Tapi bagi saya tetap tak jelas kenapa Soeharto harus turun waktu itu. Tiba-tiba saja dia turun dan semua pelajaran yang kami serap tentangnya menjadi tak berguna. Meski begitu, saya tetap mengenang dia. Dia mungkin dilupakan oleh mata pelajaran sekolah, tapi ingatan ihwal sosoknya mungkin tak bisa lupa. Kebanyakan kita di Indonesia selalu punya kenangan—baik atau buruk—tentang Soeharto, dan begitulah faktanya.</p>
<p>Saya tiba-tiba mengingat kenangan personal ihwal Soeharto ini ketika membaca buku <em>Pak Harto, The Untold Stories</em> yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada Juni ini. Ditulis oleh sekelompok wartawan—yakni Mahpudi, Bakarudin, Dwitri Waluyo, Donna Sita Indria, Anita Dewi Ambarsari—buku setebal 602 halaman ini berisi kumpulan kesaksian banyak tokoh terhadap sosok Presiden Indonesia ke-2 itu.</p>
<p>Sebagian di antara mereka yang memberi testimoni adalah pemimpin-pemimpin negara di Asia Tenggara, seperti Mahatir Muhammad, Lee Kuan Yew, Sultan Hassanal Bolkiah, dan Fidel Ramos. Ada juga tokoh-tokoh politik dalam negeri semisal Jusuf Kalla, Taufik Kiemas, Fahmi Idris, Harmoko, Sudomo, dan sebagainya.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-937" href="http://rumahmimpi.net/2011/06/ingatan-ingatan-ihwal-soeharto/peluncuran-perdana-buku-pak-harto-the-unthold-stories/"><img class="alignleft size-medium wp-image-937" title="PELUNCURAN PERDANA BUKU &quot;PAK HARTO THE UNTHOLD STORIES&quot;" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/06/untold-stories-300x225.jpg" alt="PELUNCURAN PERDANA BUKU &quot;PAK HARTO THE UNTHOLD STORIES&quot;" width="300" height="225" /></a>Di kelompok lain ada beberapa kerabat Pak Harto, tapi yang paling menarik adalah kisah-kisah yang dituturkan oleh orang-orang kecil yang secara matematis agak mustahil punya relasi dengan sosok sebesar Soeharto. Tapi, nasib memang bukan matematika. Mari kita simak kisah Munari Ari.</p>
<p>Sebagai pengamen di sekitar Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, pada pertengahan 1980-an, Munari Ari punya kebiasaan unik. Tiap Rabu dan Jumat, saat iring-iringan Presiden Soeharto lewat di depan RSCM menuju lapangan golf Rawamangun, Munari akan berdiri tegap, lalu hormat, di depan iring-iringan tersebut.</p>
<p>Meski terkesan sepele, aksi hormat ini tidak mudah dilakukan. Sebab, sesuai protokoler kepresidenan, tiap kali mobil presiden melintas, jalanan harus dibuat steril. Itulah kenapa Munari sering diusir dan bahkan sempat hendak ditempeleng petugas keamanan saat memberi hormat.</p>
<p>Meski demikian, aksi hormat itu terus-menerus dilakukan Munari dan seorang kawannya yang bernama Herman Obos. Sebulan melakukan hormat di depan mobil Pak Harto, Munari dan Obos merasa iring-iringan presiden itu seringkali melaju pelan ketika melewati dua pengamen tersebut. Di bulan berikut, tiba-tiba mobil berplat nomor RI 1 berhenti di depan keduanya. Jendela belakang mobil terbuka, lalu wajah Pak Harto muncul. Sang presiden pun tersenyum dan mengangguk pada duo pengamen itu. Sejak keajaiban kecil itulah ritual hormat itu seakan menjadi rutin. Para petugas yang mengamankan perjalanan Pak Harto pun terbiasa dan memaklumi.</p>
<p>Kelak, keajaiban kecil itu akan diikuti keajaiban yang lebih besar: Munari Ari akhirnya dipilih  Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut, putri sulung Pak Harto, untuk bernyanyi dalam acara ulang tahun peringatan pernikahan Pak Harto dan Ibu Tien. Dari hal yang sepele itulah Munari akhirnya diterima bekerja di PT Citra Lamtorogung Persada, perusahaan milik Mbak Tutut.</p>
<p>Kisah menarik lain menyangkut isu sensitif, yakni meninggalnya Ibu Tien Soeharto pada 28 April 1996. Dalam kesaksian purnawirawan Jenderal Polisi Sutanto, beberapa hari sesudah meninggalnya Ibu Tien, muncul isu bahwa Ibu Tien meninggal gara-gara terkena peluru. Menurut isu itu, terjadi pertengkaran antara dua anak Pak Harto, yakni Bambang Trihatmodjo dan Hutomo Mandala Putra. Keduanya diisukan berebut proyek mobil nasional, sampai kemudian terjadi baku tembak. Salah satu tembakan itulah yang diisukan mengenai Ibu Tien.</p>
