Jam

Apr 26

Jam

Tepat ketika saya berusia 22 tahun pada akhir Maret lalu, beberapa kawan memberikan sebuah jam weker pada saya. Saya menyukai pemberian itu karena memang membutuhkannya: jam itu pasti akan berguna buat membangunkan saya dari tidur tiap pagi. Tapi, terlepas dari masalah yang pragmatis itu, ada soal lain yang membuat hadiah tersebut jadi menarik. Lama saya merenung...

Read More

Kemandekan

Apr 04

Kemandekan

pada: fa Ahmad Wahib, dalam buku hariannya—yang di kemudian hari diterbitkan menjadi buku “Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib”—pernah menulis tentang kemandekan diri dan beberapa kawannya. Kemandekan itu, terkait posisi mereka di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Saat itu, 7 Agustus 1969, Wahib mencatatkan dalam diary-nya bahwa orang-orang...

Read More

Di Antara Puntung Rokok dan Bunga Plastik

Feb 18

Di Antara Puntung Rokok dan Bunga Plastik

Apakah hidup itu semacam imajisme? Pagi sampai siang tadi saya sebenarnya melakukan banyak hal. Pagi-pagi, setelah bangun tidur dan menunaikan sembahyang, saya menekuni surat-surat Iwan Simatupang pada B Soelarto yang terkumpul dalam Buku “Surat-surat Politik Iwan Simatupang 1964-1966”. Menjelang agak siang, saya berangkat ke kampus. Mengurusi syarat untuk...

Read More

Malam, Leher Pegal, dan Kasih Sayang

Feb 15

Malam, Leher Pegal, dan Kasih Sayang

Malam ketika saya akhirnya memutuskan menghidupkan komputer saya yang sering eror untuk kemudian menggarap tulisan ini, kondisi tubuh saya sebenarnya tak fit. Leher saya, seperti yang sudah-sudah, diserang pegal yang sungguh terasa menjengkelkan. Dan akibatnya, kepala saya menderita sakit yang membuat saya tak bisa melakukan banyak hal. Beberapa tugas dan kewajiban...

Read More

Aku Selalu Menyukai Suasana Stasiun

Jan 31

Aku Selalu Menyukai Suasana Stasiun

“Aku selalu menyukai suasana stasiun,” katamu saat di sebuah sore menjelang petang kita duduk di bangku di Stasiun Tugu, Yogayakarta. Tapi kau tak pernah menjelaskan pada saya: suasana stasiun seperti apa yang kau sukai itu. Saat itu, hujan turun deras, sebagian tubuh kita basah karenanya, dan kita sedang menanti kereta buat pulang setelah melakukan perjalanan...

Read More

Sebuah Harapan dalam Tulisan Pendek

Jan 02

Sebuah Harapan dalam Tulisan Pendek

-Saya ucapkan turut berduka cita atas semua ini- Melihatmu menuruni undakan tangga siang itu, saya akhirnya bisa lega. Meski saya lihat kau berjalan dengan amat perlahan, dan tampak bahwa cara berjalanmu sedikit tak wajar, saya toh tetap menemukan sebuah kelegaan. Bagaimanapun, pertemuan itu menjadi istimewa karena hari-hari terakhir kita adalah hari-hari yang...

Read More

Switch to our mobile site