<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Mimpi &#187; Seni</title>
	<atom:link href="http://rumahmimpi.net/category/seni/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahmimpi.net</link>
	<description>mimpi adalah semangat. dan perlu sebuah rumah buat menampungnya.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 09:26:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Empat Dekade Seni Ideologis Guruh</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/10/empat-dekade-seni-ideologis-guruh/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/10/empat-dekade-seni-ideologis-guruh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 02:59:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[B3]]></category>
		<category><![CDATA[Beta Cinta Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Guruh Sukarno Putra]]></category>
		<category><![CDATA[Once]]></category>
		<category><![CDATA[Tompi]]></category>
		<category><![CDATA[Vidi Aldiano]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=823</guid>
		<description><![CDATA[


Di atas panggung megah itu, setelah menyanyikan lagu Januari Kelabu, Riafinola Ifani Sari berkata kepada dua rekannya dari grup musik B3, Cynthia Lamusu dan Widi Mulia. &#8221;Eh, ini bukan bagian dari skenario. Ada yang copot nih di sepatuku,&#8221; kata Nola, panggilan akrab Riafinola, sambil menunjuk sepatu hak tingginya. Tanpa canggung, Nola lalu berjalan ke samping [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: small;"><a rel="attachment wp-att-900" href="http://rumahmimpi.net/2011/10/empat-dekade-seni-ideologis-guruh/beta-cinta-indonesia/"><img class="aligncenter size-full wp-image-900" title="BETA CINTA INDONESIA" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/10/Beta-Cinta-Indonesia-2.jpg" alt="BETA CINTA INDONESIA" width="512" height="384" /></a><br />
</span>
</p>
<p style="text-align: justify;">Di atas panggung megah itu, setelah menyanyikan lagu <em>Januari Kelabu</em>, Riafinola Ifani Sari berkata kepada dua rekannya dari grup musik B3, Cynthia Lamusu dan Widi Mulia. &#8221;Eh, ini bukan bagian dari skenario. Ada yang copot nih di sepatuku,&#8221; kata Nola, panggilan akrab Riafinola, sambil menunjuk sepatu hak tingginya. Tanpa canggung, Nola lalu berjalan ke samping panggung. &#8221;Dicopot saja, deh,&#8221; ujarnya spontan. Melihat itu, Cynthia dan Widi lalu menyusul Nola. &#8221;Kita lepas semua aja,&#8221; kata mereka berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, ketika B3 menyanyikan nomor berikutnya, <em>Lagu Putih</em>, tiga personelnya resmi bertelanjang kaki. Meski begitu, insiden ini sama sekali tidak mengurangi penampilan grup yang dulu dikenal dengan nama AB Three itu. Kamis, 20 Oktober lalu, itu dalam pergelaran musik dan tari &#8221;Beta Cinta Indonesia&#8221; di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, ketiganya tetap tampil energik, dengan olah vokal dan koreografi yangciamik. Penonton pun, pada akhirnya, tampak memaklumi &#8221;improvisasi&#8221; itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221;Beta Cinta Indonesia&#8221; merupakan pergelaran terbaru karya Guruh Soekarnoputra. Pergelaran ini diproduksi Kinarya Gencar Semarak Perkasa, production house di bawah perusahaan bernama PT Gencar Semarak Perkasa. Berdiri pada 22 Februari 1988, perusahaan ini menggantikan peran kelompok Swara Mahardika yang didirikan Guruh pada 1977.</p>
<p style="text-align: justify;">Guruh menyebut &#8221;Beta Cinta Indonesia&#8221; sebagai &#8221;petikan karya cipta&#8221; karena kebanyakan karya yang dimainkan dalam pentas ini adalah cuplikan pertunjukan yang pernah dibuatnya. Kebanyakan lagu yang dimainkan dalam pentas ini dibuat Guruh dalam rentang 1976-1989. &#8221;Hanya ada tiga lagu baru yang saya buat tahun ini, salah satunya lagu Beta Cinta Indonesia,&#8221; papar putra Presiden Soekarno itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tujuan utama &#8221;Beta Cinta Indonesia&#8221;, yang dipentaskan untuk umum pada 21 sampai 23 Oktober lalu, itu memang memperingati 40 tahun perjalanan kesenian Guruh. Tampaknya pentas yang rencananya berdurasi 120 menit &#8211;tapi prakteknya hampir tiga jam&#8211; itu memiliki nilai khusus dalam hati Guruh.