<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Mimpi &#187; Personal</title>
	<atom:link href="http://rumahmimpi.net/category/personal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahmimpi.net</link>
	<description>mimpi adalah semangat. dan perlu sebuah rumah buat menampungnya.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 09:26:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Suatu Pagi di Bundaran HI</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/07/suatu-pagi-di-bundaran-hi/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/07/suatu-pagi-di-bundaran-hi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jul 2011 11:12:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Bundaran Hotel Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Chrispoher Koch]]></category>
		<category><![CDATA[Edhi Sunarso]]></category>
		<category><![CDATA[The Year of Living Dangerously]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=760</guid>
		<description><![CDATA[
Remaja lelaki itu kelihatan sangat memelas. Saya tidak bisa mendengar perkataannya, namun melihat mimik wajahnya, saya tahu dia sedang berbicara tentang sesuatu yang sangat serius. Barangkali dia sedang meminta maaf pada perempuan yang duduk di hadapannya itu. Mereka mungkin sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Bisa jadi si cowok telah melakukan kesalahan dan pacarnya itu marah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-921" href="http://rumahmimpi.net/2011/07/suatu-pagi-di-bundaran-hi/bhi/"><img class="aligncenter size-full wp-image-921" title="BHI" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/07/BHI.jpg" alt="BHI" width="518" height="346" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Remaja lelaki itu kelihatan sangat memelas. Saya tidak bisa mendengar perkataannya, namun melihat mimik wajahnya, saya tahu dia sedang berbicara tentang sesuatu yang sangat serius. Barangkali dia sedang meminta maaf pada perempuan yang duduk di hadapannya itu. Mereka mungkin sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Bisa jadi si cowok telah melakukan kesalahan dan pacarnya itu marah besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Di bawah siraman lampu kawasan Bundaran Hotel Indonesia, adegan itu tampak sangat romantis. Sang perempuan kelihatan benar-benar marah, sementara si lelaki tampak menyesal sungguh-sungguh. Saya tidak tahu siapa mereka. Kalau melihat dari tampilan fisiknya, mereka bisa jadi sepasang remaja jalanan yang biasa menghabiskan hidupnya di pelosok jalanan Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat mengunjungi kawasan Bundaran Hotel Indonesia (BHI) beberapa malam lalu, pandangan saya tak bisa lepas dari pasangan itu. Soalnya, menurut saya, adegan tersebut benar-benar dramatis. Saya mungkin sedikit lebay karena kelelahan malam itu, tapi sungguh saya masih merasa bisa mengingat wajah lelaki yang duduk bersimpuh dengan gestur seolah-olah telah melakukan dosa paling khianat di dunia itu. Bahkan ketika hujan mulai turun di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, pasangan tersebut tak beranjak. Mereka tetap bertahan di dekat kolam yang mengelilingi Patung Selamat Datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari seberang jalan, di bawah pohon berukuran sedang di depan Hotel Indonesia yang saya jadikan tempat berteduh, saya masih melihat si lelaki memohon-mohon. Dan perempuan itu kelihatannya terus-menerus marah. Drama apakah ini sebenarnya? Saya meneguk <em>capuccino</em> murahan yang saya beli dari 7-Eleven Thamrin, melihat hujan terus turun, dan berharap kedua orang itu bisa segera mencari tempat teduh untuk menyelesaikan masalah mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit kemudian, saat rintik hujan turun secara lebih cepat, sepasang kekasih itu akhirnya beranjak. Mereka menyeberang, berjalan ke arah daerah Kebon Kacang. Ketika hujan reda beberapa saat berselang dan saya kembali duduk-duduk di dekat kolam kawasan BHI, saya tak bisa lagi menemukan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Di samping saya saat itu hanya ada S dan K, dua kawan sekos saya. Di dekat kami duduk-duduk, segerembolan pengendara sepeda sedang nongkrong. Mereka membeli kopi seduh <em>sachetan</em> dari penjual kopi keliling yang segera saja mendekat ke kolam BHI saat tahu ada “konsentrasi massa”. Si ibu-ibu penjual kopi itu awalnya sendirian, tapi tak lama kemudian, dua kawan prianya datang mengendarai sepeda onthel. Ketiganya lalu membagi pangsa pasar yang tersedia dengan adil dan damai.