Ah, Saya Rasa Ayahmu Benar-benar Pilot

Nov 25

Ah, Saya Rasa Ayahmu Benar-benar Pilot

Malam itu, di bangku penonton Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, kau bercerita tentang adegan sebuah sinetron: ada sepasang remaja, satu laki-laki, satu perempuan. Keduanya berhadapan, dan kita sudah menebak akan terjadi dialog. “Ayahmu pilot, ya?” tanya si remaja laki-laki. “Bukan. Memang kenapa sih?” si perempuan menjawab, dengan pertanyaan balik. Si...

Read More

Malam Tadi, Saya Harap Kau Menangis

Nov 17

Malam Tadi, Saya Harap Kau Menangis

Malam tadi, sudahkah kau menangis? Kalau iya, syukurlah. Saya berharap, dengan demikian kau bisa lebih lega, dan lebih punya alasan kenapa hari ini kau harus lebih bersemangat. Sebab bagaimanapun, hari ini, ketika saya menulis tulisan ini, kau harus menempuh sebuah perjalanan panjang, buat sebuah tugas. Dan, menempuh perjalanan macam itu, saya kira, membutuhkan...

Read More

Saya Tak Bisa Melukis Kehilangan Itu

Nov 08

Saya Tak Bisa Melukis Kehilangan Itu

Saya tak terlampau tahu, adakah saya sudah melupakan bagaimana rasanya kehilangan, ataukah sejak lama saya memang tak paham bagaimana sebenarnya rasa kehilangan itu. Entahlah, saya merasa tiba-tiba tak tahu bagaimana melukiskan sebuah kehilangan dengan kata-kata, ketika dengan berbisik kau bertanya: “Apa yang kau rasakan ketika dulu ayahmu meninggal?” Saya...

Read More

Semacam Pelajaran dari Kawan Lama

Oct 31

Semacam Pelajaran dari Kawan Lama

Salah satu kebahagiaan saat kita berkumpul dengan teman-teman lama adalah kesadaran bahwa kita telah jauh bertambah dewasa. Tentu saja “dewasa” bisa berarti banyak hal. Tapi kedewasaan sebenarnya dengan mudah bisa kita lihat dari cara bicara, mimik muka, dan bagaimana kawan kita menyusun argumen-argumen dalam obrolan. Kesadaran ini saya kira merupakan sebuah...

Read More

Pamflet Paling Buruk Tentang Bagaimana Menumbuhkan Semangat

Oct 20

Pamflet Paling Buruk Tentang Bagaimana Menumbuhkan Semangat

pada: p Setiap manusia mungkin punya waktu untuk berhenti. Tapi kalaupun yang demikian itu benar adanya, maka manusia yang baik adalah manusia yang berhenti sejenak saja. Ia berhenti untuk menghela sedikit napas, mengistirahatkan otot dan otaknya, atau sekedar melihat pemandangan yang menimbulkan kelegaan dan semangat. Setelah itu semua, manusia yang baik adalah...

Read More

Kau dan Permainan Mendeskripsikan Apel

Oct 18

Kau dan Permainan Mendeskripsikan Apel

pada: as kupandang kelam yang merapat ke sisi kita;siapa itu di sebelah sana, tanyamu tiba-tiba(malam berkabut seketika); barangkali menjemputkubarangkali berkabar penghujan itu (Sapardi Djoko Damono) Kalau ada penyair Indonesia yang mampu bicara tentang kematian dengan begitu liris sekaligus mencekam, maka dia adalah Sapardi Djoko Damono. Penyair senior ini memang...

Read More

Switch to our mobile site