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam orasi sebelum pentas dimulai, anggota DPR dari PDI Perjuangan itu mengatakan, &#8221;Beta Cinta Indonesia&#8221; merupakan pergelaran kolosal pertamanya setelah &#8221;Jak Jak Jak Jak Jakarta&#8221; pada 1989. &#8221;Banyak alasan kenapa saya tidak membuat pergelaran kolosal sejak 1989. Antara lain karena kita mengalami resesi pada 1990-an, kurangnya ruang teater yang memadai, dan kemudian ada hiruk-pikuk pergantian Orde Baru ke (orde) reformasi,&#8221; ujar adik Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah kenapa Guruh mengatakan itu. Padahal, kita tahu, Guruh membuat sejumlah pertunjukan setelah 1989, misalnya &#8221;Legong Surapati&#8221; (1998), &#8221;Konser 100 Tahun Bung Karno&#8221; (2001), &#8221;Sri Panggung&#8221; (2002), &#8221;Lelaki Super&#8221; (2003), dan &#8221;Mahadaya Cinta&#8221; (2005). Dibandingkan dengan sejumlah pergelaran Guruh sebelumnya, &#8221;Beta Cinta Indonesia&#8221; memang bisa disebut sebagai salah satu yang paling spektakuler.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertunjukan itu melibatkan sekitar 250 orang, mulai musisi, penari, dan para pendukung lain. Dengan iringan musik Erwin Gutawa Orkestra, pergelaran ini melibatkan sejumlah penyanyi papan atas Indonesia, misalnya Vina Panduwinata, Netta, Once, Tompi, Vidi Aldiano, dan B3. Total lagu yang dinyanyikan ada 18. Beberapa seniman lain, semisal Asri Welas, Tike Priyatna Kusumah, Butet Kartaredjasa, dan Yati Pesek, tampil menyuguhkan pentas lawak singkat di bagian tengah pementasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dibuka dengan lagu<em> Janger</em>, &#8221;Beta Cinta Indonesia&#8221; menampilkan ciri khas pertunjukan Guruh, yang selalu menonjolkan warna-warna cerah, dengan penari-penari berkostum mewah yang kebanyakan berhiaskan bulu-bulu, juga busana yang mengambil inspirasi dari pakaian adat. Dari sisi musik, nuansa musik tradisi sangat kental. Tata panggung pertunjukan ini sangat luar biasa, dengan teknologi proyeksi digital, juga berbagai properti untuk mendukung terciptanya suasana nyata yang diinginkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelebihan tata panggung ini paling terasa pada saat Tompi menyanyikan <em>Nostalgia</em>. Lagu ini berkisah tentang sebuah kenangan percintaan di Hotel Des Indes, sebuah hotel yang beroperasi pada 1856-1960 di Jakarta. Ketika Tompi mulai menyanyi, dengan cepat set panggung berganti secara otomatis, membentuk suasana hotel. Kita seperti dibawa pada suasana hotel pada masa Hindia Belanda, dengan orang-orang kulit putih papan atas yang berdansa. Di panggung, kita menyaksikan sebuah bar lengkap dengan pelayan dan deretan minuman beralkohol, juga sekelompok musisi yang sedang menghibur para tamu. Luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat Vidi Aldiano menembangkan <em>Kenang-kenangan</em>, panggung menjadi sebuah sekolah, dengan sekelompok anak SMA sedang menari dalam gerak riang yang menakjubkan. Sebelumnya, ketika Vidi menyanyikan lagu legendaris<em> Zamrud Khatulistiwa</em>, panggung menjelma menjadi sebuah hutan, dengan proyeksi suasana hutan di layar besar bagian belakang panggung. Ketika lagu-lagu yang bernuansa sejarah dinyanyikan, rekaman kejadian masa lalu ditayangkan. Ini terjadi, misalnya, pada saat lagu <em>Perikemanusiaan</em> yang bercerita soal Bung Karno dan lagu <em>Melati Putih</em> yang berkisah soal Fatmawati, ibunda Guruh.</p>
<p style="text-align: justify;">Puncak pentas ini terjadi ketika Vina Panduwinata menyanyikan lagu <em>Beta Cinta Indonesia</em>. Pada satu bagian, semua iringan musik berhenti dan Vina mengajak penonton menyanyi bersama-sama. Pada saat itu, suasana menjadi syahdu dan nuansa nasionalisme hadir ke seluruh ruang teater tanpa teriakan keras yang klise. Sesungguhnya, apa yang membuat karya-karya Guruh menarik adalah keseimbangan antara pesan dan estetika, dan itu terwakili dalam lagu <em>Beta Cinta Indonesia</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Guruh memang tak menampik nuansa politis dalam karya-karyanya. Ia bahkan dengan lantang menentang pemisahan seni dari politik. &#8221;Seni itu alat perjuangan ideologis. Jadi, hapuskan dikotomi seni budaya dengan politik,&#8221; katanya. Tapi seni ideologis Guruh bukanlah seni yang kering dan susut bobot estetiknya. Seperti kita lihat dalam pergelaran-pergelaran yang dibuatnya, estetika tak pernah menjadi bagian yang minor. Ini pula yang terjadi dalam pergelaran &#8221;Beta Cinta Indonesia&#8221;. Pertunjukan ini dipenuhi keindahan yang glamor, tapi juga sarat pesan politik yang ideologis.</p>