<p>Menurut Sutanto, yang kala itu menjadi ajudan Pak Harto, isu tersebut sangat tidak benar. Ia menyatakan, Ibu Tien meninggal karena serangan jantung. Sehari sebelum meninggal, Ibu Tien mengunjungi Taman Wisata Mekarsari. “Agaknya Ibu Tien terlalu asyik dan gembira melihat-lihat banyaknya tanaman yang tengah berbuah. Ibu Tien lupa bahwa sebenarnya beliau tidak boleh berjalan terlalu lama dan jauh,” ujar Sutanto yang kini menjadi Kepala Badan Intelijen Negara ini.</p>
<p>Meski mayoritas berisi kesaksian kerabat dan teman, <em>Pak Harto, The Untold Stories</em> juga berisi kesaksian beberapa orang yang dulu merupakan lawan politik Soeharto. Satu yang menarik adalah cerita Andi Mappateheng Fatwa. Seperti diketahui, Fatwa pernah menjadi salah satu lawan politik pemerintahan Soeharto. Fatwa pernah dipenjara, mengalami percobaan pembunuhan, dan mendapat teror akibat sikap politiknya. Tapi, di buku ini, dengan bijak Fatwa menunjukkan bahwa dia tak selalu  membenci Pak Harto.</p>
<p>Dalam memandang Pak Harto, Fatwa teringat kalimat Syarifuddin Prawiranegara: “Dalam berhadapan dengan lawan politik, sebaiknya kita berasumsi bahwa tidak mungkin lawan kita itu sepenuhnya salah dan sebaliknya pihak kita juga tidak mungkin benar sepenuhnya.” Dengan sikap yang rendah hati semacam ini, tentu saja Fatwa dengan mudah akhirnya menghargai Soeharto sebagai pribadi, bukan sebagai penguasa. Itulah yang membuat Fatwa mencium kening Pak Harto saat mantan presiden itu sakit di Rumah Sakit Pusat Pertamina pada 2007.</p>
<p>Kita memang tak bisa mengharapkan sosok Soeharto digambarkan secara cover both sides dalam buku ini. Porsi buku ini adalah menggambarkan sejumlah kejadian kecil, sebuah petite historie atau sejarah kecil, yang seringkali luput disorot media massa atau penulis biografi. Meski kemudian juga harus dicatat: tak semua kisah dalam buku ini adalah sesuatu yang baru alias <em>untold</em>.</p>
<p>Selain itu, jika kemudian buku ini lebih banyak berisi pujian akan sikap dan karakter Pak Harto, barangkali kita juga mesti memakluminya. Ini memang buku yang sepenuhnya bertujuan mengenang sebuah pribadi—dengan sudut pandang yang subjektif—bukan melakukan analisis atas kepemimpinan Soeharto di Indonesia selama 32 tahun yang dipenuhi kontroversi.</p>
<p>Saya kira, tiap orang berhak punya ingatan tentang Soeharto meskipun ingatan itu tak pernah benar-benar bisa menggambarkan sosok Presiden ke-2 Indonesia itu.</p>
<p>Haris Firdaus</p>
<p>gambar diambil dari <a href="http://soeharto-online.blogspot.com/2008/01/soeharto-dan-keluarga-foto-masa-lalu.html">sini</a> dan <a href="http://dixiebee.wordpress.com/2011/06/16/the-untold-stories-pak-harto/" target="_blank">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F06%2Fingatan-ingatan-ihwal-soeharto%2F&amp;title=Ingatan-ingatan%20Ihwal%20Soeharto"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/06/ingatan-ingatan-ihwal-soeharto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyanyi Dangkal Anak PKI</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/05/nyanyi-dangkal-anak-pki/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/05/nyanyi-dangkal-anak-pki/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 May 2011 15:24:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Blues Merbabu]]></category>
		<category><![CDATA[Dengarlah Nyanyian Angin]]></category>
		<category><![CDATA[Gitanyali]]></category>
		<category><![CDATA[Haruki Murakami]]></category>
		<category><![CDATA[PKI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=692</guid>
