Realisme yang Lugu, Cinta, dan Lain-lain

Jun 26

(Membaca Antologi Puisi Pendhapa 5) Penyair yang hanya menyekatkan perhatian pada dirinya sendiri, kata Subagio Sastrowardoyo, tak akan menghasilkan sajak yang cukup berarti. Penyair yang sibuk dengan perasaan, emosi, dan pikirannya sendiri pada akhirnya hanya akan menulis sedu-sedan dan keluh-kesah saja. Sebuah sajak yang cukup berarti dihasilkan ketika seorang...

Read More

Dandy-dandy Revolusioner

Feb 20

Revolusi dan dandyisme bagaikan dua sisi dari sekeping uang logam: keduanya jelas berbeda tapi berada dalam jarak yang amat dekat. Robespierre, salah satu tokoh dalam Revolusi Prancis, konon adalah seorang yang suka memakai parfum yang sangat mahal sekaligus bersemerbak baunya. Bahkan beberapa saat sebelum ia dihukum mati dengan dipancung, ia masih sempat memakai...

Read More

Mencari Sosialisme Fabian yang “Hilang”

Feb 05

Mencari Sosialisme Fabian yang “Hilang”

Kaum jurnalis Indonesia harus mengenang—dan barangkali berterima kasih—pada dua hal yang tak ada kaitannya dengan jurnalisme: Sendratari Ramayana dan Restoran Mbok Berek. Sebab, keduanya adalah “saksi” dari sebuah peritiwa penting yang cukup berpengaruh pada dunia jurnalisme Indonesia: berdirinya Harian Kompas, sebuah surat kabar terbesar di Indonesia saat...

Read More

Laki-laki, Novel, dan Gerakan Mahasiswa

Jan 27

Laki-laki, Novel, dan Gerakan Mahasiswa

Seorang kawan mengirimkan sebuah draft novel karyanya pada saya. Calon novel sulung kawan saya itu, berjudul “Laki-laki Pada Sebuah Hujan”, bercerita tentang gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa? Ya, tema ini barangkali termasuk jarang hadir dalam novel Indonesia terutama yang kontemporer. Ashadi Siregar, melalui beberapa novelnya yang dianggap “populer”,...

Read More

Pragmatisme dan Pilihan yang Tak Ada

Jan 14

Pragmatisme dan Pilihan yang Tak Ada

Beberapa hari setelah membaca novel “Merahnya Merah” karangan Iwan Simatupang, akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan: membaca Iwan Simatupang adalah membaca dengan resiko dan tekad untuk bersabar. Resiko memang timbul karena dalam karya-karya pengarang kelahiran 1928 ini, cerita mengalir dengan sebuah logika yang tak biasa, jelas tidak realis, dan kadang...

Read More

Teror, Kematian, dan Perempuan di Sekeliling Poe

Jan 07

Teror, Kematian, dan Perempuan di Sekeliling Poe

Selesai membaca Buku “Biografi Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya”, saya tahu ada tiga hal yang tak pernah bisa dilepaskan dari karya sastrawan itu: teror, kematian, dan perempuan. Dalam buku yang diterjemahkan dan disusun oleh Tia Setiadi dan diterbitkan Penerbit Interlude Yogyakarta itu, diceritakan bahwa Poe adalah seorang pengarang yang terobsesi pada...

Read More

Switch to our mobile site