<p style="text-align: justify;">NB: versi lain tulisan ini dimuat di Majalah<em><a title="Gatra" href="http://gatra.com" target="_blank"> Gatra</a></em>, foto diambil dari <a href="http://foto.vivanews.com/read/4782/65272--beta-cinta-indonesia--tandai-empat-dekade-guruh" target="_blank">sini</a></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F10%2Fempat-dekade-seni-ideologis-guruh%2F&amp;title=Empat%20Dekade%20Seni%20Ideologis%20Guruh"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/10/empat-dekade-seni-ideologis-guruh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahim Danarto dan Anjing Joko Pinurbo</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/10/rahim-danarto-dan-anjing-joko-pinurbo/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/10/rahim-danarto-dan-anjing-joko-pinurbo/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Oct 2011 04:10:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[D. Zawawi Imron]]></category>
		<category><![CDATA[Danarto]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Pinurbo]]></category>
		<category><![CDATA[Salihara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=814</guid>
		<description><![CDATA[
Ada sebuah benda yang selalu dibawa oleh putri-putri kita, tidur maupun jaga, ketika makan maupun bengong, naik Trans Jakarta maupun naik pesawat. Benda itu laboratorium Tuhan. Benda apakah itu?
Di Teater Salihara, Jakarta Selatan, Jumat malam 14 Oktober lalu, sastrawan Danarto menanyakan pertanyaan aneh itu pada para penonton. Setelah hening sesaat, seorang perempuan muda menyahut. “Rahim,” [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-903" href="http://rumahmimpi.net/2011/10/rahim-danarto-dan-anjing-joko-pinurbo/danarto/"><img class="aligncenter size-full wp-image-903" title="Danarto" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/10/Danarto.jpg" alt="Danarto" width="450" height="300" /></a></p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Ada sebuah benda yang selalu dibawa oleh putri-putri kita, tidur maupun jaga, ketika makan maupun bengong, naik Trans Jakarta maupun naik pesawat. Benda itu laboratorium Tuhan. Benda apakah itu?</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Di Teater Salihara, Jakarta Selatan, Jumat malam 14 Oktober lalu, sastrawan Danarto menanyakan pertanyaan aneh itu pada para penonton. Setelah hening sesaat, seorang perempuan muda menyahut. “Rahim,” katanya. Danarto membenarkan jawaban itu, lalu mempersilakan sang perempuan mengambil satu tas berisi sejumlah barang: sebungkus cokelat dari Belgia, ayam goreng, rujak, dan buku karya Barack Obama berjudul <em>Of Thee I Sing: A Letter to My Daughter</em>.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Tidak jelas apa maksud Danarto memberikan kuis singkat itu. Pertanyaan yang diajukannya dan isi hadiahnya benar-benar acak, dan tak nyambung sama sekali dengan cerita pendek yang malam itu dibacakannya. Tapi, memang begitulah Danarto: spontan, kocak, dan penuh kejutan. Malam itu, ia tampil dalam acara pentas dan bincang sastra bertajuk “Ironi, Humor, Sufi”. Acara ini merupakan bagian dari <a href="http://literarybiennale.salihara.org/" target="_blank">Bienal Sastra Utan Kayu-Salihara 2011</a> yang diselenggarakan 8-29 Oktober.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Bienal Sastra tersebut merupakan festival sastra internasional yang digelar dua tahun sekali sejak 2001 oleh Komunitas Utan Kayu—yang kini berganti nama jadi Komunitas Salihara. Memasuki penyelenggaraannya yang ke-6, festival itu mengambil tema “Klasik Nan Asyik”, dengan maksud merayakan kembali khazanah sastra zaman lampau, baik yang berasal dari Indonesia mapun dunia.