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam makin larut. K mengeluarkan kamera SLR yang entah dia pinjam dari mana, lalu mulai memotret. Dia memotret banyak sekali. Memotret saya dan S—baik sendiri-sendiri maupun berdua—dengan banyak sudut pandang dan latar belakang. Kali lain dia mengajak S bereksperimen dengan cahaya. K mengeluarkan handphone-nya, mengaktifkan <em>fitur</em> senter, lalu meminta S memegangnya di dekat wajah, lalu K akan mulai memotret. Pemahaman saya soal fotografi hampir nol—saya hanya terbiasa memotret dengan kamera <em>BlackBerry</em> lalu kadang menyiarkannya di blog—sehingga saya tak terlampau memahami apa yang sedang teman-teman saya itu kerjakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba saya merasa lelah. Saya mengeluarkan <em>BlackBerry</em>, <em>check in</em> di <em>Foursquare</em>, mengecek lini masa, dan menengok <em>Facebook</em> sebentar. Sembari meneguk kopi dan mengunyah jajanan ringan, saya akhirnya merampungkan semacam <a href="http://harisfirdaus.posterous.com/bundaran-hi">puisi buruk</a> yang lalu saya posting di <a href="http://harisfirdaus.posterous.com" target="_blank"><em>Poseterous</em></a>. Sesudah itu, di saat S dan K masih terus saling potret, saya merebahkan diri di dekat kolam BHI.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya memandang Patung Selamat Datang dan mengingat <a href="http://rumahmimpi.net/2010/09/hasrat-dan-pengabdian-edhi-sunarso/" target="_blank">Edhi Sunarso</a> si penciptanya; melihat kolam yang mengelilingi patung itu dan tulisan “Awas Aliran Listrik” yang mengambang; lalu mendadak mengingat tulisan kawan saya, <a href="http://pejalanjauh.com/2011/06/jacatra/" target="_blank">Zen Rahmat Sugito</a>, yang menyinggung soal BHI. Kawasan BHI memang tempat yang menarik pada malam hari saat cuaca terang, dan itulah mungkin yang membuat sebuah komunitas blogger menjadikan tempat ini sebagai titik berkumpul untuk kopi darat rutin mereka. Para blogger itu bahkan mengadaptasi nama BHI untuk komunitas mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepada S dan K, saya lamat-lamat bercerita tentang Bar Wayang di Hotel Indonesia yang disinggung Christhoper Koch dalam novelnya yang luar biasa, <em>The Year of Living Dangerously</em>. Ini novel yang bercerita perihal sekelompok wartawan asing yang meliput di Indonesia pada pertengahan 1960-an, menjelang Gerakan 30 September. <em>The Year of Living Dangerously</em>, yang juga sudah dibuat versi filmnya, banyak menceritakan soal kawasan BHI.</p>
<p style="text-align: justify;">Koch menyebut pada kala itu di sekitar Hotel Indonesia banyak sekali pengemis dan tukang becak. Mereka, tentu saja, hanya bisa berada dalam radius tertentu dari Hotel Indonesia, sebab para penjaga keamanan hotel akan menghalau mereka. Hotel Indonesia memang harus steril dari pengemis, sebab tempat itu bukan hanya penginapan tapi juga sebuah simbol. Hotel itu, pada 1960-an, adalah semacam representasi pertama ihwal Indonesia bagi orang-orang asing. Itulah kenapa ada Patung Selamat Datang di depan hotel tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat malam mulai berganti pagi, K mengawali curhatannya tentang perempuan, Solo, dan asinan. Saya dan S mendengarkan, sambil sesekali tertawa. Tiba-tiba sudah hampir pukul 2 dini hari. Kawasan BHI telah sepi. Kami berjalan ke 7-Eleven Thamrin, di mana sepeda motor kami terparkir, dan melihat para berondong lelaki yang melambai masih saja bercakap-cakap dengan gemulai. Tidak seperti mereka yang terus bergunjing pada dini hari itu, saya, S, dan K akhirnya pulang. Esok harinya, K harus pulang ke Solo membawa asinan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 29 Juli 2011</p>
<p style="text-align: justify;">Haris Firdaus</p>
<p style="text-align: justify;">gambar diambil dari <a href="http://beingindonesian.tumblr.com/post/5864339793/submission-boteh-thank-you-bundaran-hotel" target="_blank">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F07%2Fsuatu-pagi-di-bundaran-hi%2F&amp;title=Suatu%20Pagi%20di%20Bundaran%20HI"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/07/suatu-pagi-di-bundaran-hi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersembunyi di 7-Eleven</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/05/bersembunyi-di-7-eleven/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/05/bersembunyi-di-7-eleven/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 May 2011 04:27:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[7-Eleven]]></category>
		<category><![CDATA[convenience store]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=666</guid>
		<description><![CDATA[
Hari-hari ini, bila ada tempat nongkrong ABG yang selalu dibicarakan orang di Jakarta, pastilah tempat itu 7-Eleven. Convenience store yang pertama kali berdiri pada 1927 di Texas, Amerika Serikat, ini memang seolah-olah menjadi virus menular di Jakarta. Kehadirannya cepat dan mencolok. Seolah-olah, tanpa kita benar-benar sadar, gerai-gerai 7-Eleven sudah ada di mana-mana di Jakarta.