		<description><![CDATA[Dia menyaksikan ayahnya dijemput tentara bersenapan. Dia melihat bagaimana ibunya dikurung di penjara Kodim selama beberapa waktu. Dia juga melihat bagaimana pelan-pelan keluarganya hancur: rumahnya yang dulu merupakan pusat banyak kegiatan kini menjadi sepi, kakak-kakaknya harus pergi ke luar kota, dan dia sendiri harus tinggal bersama kakek-neneknya. Dia mungkin sudah kehilangan semuanya, tapi hidupnya terus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="text-align: left;"><a rel="attachment wp-att-945" href="http://rumahmimpi.net/2011/05/nyanyi-dangkal-anak-pki/blues-merbabu2/"><img class="alignleft size-full wp-image-945" title="Blues Merbabu2" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/05/Blues-Merbabu2.jpg" alt="Blues Merbabu2" width="264" height="364" /></a>Dia menyaksikan ayahnya dijemput tentara bersenapan. Dia melihat bagaimana ibunya dikurung di penjara Kodim selama beberapa waktu. Dia juga melihat bagaimana pelan-pelan keluarganya hancur: rumahnya yang dulu merupakan pusat banyak kegiatan kini menjadi sepi, kakak-kakaknya harus pergi ke luar kota, dan dia sendiri harus tinggal bersama kakek-neneknya. Dia mungkin sudah kehilangan semuanya, tapi hidupnya terus berjalan. Dengan sangat sederhana dan dangkal.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Namanya Gitanyali, tapi dia lelaki. Dia anak bungsu dari seorang aktivis Partai Komunis Indonesia bernama Sutanto Singayuda. Setelah ayahnya “dijemput”—dan tentu saja tak pernah kembali—Gita terus hidup dengan cara membuat jarak. Dia membangun tembok dengan situasi hiruk-pikuk politik di sekitarnya dan berusaha hidup dalam imajinasinya sendiri. Maka, alih-alih berfokus pada nasib ayahnya, Gita senantiasa konsisten dengan hobinya: perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Gemar mengintip perempuan mandi sejak dini, lalu mengalami orgasme pertama pada saat masih SD, disusul kehilangan keperjakaan ketika SMP, hidup Gitanyali memang tak bisa dilepaskan dari perempuan dan seks. Kita bisa melupakan bahwa dia adalah anak PKI, tapi kita tidak bisa menyebut namanya tanpa membahas soal petualangannya berhubungan dengan begitu banyak perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dituliskan dalam sebuah novel berjudul <em>Blues Merbabu </em>(Kepustakaan Populer Gramedia, 2011), cerita hidup Gitanyali memang akhirnya tak sama dengan kebanyakan anak-anak aktivis PKI lainnya. Penulis novel ini juga memakai nama samaran Gitanyali dan oleh karenanya kita boleh bercuriga bahwa <em>Blues Merbabu</em> adalah sebuah novel biografis yang sedikit banyak berbasiskan kisah nyata.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada dasarnya, <em>Blues Merbabu</em> adalah kisah tentang membuat jarak. Entah secara sadar atau tidak, Gitanyali telah membangun sebuah sekat yang memisahkannya dari masa lalu ayahnya. Dia memilih sebuah dunia baru, yang membuatnya bisa terlindungi secara aman dari tetek bengek PKI. Dia tumbuh menjadi anak kandung kebudayaan populer: belajar bahasa Inggris secara otodidak, menggemari musik dan film, dan kemudian merintis karier menjadi penulis. Selama itu pula, dia teguh menganut prinsip “hubungan bebas” dengan perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam garis besar semacam ituah, kisah Gitanyali berbeda dengan cerita-cerita soal korban huru-hara 1965 lainnya. Dalam <em>Blues Merbabu</em>, kita tidak akan menemui ratapan, teriakan protes, atau kesedihan yang menyayat. Kita tidak menjumpai “kuliah” tentang PKI atau komunisme, atau tentang kondisi politik tahun-tahun 1965. Yang kita temui hanyalah seorang anak muda dengan kehidupan dangkal. Seorang anak muda yang ingin meninggalkan masa lalu, tanpa keinginan meratap. Anak muda yang menjalani hidup dengan ringan, arogan, dan riang.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya membaca cukup banyak ulasan soal buku ini, antara lain ditulis oleh Leila S Chudori di <a href="http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/05/09/BK/mbm.20110509.BK136649.id.html" target="_blank">Majalah <em>Tempo</em></a>, Remy Silado di <a href="http://www.goodreads.com/topic/show/503543-review-buku-ranah-3-warna-blues-merbabu-di-mata-remy-sylado">Harian <em>Kompas</em></a>, dan Antyo Rentjoko di blognya yang masyhur itu, <a href="http://blogombal.org/2011/05/10/blues-merbabu-blues-salatiga/">Blogombal</a>. Dalam ulasannya, Leila sempat menyebut kesederhanaan bahasa <em>Blues Merbabu </em>mirip dengan novel-novel Ashadi Siregar atau Marga T. Ini barangkali benar meski harus juga dikatakan: secara konseptual, <em>Blues Merbabu</em> berbeda cukup jauh dengan novel-novel populer Ashadi atau Marga T.