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Sejumlah sastrawan dari dalam dan luar negeri hadir dalam acara ini. Mereka yang dari Indonesia, antara lain F. Rahardi, Joko Pinurbo, Hanna Fransisca, Okky Madasari, Ahmad Fuadi, Linda Christanty, Hasan Al Banna, Bre Redana, D. Zawawi Imron, dan lain sebagainya. Sementara, beberapa penulis dari negara lain, adalah Tariq Ali (Pakistan), Steven Conte (Australia), Shirley Lim (Amerika Serikat), Mritjunjay Kumar Singh (India), dan beberapa lainnya.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Kebanyakan acara dalam festival ini berupa diskusi dan pembacaan karya. Sejumlah pentas musik, yang menafsir karya-karya sastra, juga digelar sebagai selingan. Dilihat dari pilihan tema diskusi dan karya-karya yang dibaca, sebenarnya Bienal Sastra Utan Kayu-Salihara kali ini tidak terlampau bersetia dengan tema “Klasik Nan Asyk”. Kelihatannya, kurasi atas tema tersebut memang tidak berlangsung dalam batas-batas yang ketat. Tafsir atas “khazanah klasik” pun melonggar, dan merambah ke mana-mana.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Dalam acara “Ironi, Humor, Sufi”, misalnya, penonton hampir-hampir tidak menemukan relevansi karya-karya yang dibaca dengan tema besar festival. Karya-karya itu hanya bisa ditarik relevansinya dengan tema kecil sesi tersebut. Selain menampilkan Danarto, sesi ini menampilkan Joko Pinurbo, F. Rahardi, dan D. Zawawi Imron. Danarto dan Zawawi Imron mungkin representasi dari sufi, sementara Joko Pinurbo dan F. Rahardi bisa jadi dimaksudkan menjadi representasi dari humor dan ironi.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Yang paling asyik adalah menonton Danarto memang. Cerpen yang dibacanya malam itu sungguh-sungguh bagus. Ceritanya tentang seorang turis dari Jerman yang memanfaatkan komputer untuk mengawasi sebuah tarian tradisional di Bali—sebuah kisah yang penuh kejutan, dan hampir tanpa pesan moral berarti. Dibuat pada 1974, cerpen ini menggabungkan elemen literer dengan suara dan visual—sebuah karakter yang menandai cerpen-cerpen Danarto dan membuat cerita ini cocok untuk dipanggungkan.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Keasyikan juga didapat saat mendengarkan F. Rahardi membaca sajak-sajaknya yang dipenuhi ironi. Kebanyakan puisinya adalah kritik terhadap kondisi Indonesia di era Orde Baru. Yang lucu, saat sajak tersebut dibacakan di era sekarang—yang sepenuhnya berbeda dengan masa Orde Baru—muatan perlawanannya menjadi tanggal. Yang tersisa dari sajak F. Rahardi justru humor, dengan ironi sebagai unsur utama.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Sementara itu, Joko Pinurbo, yang dianggap sebagai pembaharu estetika puisi Indonesia paska Afrizal Malna, ternyata tampil dengan datar. Jokpin, demikian ia biasa dipanggil, akhir-akhir ini memang tak lagi produktif dan sajak-sajak terakhirnya juga tak bisa disebut seindah seri puisinya soal celana. Tak heran, malam itu, Jokpin masih saja mengandalkan sajak-sajak lama untuk dibaca, seperti <a href="http://jokopinurbo.blogspot.com/2010/08/dengan-kata-lain.html" target="_blank">“Dengan Kata Lain”</a>, <a href="http://jokopinurbo.blogspot.com/2010/08/telepon-tengah-malam.html" target="_blank">“Telepon Tengah Malam”</a>, dan<a href="http://jokopinurbo.blogspot.com/2010/08/terompet-tahun-baru.html" target="_blank"> “Terompet Tahun Baru”</a> meski dia juga membaca sajak <a href="http://jokopinurbo.blogspot.com/2011/09/asu.html" target="_blank">“Asu</a>” yang dibuatnya tahun ini.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Soal Zawawi Imron, tak banyak yang bisa dikatakan. Penyair sepuh asal Madura ini masih penuh semangat, tapi puisi-puisinya memang tak lagi bisa mencerminkan semangat zaman. Puisinya klasik, tapi kurang asyik. Untungnya, tak seperti Zawawi, Bienal Sastra Utan Kayu-Salihara kali ini tetap asyik, meski semangat menggali yang klasik kurang terasa.