Pertama kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-671" href="http://rumahmimpi.net/2011/05/bersembunyi-di-7-eleven/7-eleven-di-jepang/"><img class="aligncenter size-full wp-image-671" title="7 Eleven di Jepang" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/05/7-Eleven-di-Jepang.jpg" alt="7 Eleven di Jepang" width="512" height="384" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Hari-hari ini, bila ada tempat nongkrong ABG yang selalu dibicarakan orang di Jakarta, pastilah tempat itu 7-Eleven. <em>Convenience store</em> yang pertama kali berdiri pada 1927 di Texas, Amerika Serikat, ini memang seolah-olah menjadi virus menular di Jakarta. Kehadirannya cepat dan mencolok. Seolah-olah, tanpa kita benar-benar sadar, gerai-gerai 7-Eleven sudah ada di mana-mana di Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama kali didirikan di daerah Bulungan, Jakarta Selatan, pada November 2009, gerai 7-Eleven menyebar cepat ke pelbagai daerah: Menteng, Sudirman, Tebet, Manggarai, Salemba, Kuningan,  Pondok Indah, dan banyak tempat lainnya. Berdasar data gerai di situs resmi 7-Eleven Indonesia, sekarang sudah ada 29 gerai di Jakarta. Jumlah ini, saya kira, akan terus bertambah dengan cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya, 7-Eleven pernah hadir di Indonesia pada 1980-an, namun kemudian tutup. Sejak 1998, penjajakan kerja sama untuk membuka kembali 7-Eleven sudah dilakukan. Partner yang didekati oleh Seven &amp; I Holdings Co—pemilik 7-Eleven asal Jepang—pada saat itu adalah PT Modern International, distributor Fuji Film.  Sayang, kerja sama itu batal dieksekusi karena adanya krisis ekonomi. Pada 2006, seiring dengan menurunnya penjualan film untuk kamera, PT Modern International mulai serius menjajaki kerja sama membuka 7-Eleven di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah sempat terkendala beberapa persoalan, 7-Eleven akhirnya membuka gerai pertamanya di akhir 2009. Semenjak itu, jumlah gerainya meningkat pesat dalam waktu singkat. Yang membuat <em>convenience store</em> ini jadi fenomenal di Indonesia adalah jumlah pengunjungnya yang gila-gilaan. Dengan jam buka 24 jam 7 hari seminggu, kita hampir selalu menemukan gerai-gerai 7-Eleven dipenuhi anak-anak muda, terutama pada malam hari. Pada Sabtu malam, jumlah pengunjungnya akan membengkak dan waktu kunjungan para pembeli ini akan molor sampai pagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti banyak disebut, 7-Eleven di Indonesia punya kecenderungan beda dengan gerai serupa di luar negeri. Bila di luar negeri gerai 7-Eleven berukuran kecil dan benar-benar merupakan <em>convenience store</em> alias toko kelontong, maka 7-Eleven di Indonesia lebih mirip resto. Orang-orang Indonesia datang ke 7-Eleven bukan untuk membeli sikat gigi, alat pencukur kumis, atau deterjen cuci, tapi untuk menikmati Slurpee, Big Gulp, atau menyantap Big Bite. Tidak sepert belanja di toko kelontong yang singkat, orang-orang datang ke 7-Eleven di Indonesia untuk nongkrong, menikmati jaringan Wi-Fi gratis, dan berbincang-bincang dengan teman, dalam waktu yang sangat panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang juga menakjubkan dari gerai ini adalah minimnya promosi yang dikeluarkan pengelolanya. Kita tidak banyak melihat iklan-iklan 7-Eleven di Jakarta, termasuk di media massa—baik televisi, koran, majalah, maupun radio—namun hampir semua gerai 7-Eleven yang kita lewati selalu penuh. Barangkali, 7-Eleven memang tidak membutuhkan promosi klasik semacam itu. Sebab, dengan jumlah yang banyak dan berada di tempat-tempat strategis, gerai-gerai 7-Eleven itu seolah menjadi iklan untuk dirinya sendiri. Siapa yang tak tertarik dengan sebuah tempat terang penuh cahaya lampu, ramai oleh sepeda motor dan mobil, serta dipenuhi anak-anak muda gaul ibukota?</p>
<p style="text-align: justify;">Anak-anak muda memang pangsa terbesar 7-Eleven karena banyak alasan. Harga makanan dan minuman yang murah, koneksi internet gratis, dan keleluasaan nongkrong berjam-jam—bukankah hal-hal semacam ini yang disukai anak muda? Segelas cappucino ukuran kecil di 7-Eleven bisa dibeli dengan Rp. 9.500, sementara itu berapa harga minuman serupa di Starbucks atau Coffe Bean, misalnya?</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Meski tidak bisa lagi dikatakan terlalu muda, saya adalah salah satu penggemar nongkrong di 7-Eleven. Namun, berbeda dengan para ABG yang selalu datang berombongan, saya hampir selalu mampir di gerai ini sendirian. Entah kenapa, saya merasa sebenarnya 7-Eleven tidak terlampau nyaman untuk ngobrol dengan teman-teman. Tempat itu terlalu penuh ABG—dan itu artinya sama dengan sangat berisik. Saya merasa, tidak terlalu enak berbincang-bincang santai jika terlalu banyak orang di sekitar kita dengan suasana yang bising.</p>