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja ada kesamaan dalam hal pelukisan hidup anak muda yang penuh pesta dan cinta, tapi dalam karya Gitanyali ini, kisah hidup yang dangkal itu agaknya dihadirkan secara sengaja sebagai sebuah pilihan sadar. Menjadi dangkal bagi tokoh-tokoh Marga T atau Ashadi Siregar selalu dilukiskan sebagai sesuatu yang terjadi karena “pengaruh lingkungan”. Tapi bagi Gitanyali, menjadi dangkal dan apolitis mungkin pilihan yang justru bersifat politis, karena hal itu disadari.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam konteks ini, saya menemukan komentar menarik dari seorang pembaca <em>Blues Merbabu</em> di <a href="http://www.goodreads.com/book/show/10517777-blues-merbabu">goodreads</a> bahwa novel ini mengingatkannya pada <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hear_the_Wind_Sing"><em>Dengarlah Nyanyian Angin</em></a> karya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Haruki_Murakami">Haruki Murakami</a>. Bagi saya, perbandingan ini sungguh menarik. <em>Dengarlah Nyanyian Angin</em> adalah kisah tentang anak-anak muda Jepang tahun 1960-1970-an yang mengalami benturan nilai tradisional dengan modern. Latar kisahnya mirip-mirip dengan <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Norwegian_Wood_%28novel%29">Norwegian Wood</a> </em>yang juga karya Murakami.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam <em>Dengarlah Nyanyian Angin</em>, kita juga akan bertemu sejumlah anak muda dangkal yang mengisi hidup dengan minum sake, mabuk, bercinta, ngobrol tak jelas, dan sebagainya. Yang membuat novel tipis ini menarik adalah pilihan Murakami menggambarkan hidup tokoh-tokohnya secara sangat realis, hampir-hampir tanpa drama berarti. Waktu membaca novel ini, saya merasa hanya mendapati serangkaian hidup sehari-hari yang tanpa konflik—dalam arti konvensional—juga tanpa klimaks atau antiklimaks. Dibaca denan cara baca biasa, novel ini membosankan, tapi dengan sedikit mengubah sudut pandang, <em>Dengarlah Nyanyian Angin</em> adalah buku yang luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, tepatkah memperbandingkan <em>Dengarlah Nyanyian Angin</em> dengan <em>Blues Merbabu</em>? Tidak juga. Sebab, kualitas bahasa Murakami tentu saja jauh lebih baik dan khas ketimbang coretan Gitanyali dalam <em>Blues Merbabu</em>. Selain itu, dalam <em>Blues Merbabu</em>, Gitanyali juga kelewat sadar diri sebagai sosok yang dangkal. Ini mungkin ciri-ciri pembelajar posmodernisme yang kemudian memutuskan secara sadar menjadi dangkal tapi tak pernah berhasil. Selama kedangkalan adalah pilihan politis, maka dia akan tetap kelihatan berbeda dengan karakter banalitas yang lazim terjadi karena “efek lingkungan”.</p>
<p style="text-align: justify;">Di luar soal-soal intrinsik novel itu, apa yang membetot perhatian saya adalah soal sosok riil si Gitanyali. Siapakah dia? Tentu saja, saya dan banyak orang lain tahu siapa dia. Dia wartawan juga pengamat seni dan gaya hidup. Dia sering menulis soal budaya massa, gaya hidup, dan posmodernisme. Dulu saya menyukai tulisan-tulisannya, tapi belakangan esai-esai reflektifnya yang terbit di koran tempatnya bekerja tak lagi memesona saya. Isinya melulu hanya pengulangan dari pandangan soal budaya massa. Oh ya, ngomong-ngomong, filsuf favoritnya adalah Jean Baudrillard yang teorinya soal hiperrealitas itu dianggap sangat kacau oleh para penantangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Blogombal, Paman Tyo dengan menawan mengulas soal latar kota novel <em>Blues Merbabu</em>. Kesimpulannya satu: <em>setting</em> novel itu adalah Salatiga, sebuah kota kecil yang sejuk di Jawa Tengah. Yah, sampai di sini, kita semua tentu paham siapa sih Gitanyali ini. Tapi biarkan dia tetap memakai nama samaran itu, biarkan dia tetap bersembunyi dan membangun tembok, sembari kita tunggu novel berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 28 Mei 2011</p>
<p style="text-align: justify;">Haris Firdaus</p>
