<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Mimpi &#187; Film</title>
	<atom:link href="http://rumahmimpi.net/category/film/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahmimpi.net</link>
	<description>mimpi adalah semangat. dan perlu sebuah rumah buat menampungnya.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 09:26:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Di Bawah Lindungan Iklan</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/08/di-bawah-lindungan-iklan/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/08/di-bawah-lindungan-iklan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Aug 2011 11:17:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Di Bawah Lindungan Ka'bah]]></category>
		<category><![CDATA[Hamka]]></category>
		<category><![CDATA[Hanny R. Saputra]]></category>
		<category><![CDATA[Herjunot Ali]]></category>
		<category><![CDATA[Laudya Cynthia Bella]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=782</guid>
		<description><![CDATA[
Dengan bujet yang konon mencapai Rp. 25 milyar dan bahan dasar kisah yang berasal dari novel klasik karya Buya Hamka, Film Di Bawah Lindungan Ka’bah harusnya bisa menjadi karya yang sedikit mengesankan. Sutradara Hanny R. Saputra seharusnya bisa memanfaatkan dua keuntungan besar itu untuk melakukan banyak hal: membuat skenario yang bagus, memilih pemain yang baik, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-912" href="http://rumahmimpi.net/2011/08/di-bawah-lindungan-iklan/dblk/"><img class="size-full wp-image-912 aligncenter" title="DBLK" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/08/DBLK.jpg" alt="DBLK" width="432" height="216" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan bujet yang konon mencapai Rp. 25 milyar dan bahan dasar kisah yang berasal dari novel klasik karya Buya Hamka, Film <em>Di Bawah Lindungan Ka’bah</em> harusnya bisa menjadi karya yang sedikit mengesankan. Sutradara<span style="color: #993300;"> </span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hanny_R._Saputra" target="_blank"><span style="color: #993300;">Hanny R. Saputra</span></a> seharusnya bisa memanfaatkan dua keuntungan besar itu untuk melakukan banyak hal: membuat skenario yang bagus, memilih pemain yang baik, dan kemudian menghasilkan film yang bermutu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai pengagum novel <em>Di Bawah Lindungan Ka’bah</em>, saya termasuk orang yang heboh sendiri ketika film ini sudah tayang di bioskop. Sejak lama saya memasukkan film ini ke “daftar film yang harus ditonton secepatnya”. Tapi, setelah menontonnya, saya justru menyesal dan mengeluarkan film produksi MD Pictures ini dari daftar yang saya buat. Tidak ada hal yang bisa saya katakan lagi mengenai film ini kecuali satu kata: mengecewakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu, saya pernah menulis esai singkat perihal dua novel Hamka, <em>Di Bawah Lindungan Ka’bah</em> dan <em>Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk</em>, dan mengambil kesimpulan yang menarik: Hamka menyajikan cara pandang yang berbeda dengan sastrawan-sastrawan Islam sesudahnya mengenai cinta. Sepanjang pembacaan saya atas dua novel itu, Hamka menyajikan cinta secara sangat melankolis, mendayu-dayu, sangat emosional. Ini sangat berbeda dengan gambaran cinta dalam novel-novel Habiburahman El Shirazy atau “penulis Islam” lain yang terafiliasi dalam Forum Lingkar Pena.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam karya-karya Habiburahman dan “penulis Islam” yang seangkatan dengan dia, cinta hadir secara terukur, penuh kalkulasi, dan agak eksak. Ini tidak lain disebabkan karena Habiburahman membungkus—juga membatasi—logika cinta dengan syariat agama. Sementara, Hamka memilih cara lain dalam mengungkapkan cinta. Islam tidak pernah dijadikan alat membatasi cinta oleh Hamka, tapi justru sebagai pendukung.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam novel <em>Di Bawah Lindungan Ka’bah</em>, kita justru menemui hal menarik: saat cinta Hamid dan Zainab tidak bisa disatukan di dunia, sepasang kekasih itu justru membuat keyakinan naif bahwa cinta mereka akan disatukan di akherat. Di sini, agama menjadi pendukung. Agama tidak pernah dihadap-hadapkan dengan cinta. (Saya tidak mau berpanjang lebar dengan topik ini dan sebaiknya Anda membaca <a href="http://rumahmimpi.net/2007/06/membaca-hamka-membaca-gelora-cinta/" target="_blank"><span style="color: #993300;">esai saya yang dimaksud</span></a> untuk mengenali argumentasi saya lebih jauh).