<p style="text-align: justify;">Seingat saya, saya hanya sekali mengunjungi 7-Eleven bersama beberapa kawan. Sesudah itu, saya selalu ke tempat itu sendirian. Berbeda dengan anak-anak muda lainnya, saya datang ke 7-Eleven memang bukan untuk bersosialisasi atau menggelar pertemuan. Saya datang ke 7-Eleven untuk satu tujuan: bersembunyi. Entah kenapa, di 7-Eleven, saya merasa menemukan sebuah liang persembunyian yang aman, di mana saya tak akan bisa ditemukan. Mungkin ini memang sebuah paradoks: saya merasa bisa bersembunyi bukan di tempat terpencil yang tak ada satupun manusia tahu, tapi justru di tengah keramaian yang hingar bingar.</p>
<p style="text-align: justify;">Kadang-kadang, di keramaian, saya merasa bisa menghilang, ditelan keberadaan orang lain, dan saat itulah saya merasa menemukan tempat persembunyian. Tentu saja, tidak semua di tempat ramai saya bisa bersembunyi. Di tengah keriuhan pembukaan pameran seni rupa di Galeri Nasional atau Komunitas Salihara, misalnya, saya selalu merasa tak bisa sembunyi. Sebab, kemungkinan besar akan ada orang yang saya kenal sehingga akhirnya kami harus berbincang-bincang—selama setahun ini, saya termasuk sering meliput acara-acara kesenian di tempat-tempat itu sehingga cukup mengenal beberapa peminat kesenian.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja bukan berarti saya individualis, tertutup, dan sedikit gila. Bagaimanapun saya seorang wartawan yang tugas utamanya adalah bertemu orang lain dan meliput keriuhan. Tapi saya kira, kadang-kadang, sebagian besar dari kita membutuhkan waktu sendirian yang tidak terganggu oleh urusan orang lain. Saya termasuk tipe yang membutuhkan “waktu sendiri” semacam itu. Dan, dalam rangka menemukan “waktu sendirian” semacam itu, kita butuh tempat persembunyian. Kamar kos memang bisa menjadi tempat persembunyian, tapi kadang saya merasa bosan ada di kamar sempit semacam itu. Saya ingin jalan-jalan, atau berada di keramaian di mana saya bisa sesuka hati melakukan keinginan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam konteks semacam itulah, saya menemukan 7-Eleven. Saya paling sering mengunjungi tempat itu pada malam hari, sendirian, sambil membawa sebuah buku yang ingin saya baca. Di sana, biasanya saya membeli segelas cappucino ukuran kecil, kadang-kadang Slurpee tapi tidak pernah Big Gulp, lalu mencari sebuah tempat di mana saya duduk. Kalau lapar, saya akan membeli makanan, mungkin Big Bite atau nasi plus ayam diiris-iris. Setelah itu, saya makan, minum, dan membaca. Berjam-jam seperti itu dan saya mengabaikan sebagian besar orang-orang di sekitar saya seperti mereka juga mengabaikan saya. Bukankah rasanya menyenangkan berada sesaat dalam dunia yang begitu cuek itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Yang saya syukuri dari kondisi di 7-Eleven adalah keberadaan para ABG yang hampir tak punya kesamaan dengan saya. Di antara mereka tidak ada yang datang sendirian ke 7-Eleven untuk membaca novel, misalnya. Dengan kondisi itu, saya hampir pasti tidak akan saling mengenal dengan mereka—dan inilah kondisi utama yang membuat 7-Eleven cocok menjadi tempat persembunyian saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang beberapa bulan ini, saya sudah membaca sejumlah buku di 7-Eleven: <em>Negara Kelima</em> dan <em>Rahasia Meede</em>-nya Es Ito, <em>Perahu Kertas</em>-nya Dee, <em>Tak Ada Santo dari Sirkus</em>-nya Seno Joko Suyono, <em>Manjali dan Cakrabirawa</em>-nya Ayu Utami, <em>Norwegian Wood</em> dan <em>Kafka on The Shore</em> karangan Haruki Murakami, juga beberapa buku lain. Tentu saja, buku-buku itu tidak sepenuhnya saya baca di 7-Eleven, tapi saya menghabiskan berjam-jam di sana untuk membaca buku-buku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasanya menyenangkan berada di suatu tempat ramai tanpa seorang pun yang kenal kita dan kita bisa membaca buku berjam-jam hampir tanpa gangguan, kecuali suara berisik yang, bagi saya, tak terlalu mengganggu konsentrasi membaca. Meski begitu, tidak selamanya hal ini berjalan lancar.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa malam lalu, misalnya, ketika tengah membaca <em>Norwegian Wood</em>-nya Murakami di 7-Eleven di daerah Pejaten, Jakarta Selatan, seseorang tiba-tiba memanggil saya. Waktu itu hampir tengah malam, dan orang yang memanggil itu adalah kawan sekantor saya. Bukannya saya merasa tidak suka bertemu dia, tapi saya merasa kurang nyaman ketika mengetahui bahwa tempat persembunyian saya ternyata ketahuan. Tempat aman itu tiba-tiba hilang dan saya seolah kepergok melakukan sesuatu yang salah.