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Haris Firdaus</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">*versi lain tulisan ini dimuat di <a href="http://gatra.com" target="_blank">Majalah <em>Gatra</em></a> , gambar diambil dari <a href="http://literarybiennale.salihara.org/blog/2011/10/18/bienal-para-sastrawan" target="_blank">sini</a></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F10%2Frahim-danarto-dan-anjing-joko-pinurbo%2F&amp;title=Rahim%20Danarto%20dan%20Anjing%20Joko%20Pinurbo"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/10/rahim-danarto-dan-anjing-joko-pinurbo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Sederhana Kutukan Raja</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/09/tafsir-sederhana-kutukan-raja/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/09/tafsir-sederhana-kutukan-raja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2011 07:48:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Butet Kertaradjasa]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Kutukan Kudungga]]></category>
		<category><![CDATA[Teater Gandrik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=797</guid>
		<description><![CDATA[

Sekumpulan dhemit yang putus asa itu akhirnya memutuskan melawan. Mereka sudah tak menemukan cara lain lagi menghadapi kesewenang-wenangan sejumlah orang yang merusak hutan demi mengeruk uang. Ya, alkisah, pembabatan pohon-pohon di hutan Kalimantan itu memang tak hanya menghancurkan ekosistem hewan dan tumbuhan, tapi juga mengganggu ketenteraman hidup para setan. Sesudah ratapan berkepanjangan dan doa putus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-906" href="http://rumahmimpi.net/2011/09/tafsir-sederhana-kutukan-raja/kutukan-kudungga/"><img class="aligncenter size-full wp-image-906" title="Kutukan Kudungga" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/09/Kutukan-Kudungga.jpg" alt="Kutukan Kudungga" width="486" height="288" /></a></p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Sekumpulan <em>dhemit</em> yang putus asa itu akhirnya memutuskan melawan. Mereka sudah tak menemukan cara lain lagi menghadapi kesewenang-wenangan sejumlah orang yang merusak hutan demi mengeruk uang. Ya, alkisah, pembabatan pohon-pohon di hutan Kalimantan itu memang tak hanya menghancurkan ekosistem hewan dan tumbuhan, tapi juga mengganggu ketenteraman hidup para setan. Sesudah ratapan berkepanjangan dan doa putus tanpa hasil pada roh leluhur, <em>dhemit-dhemit</em> itu mulai menggunakan senjata mereka: menebar ketakutan.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Dan, seperti dalam kisah film-film horor murahan, kita melihat manusia jahat yang diganggu setan, lalu ditimpa hukuman yang tak ringan, dan sesudah itu mengalami pencerahan. Dia, si pendosa itu, akhirnya sadar bahwa membabat hutan secara brutal itu salah. Tentu saja akan tetap ada orang jahat yang tak mendapat pencerahan. Tapi toh, moral kisahnya akan sama: di akhir cerita, si jahat bakal dikenai hukuman.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Ini memang sangat klise tapi begitulah kira-kira logika cerita pertunjukan <em>Kutukan Kudungga: Raja Salah Raja Disembah</em>. Pertunjukan kelima proyek “Indonesia Kita” yang digagas Butet Kertaradjasa dan kawan-kawan ini dipentaskan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat-Sabtu pekan lalu. Setelah berturut-turut menghadirkan kesenian Yogya, Maluku, Jawa Timur, dan Melayu, kali ini Butet memilih kesenian Kalimantan Timur sebagai inspirasi pentas.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Selain dua partner tetapnya, Djaduk Ferianto dan Agus Noor, kali ini Butet mengajak Syafril Teha Noer, seniman asal Kalimantan Timur, untuk membuat konsep pertunjukan. Representasi Kalimantan Timur hadir melalui 25 penari asal Samarinda dan sebuah band metal bernama Kapital.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Untuk pemain teater, Butet memboyong belasan pemain Teater Gandrik dari Yogyakarta, sementara urusan musik diserahkan ke Kua Etnika pimpinan Djaduk. Selain mereka, masih ada Dik Doank dan anak-anak Kandank Jurang Doank yang dibinanya.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Pada awalnya, naskah <em>Kutukan Kudungga </em>hendak ditulis oleh pentolan Teater Gandrik, Heru Kesawa Murti. Niatnya, Heru ingin menafsir ulang lakon yang pernah ditulisnya, yakni <em>Dhemit</em>. Sayangnya, pada 1 Agustus lalu, saat penggarapan pertunjukan ini baru dimulai, Heru Kesawa Murti meninggal dunia.