</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pemikiran soal representasi cinta yang berbeda itulah, saya berharap akan mendapat hal yang sama dari film <em>Di Bawah Lindungan Ka’bah</em>. Saya berharap film ini mampu menjadi dokumentasi sosial kondisi Sumatra Barat tahun 1920-an dan bagaimana sepasang kekasih mesti menghadapi kungkungan norma sosial masyarakatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nyatanya, saya salah. Omongan ibunda Hamid dalam film ini benar: “Makin tinggi harapan, makin sakit jatuhnya.” Saya merasa sakit ketika menonton film ini dan sama sekali tidak mengenali jejak Hamka di sana. Akhirnya, film ini bahkan berakhir seperti film-film Hanny R. Saputra lainnya: melow tapi jelek, penuh cinta tapi justru membuat kita benci.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara singkat, <em>Di Bawah Lindungan Ka’bah</em> bercerita soal cinta tak sampai Hamid (Herjunot Ali)  dengan Zainab (Laudya Cynthia Bella). Hamid adalah anak seorang janda miskin yang bekerja pada keluarga Zainab. Atas kebaikan ayah Zainab (Didi Petet), Hamid bisa sekolah cukup tinggi hingga mampu menjadi guru ngaji di kampungnya. Masalah lalu muncul ketika Hamid jatuh hati pada Zainab dan demikian pula sebaliknya. Strata sosial keduanya, juga kondisi sosial kala itu, tak memungkinkan cinta mereka bersatu.</p>
<p style="text-align: justify;">Para pembuat film ini menambah sejumlah konflik baru yang tak ada dalam novel. Tapi, alih-alih memperkaya, penambahan ini justru merusak. Konflik utama film ini, yakni ketika Hamid diusir dari kampung gara-gara memberikan nafas buatan dari mulut ke mulut pada Zainab yang tenggelam ke sungai, adalah konflik berkualitas buruk. Pasalnya, kita tak bisa percaya Hamid yang hidup di desa pada 1920-an sudah mengetahui teknik nafas buatan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang juga janggal adalah ketika Hamid diusir dari kampung dan kemudian bekerja di stasiun. Kita tak mendapat gambaran sejauh apa stasiun dengan kampung Hamid, tapi sejumlah adegan menunjukkan stasiun ini adalah penghubung kampung tersebut dengan dunia luar. Artinya, jarak stasiun dengan kampung tersebut tak terlampau jauh sehingga tak ada alasan untuk berlebay-lebay bahwa Hamid dan Zainab telah terpisahkan jarak sangat jauh.</p>
<p style="text-align: justify;">Masalah lain adalah kualitas akting Herjunot Ali dan Laudya Cynthia Bella yang tak terlampau bagus. Naskah film ini banyak menyajikan adegan-adegan melow yang dramatis sehingga dibutuhkan pemain yang matang untuk melakoninya. Bila tidak, seperti terjadi dalam film ini, hasil adegan-adegan tersebut pastilah lebay.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, masalah utama film ini adalah masuknya iklan sejumlah produk yang sangat telanjang, keterlaluan, dan bahkan menuju vandalisme. Gery Chocolatos, Baygon, dan Kacang Garuda adalah tiga produk yang hadir secara sangat keterlaluan dan tidak memperhitungkan konteks sama sekali. Di banyak resensi membahas film ini yang beredar di internet, sudah banyak yang mengecam masuknya iklan di film ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya, masuknya iklan-iklan dalam <em>Di Bawah Lindungan Ka’bah</em> telah sangat keterlaluan sehingga dengan sinis harus dikatakan: judul film ini sebaiknya diganti menjadi <em>Di Bawah Lindungan Iklan</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Sukoharjo, 31 Agustus 2011</p>
<p style="text-align: justify;">Haris Firdaus</p>
<p>foto diambil dari<span style="color: #993300;"> <a href="http://artis.inilah.com/read/detail/1766574/di-bawah-lindungan-kabah-film-berbiaya-rp25-miliar" target="_blank"><span style="color: #993300;">sini</span></a></span></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F08%2Fdi-bawah-lindungan-iklan%2F&amp;title=Di%20Bawah%20Lindungan%20Iklan"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/08/di-bawah-lindungan-iklan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang “Eat, Pray, Love” dan Apakah Kita Bahagia</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2010/10/tentang-%e2%80%9ceat-pray-love%e2%80%9d-dan-apakah-kita-bahagia/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2010/10/tentang-%e2%80%9ceat-pray-love%e2%80%9d-dan-apakah-kita-bahagia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Oct 2010 13:30:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Eat Pray Love]]></category>
		<category><![CDATA[Elizabeth Gilbert]]></category>
		<category><![CDATA[Julia Roberts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=572</guid>
		<description><![CDATA[Saya menonton Eat, Pray, Love dengan ekspektasi yang tak terlampau tinggi karena sudah mendapat peringatan. Tiga ulasan film ini—masing-masing ditulis oleh Leila S Chudori di Majalah Tempo, Bambang Sulistiyo di Majalah Gatra, dan Is Mujiarso di Detik.com—semuanya memberi pesan: film ini tidak terlampau mengesankan.