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin saya berlebihan, tapi setelah pertemuan itu, saya merasa tak lagi nyaman membaca dan akhirnya segera pergi dari 7-Eleven Pejaten. Kini, saya sedang berpikir, mungkin saya tak akan lagi mengunjungi 7-Eleven Pejaten karena khawatir hal yang sama terulang. Anda boleh saja menyebut saya lebay dan keterlaluan, tapi hal semacam itulah yang sungguh-sungguh saya pikirkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Untungnya, di 7-Eleven lainnya, saya selalu berhasil bersembunyi sampai bosan dan siap kembali ke kehidupan normal. Dengan kondisi ini, untuk sementara waktu, 7-Eleven mungkin masih akan jadi tempat persembunyian saya, sebuah liang di mana saya bisa menghilang di tengah keramaian anak-anak muda Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 8 Mei 2011</p>
<p style="text-align: justify;">Haris Firdaus</p>
<p style="text-align: justify;">gambar diambil dari <a href="http://imageshack.us/photo/my-images/123/7eleventokyogs6.jpg/" target="_blank">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F05%2Fbersembunyi-di-7-eleven%2F&amp;title=Bersembunyi%20di%207-Eleven"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/05/bersembunyi-di-7-eleven/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merapi dan Kenangan</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2010/11/merapi-dan-kenangan/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2010/11/merapi-dan-kenangan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 13:09:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Kemerdekaan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pendakian]]></category>
		<category><![CDATA[Puncak Garuda]]></category>
		<category><![CDATA[Selo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=582</guid>
		<description><![CDATA[Ketika saya mendongakkan kepala setinggi mungkin pagi itu, puncak Gunung Merapi tidak kelihatan. Dari tempat saya berdiri, yang terlihat hanyalah kumpulan bebatuan besar yang sesekali longsor ke bawah, dan para pendaki yang berusaha menghindarinya. Saya baru saja bangun tidur, dan sedang memasak mie instan untuk sarapan. Semalam, saya tidur di antara batu-batu besar dengan alas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-584" title="Puncak-Garuda-G.-Merapi" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2010/11/Puncak-Garuda-G.-Merapi1-300x225.jpg" alt="Puncak-Garuda-G.-Merapi" width="358" height="268" />Ketika saya mendongakkan kepala setinggi mungkin pagi itu, puncak Gunung Merapi tidak kelihatan. Dari tempat saya berdiri, yang terlihat hanyalah kumpulan bebatuan besar yang sesekali longsor ke bawah, dan para pendaki yang berusaha menghindarinya. Saya baru saja bangun tidur, dan sedang memasak mie instan untuk sarapan. Semalam, saya tidur di antara batu-batu besar dengan alas mantel dan berselimut sarung.</p>
<p>Pada suatu hari beberapa tahun lalu itu, saya sedang berada di Pasar Bubrah, sebuah padang luas berisi batu-batu besar, tanpa pepohonan sama sekali. Mereka yang mendaki Merapi dari jalur Selo, Boyolali, biasa menjadikan tempat ini sebagai “penginapan” karena terlalu berbahaya mendaki sampai ke puncak pada malam hari. Setelah Pasar Bubrah, para pendaki harus melewati bukit batu yang cukup terjal dan berbahaya untuk sampai ke puncak Merapi.</p>
<p>Batu-batu besar itu seringkali ambrol dan meluncur ke bawah, sehingga membahayakan keselamatan para pendaki. Bagi mereka yang memilih memulai pendakian pada malam hari, Pasar Bubrah menjadi tempat penginapan yang ideal. Saat fajar menyingsing esok harinya, mereka tinggal mendaki sekitar 45 menit sampai 1 jam untuk sampai ke puncak.</p>
<p>Saat menuju puncak, kebanyakan orang memilih meninggalkan tas-tas besar dan hanya membawa peralatan sekadarnya—kebanyakan hanya membawa air minum dan kamera. Semua ini dilakukan untuk mengurangi beban dan memudahkan perjalanan melalui bukit batu sebelum puncak. Sistem semacam ini membuat sebuah kelompok biasanya memecah anggotanya menjadi kelompok kecil, lalu mendaki bergantian.</p>
<p>Tapi pagi itu, saya tidak bisa meninggalkan tas 60 liter saya karena saya mendaki sendirian. Awalnya, saya hendak mendaki berdua, bersama kawan di pecinta alam SMA, tapi dia membatalkan ikut serta di detik-detik akhir. Waktu itu saya kelas 2 SMA, seorang remaja yang sedikit kesepian dan kadang-kadang terlalu membesar-besarkan masalah pribadi. Ditimpa sejumlah persoalan khas remaja, saya akhirnya nekad mendaki Merapi sendirian—sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya dan tidak pernah saya lakukan lagi sesudahnya.</p>