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Maka, Agus Noor lalu melanjutkan penulisan naskah ini dengan tetap berdasarkan lakon<em> Dhemit</em>. Sayang, hasil jadi naskah yang ditulis Agus ini cenderung klise, juga menyederhanakan persoalan.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Inspirasi pertunjukan ini adalah legenda yang berkembang di Kalimantan Timur mengenai kutukan yang pernah diucapkan Raja Kudungga. Dalam sejarah kerajaan di Kalimantan Timur, Kudungga dikenal sebagai raja pertama Kerajaan Kutai. Konon, dulu Kudungga hanyalah seorang kepala suku. Setelah memeluk agama Hindhu, dia mengubah struktur kekuasannya menjadi kerajaan sehingga kelak keturunannya akan menjadi raja-raja penerusnya.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Masyarakat Kalimantan Timur percaya, Raja Kudungga pernah mengeluarkan sebuah kutukan: “Barang siapa yang mengambil dan membawa pergi kekayaan alam di pulau ini, makan hidupnya akan sengsara dan celaka.”</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Dalam masa yang lebih kontemporer, kutukan ini menemukan relevansinya dengan perusakan besar-besaran hutan di Kalimantan. Bila ada perusak hutan yang celaka, masyarakat akan di sana akan mengaitkan hal itu dengan kutukan Kudungga. Mitos semacam ini menarik, tapi sayang Agus Noor menafsirkannya dengan sangat sederhana dan kurang imajinatif sehingga hasilnya mirip kisah hantu murahan.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Maka, jadilah kita menemukan pertunjukan ini bergerak dalam alur dan irama yang mudah ditebak. Penampilan aktor-aktor Gandrik yang terkenal dengan gaya plesetannya memang sedikit banyak menolong pertunjukan ini. Tapi penampilan mereka juga terlalu dominan sehingga menjadikan pentas ini menjadi “sangat Gandrik” dan justru menepikan gambaran kesenian Kalimantan Timur. Tari-tarian tradisi Kalimantan memang hadir, tapi ini hanya semacam jeda sekejap di antara lelucon-lelucon panjang—tapi kurang bertenaga—dari Susilo Nugroho dan Marwoto.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Lagi-lagi, seperti pertunjukan “Indonesia Kita” sebelumnya, pentas ini mengalami kesulitan untuk menemukan keterpaduan antar-unsurnya. Kali ini, masalah keterpaduan itu justru kian tampak. Alih-alih kohesif, pentas ini justru tampak seperti semacam parade atau festival pelbagai kesenian: dari tari tradisional Samarinda, musik metal, dagelan Mataraman, hingga musik akustik ala Dik Doank.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Dengan komposisi yang semacam itu, <em>Kutukan Kudungga</em>, harus dikatakan, merupakan pertunjukan “Indonesia Kita” yang paling tidak mengesankan bila dibandingkan dengan empat pentas sebelumnya.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Haris Firdaus</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">foto diambil dari <a href="http://www.mediaindonesia.com/foto/12466/Teater-Kutukan-Kudungga" target="_blank">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F09%2Ftafsir-sederhana-kutukan-raja%2F&amp;title=Tafsir%20Sederhana%20Kutukan%20Raja"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/09/tafsir-sederhana-kutukan-raja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelahiran Kembali Si Burung Kondor</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/08/kelahiran-kembali-si-burung-kondor/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/08/kelahiran-kembali-si-burung-kondor/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Aug 2011 08:14:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Bengkel Teater]]></category>
		<category><![CDATA[Ken Zuraida]]></category>
		<category><![CDATA[Mastodon dan Burung Kondor]]></category>
		<category><![CDATA[WS Rendra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=766</guid>
		<description><![CDATA[