Dan mereka semua benar. Pernyataan Leila bahwa film ini membosankan, pendapat Is [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-573" title="EPL" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2010/10/eat-pray-love-detail-300x200.jpg" alt="EPL" width="363" height="242" />Saya menonton <em>Eat, Pray, Love </em>dengan ekspektasi yang tak terlampau tinggi karena sudah mendapat peringatan. Tiga ulasan film ini—masing-masing ditulis oleh Leila S Chudori di Majalah <em>Tempo</em>, Bambang Sulistiyo di Majalah <em>Gatra</em>, dan Is Mujiarso di Detik.com—semuanya memberi pesan: film ini tidak terlampau mengesankan.</p>
<p>Dan mereka semua benar. Pernyataan Leila bahwa film ini membosankan, pendapat Is Mujiarso bahwa kisah film ini tidak mempunyai kedalaman, juga penilaian Bambang bahwa <em>Eat, Pray, Love</em> sangat Hollywood—semuanya sudah saya buktikan. Tapi, bagi saya, kelemahan utama film ini adalah tesisnya yang mengatakan bahwa “pencarian jati diri” adalah sesuatu yang akan mencapai titik akhir. Seolah-olah, setelah diri yang sejati itu ditemukan, kita akan bahagia selamanya.</p>
<p>Ketika <em>Eat, Pray, Love</em> diakhiri dengan adegan Elizabeth Gilbert (Julia Roberts) dan Felipe (Javier Bardem)  naik ke perahu untuk pergi berkemah di sebuah pulau terpencil, lalu mereka berciuman dengan buas di tengah perjalanan, kita mendapati sebuah akhir yang statis. Rupanya, pencarian Liz—panggilan akrab Elizabeth—telah berakhir dan kini dia akan bahagia selamanya dengan duda asal Brasil yang buka usaha di Bali itu.</p>
<p>Karena film ini didasarkan pada novel biografis yang berbasiskan pada kisah nyata, kita bisa menduga bahwa Liz akhirnya benar-benar bahagia dengan sang duda di kehidupan mereka yang riil. Tapi, saya tidak tahu, benarkah kisah manis itu yang terjadi. Mungkin saja tidak. Atau, setidaknya, Liz tidak terus-menerus bahagia. Dan tidak terus-menerus merasa menemukan jati diri.</p>
<p>Dalam prosedur filsafat teoretis yang pernah saya pelajari sedikit-sedikit, “jati diri” itu sebenarnya tidak ada. Dalam artian, tidak ada diri yang sejati, yang statis, dan tak berubah. Memakai metafora dalam <em>Eat, Pray, Love</em>, tidak ada sebuah kata yang benar-benar tepat untuk merepresentasikan seseorang. Tapi kita tahu, di akhir film, Liz telah memilih sebuah kata untuk mewakili dirinya sendiri, seolah-olah kata itu akan menjadi identitasnya selamanya.</p>
<p>Saya percaya, pilihan Liz itu salah. Mungkin dia melakukannya karena merasa telah menemukan cinta sejatinya pada Felipe. Tapi percaya pada cinta sejati hanyalah bualan paling absurd dalam film-film Hollywood. Saya kira, orang-orang Hollywood terus-menerus memunculkan cinta sejati dalam film-film mereka justru karena dalam kenyataan, mereka jarang atau malah tak pernah menemukannya.</p>
<p>Betapa anehnya melihat Liz bertanya-tanya soal cinta sejatinya pada Felipe setelah keduanya bercinta habis-habisan selama beberapa hari. Ketidakmampuan orang-orang ini memisahkan perasaan dan birahi adalah penghalang terbesar bagi mereka untuk menemukan, atau memahami, apa itu cinta sejati. Saya tahu, pendapat ini memang terdengar konservatif, tapi sebuah perasaan yang murni—jika dia memang ada—harusnya tak terikat pada hal-hal lain: birahi dalam kasus Hollywood, atau komitmen dalam kasus di belahan dunia lain.</p>
<p>***</p>
<p>Dalam hal tertentu, kita adalah Elizabeth Gilbert tapi sekaligus bukan dia.</p>
<p>Pada suatu hari atau suatu waktu, ketika sedang sendirian dan tidak melakukan apa-apa, kita mungkin menemui pertanyaan-pertanyaan tertentu tentang hidup dan segala hal yang kita jalani. Apakah kita sedang melakukan hal yang benar, apakah kita memang benar-benar ingin mengerjakan ini, dan apakah kita bahagia—itu kalimat-kalimat standar yang biasa muncul dalam pikiran kita dalam saat-saat semacam itu.</p>
<p>Saya seringkali mengalami momen semacam itu saat berbaring di dalam kamar kos yang saya yang sempit, penuh barang dan buku, dan kadang-kadang pengap. Biasanya saat itu malam hari, ketika saya pulang dari kantor dan merasa sangat kelelahan. Semua pertanyaan itu tidak terjawab, karena saya terlanjur terlelap. Esok hari, saya bangun dan melupakan semuanya.</p>
<p>Tapi Liz terbangun pada suatu malam dengan mata sembap dan merasa dunia sudah berakhir. Ia menceraikan suaminya, mencintai seorang aktor teater yang percaya pada yoga, namun semuanya tetap tidak membaik. Akhirnya, ya mau bagaimana lagi, pencarian jati diri itu harus dimulai. Tapi, pertanyaannya, memang sebelum ini dia tak pernah berpikir soal jati diri?</p>
<p>Bagi saya<em>, Eat, Pray, Love</em> melakukan dua hal yang sebenarnya bertolak belakang: mendramatisir pencarian jati diri—seolah-olah hal semacam itu memang sangat genting—tapi sekaligus membuatnya jadi simpel. Mempertanyakan segala hal yang terjadi dalam hidup kita itu sebenarnya biasa, tidak perlu mata sembab dan perceraian segala. Ini sebuah kodrat yang harus diterima dengan perasaan ringan-ringan saja.</p>
<p>Di sisi lain, sebenarnya pertanyaan-pertanyaan itu tak bisa benar-benar berhenti. Bahkan setelah kita melakukan sebuah perubahan besar dan merasa tercerahkan, pertanyaan tidak pernah berhenti mengalir. Itu sebabnya, tak pernah ada “jati diri” dalam pengertian statis. Kita selalu berubah dan mengelak. Dan kita akan terus bertanya-tanya: “Apakah kita bahagia”?—meskipun kita bukan Elizabeth Gilbert.</p>