<p>Saya membawa sebuah tas gunung pinjaman, yang diisi dengan perlengkapan serba mepet: air mineral 3 liter, beberapa mi instan dan roti, misting, serta sekotak bahan bakar parafin. Tentu beserta peralatan sederhana tapi mutlak diperlukan: senter dan jaket tebal. Saya tidak membawa tenda tapi memasukkan sarung serta mantel sebagai penggantinya. Ini semua serba instan, dan bahkan perjalanan menuju Selo dari Solo pun saya lakukan dengan instan: menumpang rombongan pecinta alam sekolah lain.</p>
<p>Rombongan itu sebenarnya hendak menuju Gunung Merbabu tapi jalur pendakian gunung itu di Selo memang sangat dekat dengan jalur menuju Merapi. Kami berpisah di sebuah masjid di Selo, dan saya menuju desa terakhir sebelum masuk pos pendakian Merapi dengan jalan kaki.</p>
<p>Bagi saya, mendaki gunung membuat kita melupakan masalah-masalah kita. Saya tidak menganggap aktivitas mendaki sebagai refreshing, tapi sebagai sebuah kerja keras. Dan, seperti yang sudah dibuktikan banyak orang, bekerja keras jauh lebih ampuh untuk melupakan masalah ketimbang refreshing. Saat mendaki, kita harus fokus pada tiap aktivitas kita, termasuk langkah-langkah yang kita ambil, sehingga semua persoalan yang kita bawa dari rumah akan tanggal dengan sendirinya.</p>
<p>Dari sejumlah kecil gunung yang pernah saya daki, Merapi yang paling saya sukai. Gunung ini tidak terlampau tinggi, sehingga tak terlalu menguras tenaga untuk didaki, tapi memiliki banyak jebakan: jurang yang curam dan batu-batu besar yang bergeser saat diinjak. Semua ini menimbulkan sensasi sendiri. Berbeda dengan Merbabu yang tambun dan menjemukan, juga Lawu yang jalur pendakiannya seperti anak tangga, Merapi menyajikan medan yang variatif.</p>
<p>Oleh karena itu, pada pagi hari beberapa tahun lampau itu, saya bersemangat membereskan peralatan saya dan memasukkannya ke tas. Saya melihat ke bukit batu-batu itu, sejumlah besar pendaki sedang bergumul menaklukkan medan terjal. Hari itu tanggal 17 Agustus dan saya melihat bendera Merah Putih dikibarkan di puncak. Sebuah tali terulur di tengah-tengah bukit batu, sebagai semacam petunjuk bagi pendaki untuk memilih jalur yang tepat menuju puncak.</p>
<p>Dengan kondisi yang sangat ramai, bukit batu sebelum puncak Merapi itu menjadi jauh lebih berbahaya. Pendaki yang <em>grusa-grusu</em> akan membuat banyak batu berjatuhan dan membuat pendaki di bawahnya terancam bahaya. Dalam situasi semacam itu, korban luka menjadi tak terhindarkan.</p>
<p>Untungnya, saya baik-baik saja. Saya tetap mendaki sendirian ke puncak, seperti sejak saya masuk ke pos pertama Merapi. Saya menginjak sejumlah batu besar yang bergeser dari tempatnya, beberapa dari mereka panas dan berbau belerang. Dalam waktu kurang dari sejam, saya sampai ke puncak Merapi. Puncak gunung ini dinamai sebagai Puncak Garuda. Nama ini sebenarnya dinisbatkan untuk sebuah batuan tinggi yang menjulang di atas puncak Merapi.</p>
<p>Sayangnya, bentuk batu tinggi itu tidak lagi utuh. Letusan Merapi membuatnya <em>grompal-grompal</em>. Bentuknya tak lagi jelas. Meski begitu, banyak orang yang tetap berusaha naik ke batu itu, dan berpose di sana. Saya tidak lama di puncak Merapi. Tak sampai sejam karena angin di sana lumayan kencang dan tak banyak yang sebenarnya bisa dilakukan di sana.</p>
<p>Dalam pengalaman saya mendaki gunung, saya memang seringkali kebingungan hendak melakukan apa saat sampai puncak. Ada rasa bahagia memang, tapi kok norak kalau sampai sujud syukur segala. Dan, meski hari itu 17 Agustus, saya tidak sangat nasionalis untuk ikut menyanyikan <em>Indonesia Raya</em> atau mengibarkan Merah Putih. Saya hanya beristirahat sebentar, lalu turun kembali. Membiarkan perjalanan ini sebagai kenangan, saya kira, sudah cukup.</p>
<p>Jakarta, 16 November 2010</p>
<p>Haris Firdaus</p>
<p>foto diambil dari <a href="http://mycita.multiply.com/photos/album/20/Dinginnya_KETEP#photo=12" target="_blank">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2010%2F11%2Fmerapi-dan-kenangan%2F&amp;title=Merapi%20dan%20Kenangan"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2010/11/merapi-dan-kenangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahun Baru</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2010/02/tahun-baru/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2010/02/tahun-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 13:15:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=449</guid>
		<description><![CDATA[
2010 adalah tahun yang benar-benar baru bagi saya. Sejak awal Januari lalu, saya meninggalkan kota tempat saya lahir dan tinggal lebih dari 20 tahun. Saya pindah ke sebuah kota hiruk pikuk, jauh lebih jelek, tapi mau tak mau harus saya akrabi. Ini konsekuensi dari pekerjaan baru saya.