Jose Karosta, penyair yang bersemangat itu, akhirnya bernasib seperti burung kondor: terasing dan kesepian. Di tengah hiruk pikuk revolusi, suaranya tak lagi didengar dan pendapatnya ditampik. Perannya dalam ramai-ramai pergantian rezim pemerintahan itu hanya satu: menjadi martir yang dimanfaatkan pihak lain. Seperti burung kondor dalam sajak WS Rendra, Jose akhirnya &#8220;bergerak menuju gunung tinggi, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0in;"><a rel="attachment wp-att-918" href="http://rumahmimpi.net/2011/08/kelahiran-kembali-si-burung-kondor/mastodon/"><img class="aligncenter size-full wp-image-918" title="Mastodon" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/08/Mastodon.jpg" alt="Mastodon" width="450" height="300" /></a></p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Jose Karosta, penyair yang bersemangat itu, akhirnya bernasib seperti burung kondor: terasing dan kesepian. Di tengah hiruk pikuk revolusi, suaranya tak lagi didengar dan pendapatnya ditampik. Perannya dalam ramai-ramai pergantian rezim pemerintahan itu hanya satu: menjadi martir yang dimanfaatkan pihak lain. Seperti burung kondor dalam sajak WS Rendra, Jose akhirnya &#8220;bergerak menuju gunung tinggi, dan di sana mendapat hiburan dari sepi.&#8221;</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Sekitar 38 tahun lampau, Rendra menciptakan tokoh Jose Karosta dalam dramanya yang kontroversial, <em>Mastodon dan Burung Kondor</em>.  Jose, yang selalu memakai kaos tanpa lengan, jeans belel sobek-sobek, dan syal, adalah penyair yang menaruh perhatian tinggi pada pelbagai masalah  masyarakatnya. Puisi-puisinya bukan kata-kata indah yang bertabur bulan dan bintang, tapi rangkaian kritik terhadap pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi minus kesejahteraan rakyat.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Pada 11-14 Agustus lalu, melalui pementasan ulang <em>Mastodon dan Burung Kondor</em> yang disutradarai Ken Zuraida, Jose hidup kembali. Dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pertunjukan ini adalah bagian dari rangkaian peringatan dua tahun meninggalnya WS Rendra. Terdiri dari segelintir pegiat Bengkel Teater, serta sejumlah pemain muda dari berbagai kota, kelompok yang menggawangi pentas ini disebut sebagai Ken Zuraida Project. Anggota DPR dari Fraksi PDIP, Arif Budimanta, menjadi produser eksekutif pentas ini, sementara aktivis 1980-an Amir Husin Daulay menjadi <em>project director</em>.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Menurut Ken Zuraida, pementasan ulang ini bisa dikatakan sangat mirip dengan naskah asli karya Rendra. “99% sama dengan aslinya,” ujar isitri ketiga Rendra tersebut saat ditemui seusai gladi resik pentas ini, Rabu pekan lalu. Menurutnya, ia sengaja tidak melakukan banyak perubahan untuk menguji seberapa jauh karya Rendra bisa bertahan dalam jangka panjang. “Saya mau uji coba juga, apakah karya Rendra universal atau tidak,” ungkapnya.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;"><em>Mastodon dan Burung Kondor</em> adalah salah satu karya teater Rendra yang legendaris. Proses pembuatan naskah ini dicicil antara 1971-1973. Sebelum diangkat kembali oleh Ken Zuraida Project, karya ini hanya dipentaskan tiga kali antara November-Desember 1973 di tiga kota, yakni Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Pementasan di Yogyakarta sempat dicekal karena dianggap terlampau keras mengkritik pemerintah. Berkat jaminan dari seorang petinggi tentara masa itu, pentas ini berhasil dilaksanakan.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Walaupun ceritanya sangat mirip dengan kondisi Indonesia pada 1970-an, <em>Mastodon dan Burung Kondor</em> sebenarnya berlatar sebuah negara di Amerika Selatan. Kondisi negara-negara Amerika Latin kala itu memang sedikit banyak mirip dengan Indonesia: pembangunan ekonomi berjalan tapi dampaknya terhadap kesejahteraan sosial rakyat kecil hampir-hampir nihil.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Untuk ukuran dekade 1970-an, di mana Soeharto sedang gencar mencapai stabilitas politik, cerita <em>Mastodon dan Burung Kondor </em>bisa dikatakan sangat keras dan berani. Secara garis besar, pertunjukan ini berkisah tentang sebuah negeri yang dipimpin diktator bernama Kolonel Max Carlos. Max Carlos bisa jadi adalah representasi dari Soeharto: keras, militeristik, dan menghalalkan segala cara demi tercapainya “tujuan pembangunan”. Dalam pentas ini, simbol mastodon—gajah purba berukuran raksasa—mengacu pada Carlos.