<p>Jakarta, 24 Oktober 2010</p>
<p>Haris Firdaus</p>
<p>Foto diambil dari <a href="http://www.lovelytoday.com/entertainment/2010/07/26/2663/julia-roberts-terhipnotis-buku-eat-pray-love" target="_self">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2010%2F10%2Ftentang-%25e2%2580%259ceat-pray-love%25e2%2580%259d-dan-apakah-kita-bahagia%2F&amp;title=Tentang%20%E2%80%9CEat%2C%20Pray%2C%20Love%E2%80%9D%20dan%20Apakah%20Kita%20Bahagia"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2010/10/tentang-%e2%80%9ceat-pray-love%e2%80%9d-dan-apakah-kita-bahagia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Oase di Taman Victoria</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2010/08/sebuah-oase-di-taman-victoria/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2010/08/sebuah-oase-di-taman-victoria/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 09:48:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Lola Amaria]]></category>
		<category><![CDATA[Minggu Pagi di Victoria Park]]></category>
		<category><![CDATA[Titi Sjuman]]></category>
		<category><![CDATA[TKW Hongkong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=542</guid>
		<description><![CDATA[
Setiap orang membutuhkan sebuah oase, dan bagi para tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di Hongkong, oase itu bernama Victoria Park.  Di taman yang terletak di tengah kota Hongkong itu,  para TKW kita biasa berkumpul tiap hari Minggu—saat mereka semua libur—untuk bergaul satu sama lain.
Biasanya, mereka bergerombol membentuk kelompok-kelompok kecil dan melakukan kegiatan yang berbeda. Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-547" title="minggu-pagi-di-victoria-park3" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2010/08/minggu-pagi-di-victoria-park3.jpg" alt="minggu-pagi-di-victoria-park3" width="480" height="230" /></p>
<p style="text-align: justify;">Setiap orang membutuhkan sebuah oase, dan bagi para tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di Hongkong, oase itu bernama Victoria Park.  Di taman yang terletak di tengah kota Hongkong itu,  para TKW kita biasa berkumpul tiap hari Minggu—saat mereka semua libur—untuk bergaul satu sama lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Biasanya, mereka bergerombol membentuk kelompok-kelompok kecil dan melakukan kegiatan yang berbeda. Ada yang berlatih tari poco-poco, menggelar pengajian, belajar menulis, sampai menonton konser band. Karena sejumlah alasan, Hongkong menjadi salah satu negara tujuan favorit bagi TKW-TKW Indonesia. Jumlah TKW kita di negara itu sekira 130.000 dan tak diragukan, hampir semuanya akan tumpah ruah di Victoria Park pada hari Minggu.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tak tahu seberapa luas Taman Victoria itu, tapi seorang kawan menyebut taman itu lebih luas dari kawasan Monas di Jakarta. Meski lumayan luas, tetap saja Victoria Park akan terasa sesak di hari Minggu karena banyaknya orang Indonesia yang berkumpul di sana. Saking banyaknya orang Indonesia di taman itu, Victoria Park di hari Minggu seolah menjadi sebuah Indonesia kecil, tempat kita bisa menemukan wanita-wanita berdandanan mencolok tapi ngobrol dalam bahasa Jawa medok khas Jawa Timur.</p>
<p style="text-align: justify;">Gambaran tentang relasi Victoria Park dengan para TKW Indonesia itu bisa kita simak dalam Film<em> Minggu Pagi di Victoria Park</em> yang disutradarai Lola Amaria. Secara garis besar, film ini berkisah tentang kehidupan para TKW Indonesia di Hongkong beserta sederet problem yang menyertai mereka. Selain menjadi sutradara, Lola Amaria juga berperan menjadi Mayang, seorang TKW asal Gempol, Surabaya, yang berangkat ke Hongkong dengan tujuan utama mencari adiknya bernama Sekar (Titi Sjuman).</p>
<p style="text-align: justify;">Upaya Mayang mencari Sekar inilah yang menjadi plot utama <em>Minggu Pagi</em>. Alkisah, Sekar yang lebih dulu bekerja di Hongkong terlilit utang dengan lembaga perkreditan setempat yang memberlakukan bunga tinggi. Dia tak bisa pulang ke tanah air sebelum melunasi utangnya karena nomor paspornya diblokir. Problem ini ditambahi dengan konflik pribadi antara Mayang dengan Sekar yang timbul sejak mereka masih kecil. Mayang merasa iri dengan Sekar karena adiknya itu punya banyak kelebihan dibanding dia dan selalu lebih disayangi oleh ayah mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sela-sela kisah utama ini, <em>Minggu Pagi</em> menghadirkan sejumlah problem yang selama ini dihadapi para TKW di Hongkong. Bersama timnya, Lola Amaria melakukan riset yang lumayan panjang dan mendalam sehingga mereka bisa menghasilkan representasi yang cukup meyakinkan ihwal kehidupan TKW Indonesia di Hongkong.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya beruntung bisa bertemu dengan Lola serta dua produser <em>Minggu Pagi</em>, yakni Dewi Umayah Rachman serta Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noel—yang terakhir ini adalah vokali band Letto. Ketiganya banyak bercerita tentang hal-hal menarik yang mereka temui dalam pembuatan film ini. Banyak hal yang tak terjelaskan secara baik dalam film menjadi terlengkapi oleh penjelasan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya, misalnya, mendapatkan penjelasan kenapa banyak TKW kita yang menjadi lesbian setelah berada di Hongkong. Ya, dalam <em>Minggu Pagi</em>, kita memang menjumpai sejumlah TKW yang berpacaran dengan sesama perempuan. Menariknya, kebanyakan perempuan lesbi ini memiliki suami di Indonesia—artinya orientasi seksual mereka di tanah air sebenarnya heteroseksual. Di film, seingat saya, tak ada penjelasan kenapa fenomena ini marak di Hongkong. Ternyata, jawaban dari masalah ini sangat menarik.</p>