<p style="text-align: justify;">foto diambil dari <a href="http://www.femina.co.id/images/article/01/007/004/5/T" target="_blank">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F05%2Fnyanyi-dangkal-anak-pki%2F&amp;title=Nyanyi%20Dangkal%20Anak%20PKI"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/05/nyanyi-dangkal-anak-pki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pancasila dan Politik Harapan</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/05/pancasila-dan-politik-harapan/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/05/pancasila-dan-politik-harapan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 May 2011 01:47:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Negara Paripurna]]></category>
		<category><![CDATA[Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[Soekarno]]></category>
		<category><![CDATA[Yudi Latif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=681</guid>
		<description><![CDATA[
Pada malam menjelang 1 Juni 1945, Soekarno keluar dari rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta, dan menengadahkan wajahnya ke langit. Malam itu ribuan bintang bertebaran di langit dan proklamator Indonesia itu tiba-tiba merasa dirinya adalah sosok kecil yang dhaif. Pada kesempatan itulah, Soekarno merasa pundaknya dibebani pertanggungjawaban yang amat berat, terutama karena esok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-682" href="http://rumahmimpi.net/2011/05/pancasila-dan-politik-harapan/pancasila/"><img class="aligncenter size-full wp-image-682" title="Pancasila" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/05/Pancasila.jpg" alt="Pancasila" width="600" height="419" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Pada malam menjelang 1 Juni 1945, Soekarno keluar dari rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta, dan menengadahkan wajahnya ke langit. Malam itu ribuan bintang bertebaran di langit dan proklamator Indonesia itu tiba-tiba merasa dirinya adalah sosok kecil yang <em>dhaif</em>. Pada kesempatan itulah, Soekarno merasa pundaknya dibebani pertanggungjawaban yang amat berat, terutama karena esok harinya ia mesti berpidato soal dasar negara Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu, dengan segenap kerendahan budi, Soekarno meminta petunjuk pada Tuhan tentang ihwal apa yang mesti disampaikannya esok di hadapan anggota Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Setelah doa itu, Soekarno merasa mendapat petunjuk atau ilham yang menyuruhnya menggali dasar negara itu dari bumi Indonesia sendiri. Kelak, pidato Soekarno pada 1 Juni 1945 itu akan tenar sebagai Hari Lahir Pancasila.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi Yudi Latif, kisah Soekarno punya kesan tersendiri. Di hadapan ratusan peserta bedah buku <em>Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila </em>(Gramedia Pustaa Utama, 2011)<em> </em>di Gedung Nusantara V MPR, Jakarta Pusat, 11 April lalu, Yudi menyampaikan kisah itu kembali sebagai pengingat: bahwa dasar negara Indonesia lahir dari upaya penggalian terhadap kearifan bangsa ini di zaman lampau. Oleh karena itu, jika sekarang bangsa Indonesia mengalami krisis yang luas dan dalam, maka kita mesti berpaling ke dasar falsafah dan pandangan hidup bangsa kita sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;"><a rel="attachment wp-att-950" href="http://rumahmimpi.net/2011/05/pancasila-dan-politik-harapan/buku-yudi/"><img class="alignleft size-medium wp-image-950" title="Buku Yudi" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/05/Buku-Yudi-300x160.jpg" alt="Buku Yudi" width="300" height="160" /></a>Solusi atas krisis yang dialami Indonesia, kata Yudi, tidak bisa dicari dari luar. Mengutip keberhasilan Eropa dan Jepang, Yudi Latif punya keyakinan bahwa Indonesia hanya bisa bergerak maju setelah bangsa ini mampu mengenali dirinya sendiri. Eropa bisa maju setelah zaman Rennaisance, yakni penggalian kembali kebudayaan Yunani dan Romawi yang menjadi akar peradaban bangsa itu. Sementara, Jepang bisa maju sesudah masa Restorasi Meiji, sebuah masa pembaharuan yang tak meninggalkan akar kepribadian bangsa Jepang.