Perubahan ini, bagi saya, sangat drastis. Saya harus meninggalkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-450" title="sell_on_change" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2010/02/sell_on_change-300x236.jpg" alt="sell_on_change" width="279" height="236" /></p>
<p>2010 adalah tahun yang benar-benar baru bagi saya. Sejak awal Januari lalu, saya meninggalkan kota tempat saya lahir dan tinggal lebih dari 20 tahun. Saya pindah ke sebuah kota hiruk pikuk, jauh lebih jelek, tapi mau tak mau harus saya akrabi. Ini konsekuensi dari pekerjaan baru saya.</p>
<p>Perubahan ini, bagi saya, sangat drastis. Saya harus meninggalkan hampir segala hal yang saya akrabi selama ini. Kini, hampir tiap hari, saya menemui sesuatu yang baru&#8211;untuk tidak mengatakan asing. Saya butuh banyak adaptasi dan sampai sekarang, mungkin saya masih dalam tahap itu. <span id="more-449"></span></p>
<p>Di awal-awal proses ini, sempat terbersit rasa gentar, semacam ketakutan terhadap apa-apa yang terjadi kemudian. Tapi lama-lama, saya toh tahu: justru perubahan ini membawa kebaikan bagi saya. Seorang kawan yang paling dekat dengan saya secara yakin mengatakan pada saya: &#8220;Bukankan ini yang memang kamu tunggu-tunggu?&#8221;</p>
<p>Kawan itu mungkin memang benar. Akhirnya, saya harus mengakui, hati kecil saya memang gembira dengan perubahan ini. Setidaknya kini pandangan saya jauh lebih luas, dan ke depan, pengalaman dan ilmu-ilmu yang baru pasti saya peroleh. Sejak dulu, saya selalu mendambakan perubahan-perubahan tertentu terjadi dalam hidup saya&#8211;walaupun, kadang saya terlanjur merasa nyaman dengan kondisi saya dan membuat saya enggan berubah.</p>
<p>Kepindahan saya jelas mengharuskan saya berpisah dengan sejumlah orang dekat saya&#8211;keluarga, kawan-kawan sesama penulis di Solo, teman-teman kuliah saya, dan sederet sahabat dekat saya. Saya tahu, ada kawan yang keberatan dengan kepergian saya karena sesungguhnya saya masih &#8220;hutang&#8221; tanggung jawab pada mereka. Tapi mau bagaimana lagi. Saya lama mengkomunikasikan ini dengan mereka walaupun ketika waktu berangkat itu tiba, saya belum bisa berpamitan secara langsung dengan mereka. Panggilan kerja itu begitu mendadak sehingga, dengan sangat menyesal, saya cuma bisa berkirim salam pisah via sms.</p>
<p>Kadangkala, saya masih terganggu dengan soal itu. Meski, saya yakin, pada akhirnya mereka mengerti keputusan saya. Ihwal lain yang mengganggu saya adalah soal pinjaman buku. Di kamar saya di Solo, masih teronggok sejumlah buku milik kawan saya. Sejak dulu, saya selalu benci berhutang. Dan pinjaman buku itu, bagi saya, adalah hutang juga. Jujur saja, saya ingin segera menyelesaikan hutang ini secepatnya.</p>
<p>Dalam masa-masa tertentu, di kota jelek ini, saya kadang merasa kesepian. Saya tak punya banyak kawan di sini. Saya mengatasinya dengan membaca buku, jalan-jalan tak jelas, ikut-ikut acara seni, atau tidur. Untunglah, sekali dua saya bertemu sejumlah kawan juga di sini. Dengan semua itu, akhirnya saya merasa nyaman juga. Semoga ke depan, rasa nyaman itu terus ada.</p>
<p>Haris Firdaus</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2010%2F02%2Ftahun-baru%2F&amp;title=Tahun%20Baru"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2010/02/tahun-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makan dan Makam</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2009/11/makan-dan-makam/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2009/11/makan-dan-makam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 05:41:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=361</guid>
		<description><![CDATA[
Sore itu, ketika Budhe B menelepon, saya sedang sendiri di rumah. Semua anggota keluarga saya sedang ke Magelang, menengok rumah kontrakan kakak saya.
“Wis krungu kabare Pak A?”
“Durung, Budhe.”
“Pak A wis ra ono.”
Saya tercekat mendengar penuturan budhe. Pak A adalah om saya, adik dari ibu—ia yang terakhir dari dua belas bersaudara anak kakek saya. Saya seharusnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-363" title="sakit" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2009/11/sakit1-300x289.jpg" alt="sakit" width="261" height="251" /></p>
<p>Sore itu, ketika Budhe B menelepon, saya sedang sendiri di rumah. Semua anggota keluarga saya sedang ke Magelang, menengok rumah kontrakan kakak saya.</p>
<p>“Wis krungu kabare Pak A?”</p>
<p>“Durung, Budhe.”</p>
<p>“Pak A wis ra ono.”</p>
<p>Saya tercekat mendengar penuturan budhe. Pak A adalah om saya, adik dari ibu—ia yang terakhir dari dua belas bersaudara anak kakek saya. Saya seharusnya memanggil dia dengan sebutan “om” atau “paklik”, tapi entah kenapa, sejak kecil, kami terbiasa memanggil dia dengan sebutan “pak”. <span id="more-361"></span></p>
<p>Keluarga saya jelas sangat dekat dengan Pak A—ia seorang pensiunan pekerja Freeport yang belakangan kemudian membuat usaha video shooting. Ia fotografer yang bagus. Di rumah saya, ada foto keluarga kami—bapak-ibu, saya, tiga kakak, dan seorang adik saya—hasil jepretan Pak A. Ada pula foto keluarga kami beserta keluarga Pak A.</p>