<p style="text-align: justify;">Lola menyatakan, para TKW yang berada di Hongkong ini umumnya berasal dari keluarga yang taat beragama. Sejak kecil, mereka didoktrin bahwa hubungan badan antara lelaki dengan perempuan yang tidak terikat pernikahan merupakan sebuah dosa besar. Masalahnya, karena mereka berpisah ribuan meter dari suami mereka, para TKW ini mau tak mau harus memiliki saluran untuk melampiaskan hasrat seksual mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena tak mau melakukan zina dengan lelaki, mereka akhirnya memutuskan menjadi lesbian. Ya, segampang dan sesimpel itulah pikiran mereka. Tatkala kembali ke tanah air, para TKW ini bisa dengan cepat beralih kecenderungan seksual. Mereka bisa secepat kilat mencintai suami mereka kembali dan melupakan pasangan lesbi mereka di Hongkong.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain menjadi lesbian, para TKW ini ada pula yang mati-matian jatuh cinta pada lelaki-lelaki asal Pakistan dan Bangladesh. Apa alasannya? Kenapa mereka tidak banyak tertarik dengan orang Hongkong sendiri, misalnya? Ternyata, kebanyakan TKW-TKW di sana itu berasal dari pedesaan di Jawa Timur yang sejak kecil gemar menonton film-film India.</p>
<p style="text-align: justify;">Kegemaran inilah yang membentuk “standar” ketampanan pria di benak mereka. Bagi mereka, pria yang ganteng adalah yang mirip Shahrukh Khan. Karenanya, mereka sangat mudah terpikat pada rayuan gombal lelaki-lelaki Pakistan yang mukanya rada-rada setipe dengan Shahrukh Khan.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal, seperti yang dengan bagus digambarkan dalam <em>Minggu Pagi</em>, kebanyakan lelaki asal Pakistan ini hanya memanfaatkan para TKW Indonesia sebagai mesin ATM mereka. Pria-pria tak tahu malu ini memacari TKW-TKW kita supaya mereka bisa “numpang hidup”. Akibatnya, banyak TKW yang akhirnya kehabisan uang karena terus menerus memanjakan pacarnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Minggu Pagi</em> memang tidak diadasari sebuah <em>true story</em>, tapi film ini dirancang dari <em>true event</em>. Artinya, kisah pencarian yang dilakukan Mayang dalam film ini memang fiktif, tapi pelbagai kejadian dan masalah yang dihadapi para TKW di Hongkong merupakan sesuatu yang nyata ada. Kisah Sekar yang terlilit utang dengan lembaga kredit yang memberlakukan bunga tinggi, contohnya, merupakan kejadian yang seringkali dialami para TKW di kehidupan nyata.</p>
<p style="text-align: justify;">TKW yang meminjam uang dari lembaga semacam itu harus menyerahkan nomor paspor, dan selama mereka belum melunasi utang, mereka tak bisa pulang ke tanah air. Sebab, nomor paspor mereka telah didaftarkan ke pihak imigrasi setempat untuk diblokir. Jebakan hutang itu kerap terjadi bukan karena TKW-TKW itu hidup bermewah-mewahan. Justru tekanan dari keluarga mereka di tanah air yang membuat problem semacam itu muncul. TKW-TKW itu dianggap sudah menjadi orang sukses sehingga mereka diminta mengirimkan uang dalam jumlah banyak ke keluarganya untuk kemudian dibelikan barang-barang konsumtif, seperti motor dan kulkas.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski Hongkong secara umum merupakan tempat yang nyaman bagi TKW—di sini, para majikan umumnya baik-baik dan para TKW diberi hari libur selama sehari tiap minggu—bukan berarti para TKW ini senantiasa bahagia. Dalam hal inilah, berkumpul di Victoria Park menjadi sebuah pilihan untuk melupakan masalah. Di Victoria Park, mereka bisa bahagia atau setidaknya berbagi kesedihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana diperlihatkan dalam <em>Minggu Pagi</em>, bagi para TKW itu, Victoria Park memang sebuah oase.</p>
<p style="text-align: justify;">Haris Firdaus</p>
<p style="text-align: justify;">gambar diambil dari <a href="http://adithiarangga.wordpress.com/2010/06/12/my-review-is-sucks-minggu-pagi-di-victoria-park/" target="_blank">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2010%2F08%2Fsebuah-oase-di-taman-victoria%2F&amp;title=Sebuah%20Oase%20di%20Taman%20Victoria"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2010/08/sebuah-oase-di-taman-victoria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Cinta Sebuah Keluarga</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2010/07/kisah-cinta-sebuah-keluarga/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2010/07/kisah-cinta-sebuah-keluarga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jul 2010 06:26:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[arumi bachsin]]></category>
		<category><![CDATA[laura basuki]]></category>
		<category><![CDATA[reza rahadian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=517</guid>
		<description><![CDATA[
Film yang diilhami dari dwilogi novel karya Ben Sohib. Gabungan drama romantis dan komedi. Produksi komersial yang cukup berani mengangkat tema sosial soal benturan agama dan etnisitas.