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karenanya, solusi atas persoalan Indonesia hanya bisa muncul dengan melakukan penggalian kembali serta rekonstruksi terhadap alam pemikiran Pancasila, dasar negara yang punya akar panjang dalam tradisi bangsa Indonesia. <em>Negara Paripurna </em>adalah upaya intelektual Yudi untuk mewujudkan penggalian dan rekonstruksi tersebut. Pemikiran semacam ini, tentu saja, bukan hal baru di Indonesia masa sekarang. Seruan atau jargon kembali pada Pancasila dan UUD 1945 adalah sesuatu yang terus saja terdengar tapi tak pernah punya gema berkepanjangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, Yudi Latif adalah intelektual yang bukan hanya mengumbar seruan dan slogan. Dia melakukan upaya panjang selama dua tahun untuk menyusun sebuah buku setebal 667 halaman yang secara panjang, lebar, dan dalam, menyoroti Pancasila. Yudi menggali bahan-bahan primer mengenai pendapat dan gagasan para pendiri bangsa Indonesia melalui salinan dokumen-dokumen BPUPKI. Melalui dokumen itulah, perdebatan dan gagasan awal para pendiri Indonesia perihal Pancasila tampak secara gamblang.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, Yudi tidak berhenti pada penggalian. Ia melanjutkan upayanya ke proses rekonstruksi. Upaya rekonstruksi ini menyoroti Pancasila dari sisi historisitas, rasionalitas, dan aktualitas. Yudi mengupas satu demi satu sila dalam Pancasila, untuk kemudian dibahas dari tiga aspek besar tersebut. Historisitas menyoroti aspek kesejarahan, bagaimana sebuah ide bisa timbul dan perdebatan dimulai. Aspek rasionalitas adalah upaya Yudi menyoroti ide dan gagasan para pendiri Indonesia secara teoretis dan komparatif melalui perbandingan dengan pemikiran lain. Sementara, aspek aktualitas adalah upaya Yudi menegosiasikan alam pikiran Pancasila dengan kondisi kekinian.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudi menegaskan, Pancasila adalah dasar statis yang mempersatukan sekaligus bintang penuntun yang dinamis, yang mengarahkan bangsa Indonesia mencapai tujuannya. Sebagai alat pemersatu, Pancasila bersifat statis karena faktanya bangsa Indonesia bisa bersatu hanya dengan bersandar pada nilai-nilai Pancasila yang sangat akomodatif. Di sinilah, mungkin, Yudi menemukan frasa “negara paripurna”, yang bisa jadi dimaksudkannya sebagai penegas bahwa Pancasila sudah final sebagai falsafah Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, keparipurnaan Pancasila sebagai falsafah negara bukanlah berarti lima sila itu adalah sesuatu yang beku dan baku. Seperti sudah ditegaskan di awal, Pancasila bersifat statis sebagai pemersatu, tapi  sekaligus punya peran sebagai bintang penuntun yang dinamis. Sebagai penuntun, Pancasila mau tak mau harus dinamis karena ideologi tersebut harus berhadapan dengan tuntutan dan kenyataan zaman. Pada titik ini, nilai-nilai Pancasila harus terus diaktualisasikan dan didialogkan dengan problem dan kenyataan Indonesia kiwari.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Negara Paripurna </em>menyajikan sebuah konklusi menarik, bahwa warisan terbaik para pendiri Indonesia adalah “politik harapan”, bukan “politik ketakutan”. “Pengalaman menjadi Indonesia menunjukkan bahwa semangat perjuangan memiliki kemampuan yang tidak terbatas untuk menghadapi pelbagai rintangan,” kata Yudi. Masalahnya, yang harus di cari di masa sekarang adalah “semangat perjuangan” itu sendiri, sebuah pra syarat bagi tumbuhnya “politik harapan”.</p>
<p style="text-align: justify;">Haris Firdaus</p>
<p style="text-align: justify;">gambar pertama dari <a href="http://prakosopermono.blogspot.com/2011/01/landasan-pancasila-ir-soekarno.html" target="_blank">sini</a>, gambar kedua dari <a href="http://www.irmangusman.com/kegiatan/read/garnd-launching-buku-paripurna" target="_blank">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F05%2Fpancasila-dan-politik-harapan%2F&amp;title=Pancasila%20dan%20Politik%20Harapan"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/05/pancasila-dan-politik-harapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