<p>Sesudah saya mendengar kabar kematian Pak A, saya menelepon kakak perempuan saya, mengabari ihwal itu. Mereka sedang dalam perjalanan, bahkan belum sempat sampai ke rumah yang hendak ditengok. Saya mendengar suara ibu dan saudara-saudara saya yang terkejut, diiringi ucapan Innalillahi. Saya diam saja.</p>
<p>Kematian Pak A adalah muara dari kisah yang cukup panjang dan sedih. Ia tak pergi dengan cara mengejutkan. Sebab-sebabnya jelas. Tapi itu sama sekali tak mengurangi kesedihan kami.</p>
<p>Pada mulanya adalah luka kecil. Sekira empat bulan lalu, Pak A menderita sebuah luka kecil di kakinya. Itu adalah luka yang benar-benar sepele bagi mereka yang sehat. Tapi bagi Pak A yang menderita diabetes, ceritanya jadi lain. Luka itu ternyata tak kunjung kering karena darah penderita penyakit gula memang jauh lebih susah membeku. Luka itu bahkan mulai berbau.</p>
<p>Ketika ibu saya berjumpa dengannya di sebuah kesempatan empat bulan lampau, Pak A terlihat kepayahan. Luka kecil itu mulai menampakkan akibat yang signifikan baginya. Kaki Pak A mulai mengeluarkan bau dan ia tak bisa berjalan dengan tegak seperti dahulu. Ini jelas tanda bahwa penyakit diabetesnya sudah ikut campur dalam luka kecil itu. Dua jarinya kelihatan berlubang karena lukanya tak mau menutup.</p>
<p>Beberapa waktu kemudian, ia masuk rumah sakit. Vonis dokter sungguh mengerikan. Dua jari yang berlubang itu mesti “dibersihkan”—ini istilah halus (atau istilah medis?) dari diamputasi. Ya, dua jari yang kini membusuk itu mesti dipotong supaya penyakitnya tak menyebar. Bagi saya yang awam, vonis ini sungguh terlihat menyakitkan. Kehilangan dua jari karena sebuah luka kecil?</p>
<p>Tapi kakak perempuan saya yang kuliah di fakultas kedokteran mengatakan itu solusi yang memang biasa dilakukan bagi para penderita diabetes yang telah akut. Kakak saya sempat menyarankan Pak A meminum ramuan China yang bisa mengeringkan luka semacam itu. Rasa obat tradisi itu tak enak. Pesing, katanya. Pak A tak mau meminumnya, sementara anaknya terlanjur menandatangani “operasi pembersihan” itu. Pak A diamputasi dua jarinya beberapa waktu kemudian—setelah sempat ragu-ragu, keluarga akhirnya menuruti saran dokter.</p>
<p>Orang-orang awam, semacam saya, akan merasa masalah Pak A sudah beres. Dua jari busuk telah dipotong—itu berarti tak akan ada lagi penularan penyakit bukan? Ternyata bukan. Entah bagaimana prosesnya, penyakit Pak A akibat luka kecilnya dulu masih terus berlanjut. Tiba-tiba, ia masuk rumah sakit kembali. Dan kini semuanya terlihat makin mengerikan. Pembusukan itu ternyata masih berlanjut ke bagian tubuh lainnya dan sekarang telah hampir mencapai lutut. Amputasi harus kembali dilakukan, tepat sampai bagian di bawah lutut.</p>
<p>Saya hampir tak percaya mendengar itu dan lagi-lagi protes: “Kalau memang amputasi yang pertama itu tak menyelesaikan masalah, kenapa mesti dilakukan?” Lagi-lagi, saya tak mendapat jawaban yang pasti. Pak A, setelah sempat keluar-masuk sejumlah rumah sakit, akhirnya kembali dioperasi.</p>
<p>Setelah operasi, semuanya justru makin buruk. Pak A berada dalam kondisi kritis. Sebelum operasi, saya sempat menengok dia di sebuah rumah sakit di Sukoharjo. Ia sudah tak lagi normal dalam berkomunikasi. Kata-katanya sering meracau, pendengarannya berkurang sangat banyak, dan pikirannya seperti orang linglung. Waktu itu, ia sudah kehilangan dua jari kaki—dan itu menimbulkan dampak psikologis tak sedikit. Sesudah operasi, kondisinya bisa dikatakan kritis. Sempat keluar dari rumah sakit beberapa hari, ia akhirnya opname lagi. Sejumlah keluarga bahkan telah pasrah. Yang lain malah sudah membicarakan skenario pemakaman.</p>
<p>Dan pada sore ketika saya sendirian di rumah itu, Pak A meninggal. Kepergiannya tampak sebagai konsekuensi logis dari sakitnya yang parah. Tapi bila direnungkan kembali, saya seolah tak percaya bahwa semuanya dimulai dari sebuah luka kecil yang bahkan disepelekan oleh hampir tiap orang. Soalnya adalah diabetes. Penyakit itu membuat pembekuan darah jadi sulit dan luka ringan akan menyebabkan bencana dahsyat yang tak mungkin dibayangkan.</p>
<p>Diabetes, tentu saja, adalah penyakit turunan. Setahu saya, penyakit itu tak bisa disembuhkan total. Cuma bisa dikontrol dengan menjaga pola makan dan olahraga. Pak A tak bisa melakukan keduanya. Ia orang yang suka makan enak—tidak memberi pantangan terhadap makanan mengandung gula—dan setahu saya, ia jarang olahraga. Itu kenapa kadar gulanya, saat ia pertama kali melakukan cek, bisa sampai angka jauh di atas ambang batas.</p>
<p>Diabetes mungkin penyakit yang kejam tapi sama sekali tak melumpuhkan jika penderitanya bisa displin. Tapi siapa yang bisa disiplin soal makanan? Tak semua orang tentu. Mungkin itu yang menyebabkan  kata “makan” dan “makam” hanya berselisih satu huruf. Ternyata, keduanya begitu dekat.</p>
<p>Sukoharjo, 7 November 2009</p>
<p>Haris Firdaus</p>
<p>ps: gambar diambil dari <a href="http://www.yauhui.net/akulah-orang-paling-menderita-di-dunia/" target="_blank">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2009%2F11%2Fmakan-dan-makam%2F&amp;title=Makan%20dan%20Makam"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2009/11/makan-dan-makam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>41</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