Konflik ayah-anak itu dimulai dari persoalan sederhana: peci. Bagi Mansur (Rasyid Karim), seorang Betawi keturunan Arab, peci merupakan simbol kesalehan dan ketaatan pada ajaran Islam. Sedangkan bagi Rosid (Reza [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --><img class="aligncenter size-medium wp-image-518" title="3 hati" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2010/07/3-hati-300x200.jpg" alt="3 hati" width="300" height="200" /></p>
<p>Film yang diilhami dari dwilogi novel karya Ben Sohib. Gabungan drama romantis dan komedi. Produksi komersial yang cukup berani mengangkat tema sosial soal benturan agama dan etnisitas.</p>
<p>Konflik ayah-anak itu dimulai dari persoalan sederhana: peci. Bagi Mansur (Rasyid Karim), seorang Betawi keturunan Arab, peci merupakan simbol kesalehan dan ketaatan pada ajaran Islam. Sedangkan bagi Rosid (Reza Rahadian), anak Mansur, peci hanyalah bagian dari tradisi, bukan ajaran Islam.</p>
<p>Karena itu, Rosid menolak perintah ayahnya untuk memakai peci. Dan penolakan itu punya alasan jitu: tak ada peci yang muat untuk menutupi rambut kribo Rosid. Begitulah film <em>3 Hati: 2 Dunia, 1 Cinta</em> produksi Mizan Productions dimulai.</p>
<p>Film yang mengambil kisah dari<em>Novel Da Peci Code</em> serta <em>Balada Rosid dan Delia</em> karya Ben Sohib ini disutradarai Benni Setiawan &#8211;sebelumnya menggarap film <em>Bukan Cinta Biasa</em> dan <em>Cinta Dua Hati</em>. 3 Hati adalah gabungan drama romantis, komedi, dan kisah sosial soal benturan agama dan etnisitas.</p>
<p>Bukan hanya menghadirkan ketegangan dalam satu tradisi etnis dan agama, film ini juga memunculkan ketegangan antar-tradisi dan antar-agama. Alkisah, setelah berdarah-darah bertikai dengan ayahnya soal peci, Rosid kembali memicu ketegangan di dalam keluarganya karena berpacaran dengan Delia (Laura Basuki), gadis keturunan Manado beragama Katolik.</p>
<p>Jika dalam urusan peci saja &#8211;yang bisa dibilang &#8220;sepele&#8221;&#8211; pertikaian ayah-anak itu demikian hebatnya, bisa dibayangkan bagaimana marahnya Mansur melihat anaknya berpacaran dengan gadis beda agama. Setelah nasihat dan bentakan lisan untuk membujuk Rosid meninggalkan Delia tak mempan, Mansur menggunakan cara lain. Dari mengerahkan bantuan dukun hingga menjodohkan Rosid dengan seorang gadis muslim berwajah cantik bernama Nabila (Arumi Bachsin).</p>
<p>Film 3 Hati tidak hanya berkisah soal cinta dan tegangan agama. Film ini juga merupakan drama keluarga yang bercerita tentang bagaimana individu-individu dalam keluarga berusaha keras untuk terus saling mencintai, meski dirintangi pelbagai problem. Soal semacam ini tampak pada hubungan Rosid yang sangat intim dengan Muzna (Henidar Amroe), ibunya, juga hubungannya dengan Mansur yang membentuk tipe &#8220;benci tapi rindu&#8221; yang sesungguhnya romantis.</p>
<p>Reza Rahadian, Rasyid Karim, dan Henidar Amroe tampil cukup menawan membawakan peran masing-masing dan membentuk sebuah keluarga yang terombang-ambing antara tarikan agama dan rasa kasih sayang.</p>
<p>Pesan romantis film ini kian dipertegas dengan atribut Rosid sebagai pengagum W.S. Rendra. Poster-poster penyair &#8220;si Burung Merak&#8221; itu hadir secara intens dalam setting kamar Rosid. Selain itu, sejumlah puisi Rendra juga dihadirkan secara verbal dalam kemasan adegan yang cukup pas. Film 3 Hati bisa dibilang sebagai persembahan untuk W.S. Rendra.</p>
<p>Salah satu adegan mengharukan dalam film ini juga melibatkan puisi Rendra. Yakni ketika Rosid membacakan puisi untuk ibunya pada suatu malam di ruang tengah rumah mereka. Dengan suara sedikit serak dan gaya seadanya, Rosid membaca puisi Surat kepada Bunda karya Rendra di hadapan ibunya. Benni Setiawan mengemas adegan ini dengan syahdu dan mengharukan.</p>
<p>Sayangnya, keberanian Benni memaparkan konflik &#8211;yang seringkali dihindari sebagai tema dalam produksi film komersial di Indonesia&#8211; dan keberhasilannya mengail keharuan penonton tidak dilengkapi dengan ending yang lugas.</p>
<p>Benni terlalu jauh mengurai keberpihakannya pada cinta; sampai pada tahap yang menyulitkan dirinya sendiri dalam merekomendasikan sebuah penyelesaian. Dan pada saat itu, sebagai sutradara sekaligus penulis skenario, ia seperti kehilangan keberanian dan terombang-ambing dalam situasi serba-salah. Gereget film yang dibangun dari awal jadi terbengkalai di bagian akhir.</p>
<p>Haris Firdaus</p>
<p>Dimuat di Majalah GATRA Edisi 1-7 Juli 2010</p>
<p>Gambar diambil dari <a href="http://ahmadsamantho.wordpress.com/2010/04/09/3-hati-dua-dunia-satu-cinta/" target="_blank">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2010%2F07%2Fkisah-cinta-sebuah-keluarga%2F&amp;title=Kisah%20Cinta%20Sebuah%20Keluarga"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2010/07/kisah-cinta-sebuah-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eksotika Timur yang Kumuh</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2010/04/eksotika-timur-yang-kumuh/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2010/04/eksotika-timur-yang-kumuh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 08:43:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Danny Boyle]]></category>
		<category><![CDATA[orientalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Slumdog Millionaire]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=502</guid>
		<description><![CDATA[
Sesaat sesudah saya menonton Film Slumdog Millionaire (Danny Boyle, 2008), saya tahu—seperti orang waras lainnya—bahwa film itu dibuat dengan teknik sinematografi yang bagus. Alur ceritanya yang maju-mundur itu sungguh luar biasa, teknik pengambilan gambarnya bagus, akting para pemainnya sip.
Seorang kawan berkomentar bahwa semua adegan di film itu saling berhubungan satu sama lain, sehingga tak ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="Slumdog" src="http://titoeyt0cherry.files.wordpress.com/2009/08/slumdog-millionaire-f02.jpg" alt="" width="271" height="242" /></p>
<p>Sesaat sesudah saya menonton Film <em>Slumdog Millionaire</em> (Danny Boyle, 2008), saya tahu—seperti orang waras lainnya—bahwa film itu dibuat dengan teknik sinematografi yang bagus. Alur ceritanya yang maju-mundur itu sungguh luar biasa, teknik pengambilan gambarnya bagus, akting para pemainnya sip.</p>
<p>Seorang kawan berkomentar bahwa semua adegan di film itu saling berhubungan satu sama lain, sehingga tak ada yang namanya kemubaziran. Saya sependapat dengan dia dan saya kira banyak yang juga berpendapat demikian.<span id="more-502"></span></p>
<p>Tapi selama menonton <em>Slumdog Millionaire</em>, saya juga merasa gelisah atas penggambaran India yang begitu kumuh, miskin, jelek, sementara pihak barat direpresentasikan sebaliknya. Masalah ini sebenarnya sangat klasik dan saya terkejut masih menjumpainya sekarang dalam sebuah film yang oleh banyak kritikus dipuji setinggi langit.</p>
<p>Tanpa ragu-ragu, saya harus mengatakan: <em>Slumdog Millionaire</em>, bagi saya, merepresentasikan cara pandang yang barat-sentris dalam melihat, menampilkan, dan kemudian menilai dunia timur.</p>
<p><em>Slumdog</em>, entah sengaja atau tidak, telah mengandung sejenis orientalisme yang selama ratusan tahun lampau telah dimulai oleh para penjelalah kolonial. Inti gagasannya adalah melihat dunia timur sebagai sesuatu yang “berbeda” dengan barat dan pembedaan ini kemudian diberi nilai tinggi-rendah. Barat itu tinggi, timur rendah; barat baik, timur jelek; barat maju, timur terbelakang; barat beradab, timur biadab. Anda bisa menambahkan deret oposisi biner semacam itu—intinya tetap sama.</p>
<p>Cara pandang macam ini, tentu saja sudah digugat dan bahkan di barat hal demikian sebenarnya telah ditolak oleh sebagian besar orang. Banyak aktivis budaya tanding di Eropa dan Amerika Serikat tahun 1960-an yang menganggap timur sebagai dunia yang jauh lebih baik ketimbang barat—dan karenanya mereka mencoba melakukan gerakan “berpaling ke timur”.</p>
<p>Tentu saja, sebenarnya, apa yang dilakukan para pegiat budaya tanding ini hanyalah orientalisme gaya baru sebab mereka terus saja memandang timur sebagai sesuatu yang ajeg dan eksotis.</p>
<p>Tapi cara pandang <em>Slumdog Millionaire</em> benar-benar barat-sentris dalam caranya yang paling klasik—dan karena film ini adalah adaptasi dari novel <em>Q&amp;A</em> karya Vikas Swarup, saya menduga bahwa novel itu juga barat-sentris. Fakta ini begitu telanjang sejak awal saat acara kuis televisi <em>Who Wants To Be A Millionaire</em> dipilih sebagai semacam surga penyelamat. Saya tidak terlampau paham kenapa acara itu dijadikan sebagai bagian yang sangat signifikan dalam film—seolah-olah <em>Slumdog</em> adalah promosi besar-besaran <em>Who Wants To Be A Millionaire</em>.</p>
<p>Kita tidak bisa mengabaikan acara <em>Who Wants To Be A Millionaire</em> dalam <em>Slumdog</em> karena jika kita melakukannya, kita akan kehilangan sesuatu yang secara signifikan membedakan film itu dengan roman-picisan biasa. Pada dasarnya, <em>Slumdog</em> adalah cerita klasik tentang seorang anak miskin yang sangat sengsara yang kemudian meraih kekayaan dan cintanya. Benar bahwa kisah macam ini akan menginspirasi sebagian orang, tapi jangan lupa cerita begitu akan membuat sebagian orang lainnya bosan pada pandangan pertama.</p>
<p>Ada dua hal yang membuat kisah <em>Slumdog</em> jadi tak biasa: (a) latar kota Mumbay yang kumuh, penuh problematika, dan oleh karenanya eksotik; dan (b) pemakaian kuis <em>Who Wants To Be A Millionaire</em>.</p>
<p>Seperti kita ketahui, <em>Who Wants To Be A Millionaire</em> merupakan kuis yang berasal dari barat—diputar pertama kali di Inggris pada 4 September 1998, acara ini sudah menyebar paling sedikit ke 100 negara. Bukankah ini begitu telanjang? Seorang anak miskin asal India (timur) yang terseok-seok hidupnya akhirnya tertolong oleh sebuah kuis asal Inggris (barat). Bukankah skema ini bisa diganti seperti ini: timur yang miskin/kumuh/sengsara berhasil mengentaskan diri atas bantuan barat yang kaya/baik?</p>
<p>Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa <em>Who Wants To Be A Millionaire</em> merupakan bagian dari acara yang sepenuhnya ditujukan buat menghibur penonton—tentu saja, naif membayangkan produser acara ini adalah seorang dermawan yang membuat kuis untuk menolong gembel miskin dari kota kumuh.</p>
<p>Memahami ini, kita akan sadar ironi itu: bagi Jamal Malik dalam <em>Slumdog</em>, kuis <em>Who Wants To Be A Millionaire</em> adalah dewa penyelamat, tapi bagi produser dan para penonton, acara itu semata-mata merupakan <em>hiburan</em>.</p>
<p>Jadi, semua penderitaan Jamal yang selama kuis terus diintrodusir—sebutannya sebagai pelayan pembawa teh, pertanyaan-pertanyaan soal berapa gajinya, dll—merupakan fakta-fakta yang dihadirkan hanya agar acara itu tambah menghibur. Bukankah menyakitkan mengetahui penderitaan seseorang adalah hiburan bagi yang lainnya?</p>
<p>Cara pandang barat-sentris juga hadir secara amat jelas dalam sebuah adegan singkat saat Jamal remaja memandu seorang turis asal Amerika Serikat. Sesudah memperkenalkan sebuah tempat mencuci massal yang kumuh—tapi bagi dua turis AS, tempat macam ini pastilah eksotis—Jamal membawa suami-istri AS dan seorang sopirnya asal India kembali ke tempat mereka memarkir mobil. Ternyata, mobil yang mereka sewa sudah dipreteli oleh anak-anak jalanan setempat.</p>
<p>Sang sopir yang menduga Jamal berkomplot dengan para pencuri, kemudian menghajarnya tanpa ampun. Melihat itu, kedua turis berusaha melerai dan saat itulah Jamal berkata: “Kalian ingin tahu India yang sebenarnya? Inilah India yang sebenarnya itu!”</p>
<p>Mendengar itu, si turis perempuan berkata balik: “Tidak. Kau akan melihat Amerika yang sebenarnya.” Ia segera meminta suaminya untuk memberi uang pada sang sopir dan Jamal pun terbebas dari hajaran.</p>
<p>Jadi, kekerasan adalah “India yang sebenarnya” sementara kedamaian adalah “Amerika yang sebenarnya”. Bukankah adegan itu menghadirkan cara pandang barat-sentris yang kasar dalam caranya yang paling harfiah dan tak malu-malu?</p>
<p>Fakta bahwa <em>Slumdog Millionaire</em> meraih banyak penghargaan dari dunia film barat—film ini mendapat empat Golden Globes dan delapan Piala Oscar—mungkin membuktikan bahwa orang-orang barat ternyata masih menyukai pandangan barat-sentris terhadap timur.Sampai saat ini, sebagian dari mereka mungkin masih membayangkan dunia timur sebagai dunia yang eksotis, tradisional, sekaligus kumuh dan miskin.</p>
<p>Judul <em>Slumdog</em> sendiri sebenarnya secara jelas menyampaikan, secara amat kasar, bahwa orang-orang barat masih menganggap masyarakat timur sebagai “anjing kumuh”—lebih tepatnya: “anjing kumuh” yang menjadi jutawan karena pertolongan barat.</p>
<p>Haris Firdaus</p>
<p>gambar diambil dari <a href="http://titoeyt0cherry.files.wordpress.com/2009/08/slumdog-millionaire-f02.jpg" target="_blank">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2010%2F04%2Feksotika-timur-yang-kumuh%2F&amp;title=Eksotika%20Timur%20yang%20Kumuh"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2010/04/eksotika-timur-yang-kumuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