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Sementara, burung kondor—jenis burung yang hidup di pegunungan benua Amerika—merupakan simbol rakyat tertindas, dan terutama merupakan simbol Jose Karosta, penyair melankolis yang mengkritik cara Carlos memimpin melalui puisi-puisinya. Selain Carlos dan Karosta, tokoh sentral pentas ini adalah Juan Frederico, seorang ekstrimis yang berniat menumbangkan Carlos melalui revolusi bersenjata.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Meski sama-sama tidak menyukai kepemimpinan Carlos, Jose Karosta berbeda pandang dengan Juan Frederico. Bagi Jose Karosta, perubahan melalui revolusi tak akan pernah mencapai hasil maksimal. “Aku percaya pada jalannya perubahan yang berdasarkan perkembangan kematangan kesadaran. Perubahan mendadak yang ditimbulkan revolusi hanya akan menghasilkan perubahan semu,” katanya. Dengan sikap ini, Karosta akhirnya tersingkir dari gelanggang revolusi, menjadi semacam burung kondor.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Pementasan ulang <em>Mastodon dan Burung Kondor </em>ini bisa dikatakan sangat menarik. Nuansa naskah asli Rendra berhasil membawa penonton ke dalam imajinasi kondisi sosial politik yang represif di zaman Orde Baru. Meski kritik sosial dalam pentas ini sangat banyak dan keras, kita hampir-hampir tidak menemui klise buruk seperti yang tertebar dalam banyak pentas teater lainnya. Dalam hal ini, kemampuan Rendra mengolah kata memang harus diakui.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Untungnya pula, rata-rata aktor dalam pertunjukan ini bermain cukup baik, termasuk Totenk Mahdasi Tatang yang mengemban peran berat menjadi Jose Karosta. Totenk punya beban berat karena pada pementasan tahun 1973 Rendra sendiri yang berperan sebagai Karosta. Meski suara Totenk agak cidal sehingga terkesan kurang berwibawa, ia bisa cukup rileks dan tidak <em>lebay</em> memerankan Jose Karosta. Ini pula yang akhirnya membuat pentas ini bercahaya. Agaknya, kita mesti mengucap selamat pada Ken Zuraida atas keberhasilannya melahirkan kembali naskah legendaris yang lama tertidur ini.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Haris Firdaus</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">foto diambil dari <a href="http://www.antarafoto.com/seni-budaya/v1313034301/pentas-mastodon-dan-burung-kondor" target="_blank">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F08%2Fkelahiran-kembali-si-burung-kondor%2F&amp;title=Kelahiran%20Kembali%20Si%20Burung%20Kondor"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/08/kelahiran-kembali-si-burung-kondor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Kartolo yang Apolitis</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/07/tentang-kartolo-yang-apolitis/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/07/tentang-kartolo-yang-apolitis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jul 2011 10:04:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Butet Kertaradjasa]]></category>
		<category><![CDATA[Kartolo Mbalelo]]></category>
		<category><![CDATA[Ludruk]]></category>
		<category><![CDATA[Mahfud MD]]></category>
		<category><![CDATA[Sujiwo Tejo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=742</guid>
		<description><![CDATA[

Seperti dalam kisah cinta kebanyakan, sepasang kekasih yang berpisah itu akhirnya bersatu kembali di bawah cahaya bulan purnama. Cak Kartolo memegang erat tangan Yu Ning, istrinya, lalu berjanji tidak akan mengurusi negara dan politik. “Aku ngurusi rumah tangga saja,” katanya. Yu Ning mengangguk dan balik berjanji tak akan lagi meminta suaminya itu untuk terjun ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-928" href="http://rumahmimpi.net/2011/07/tentang-kartolo-yang-apolitis/kartolo-mbalelo/"><img class="aligncenter size-full wp-image-928" title="Kartolo Mbalelo" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/07/Kartolo-Mbalelo.jpg" alt="Kartolo Mbalelo" width="461" height="346" /></a></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; text-align: justify;">Seperti dalam kisah cinta kebanyakan, sepasang kekasih yang berpisah itu akhirnya bersatu kembali di bawah cahaya bulan purnama. Cak Kartolo memegang erat tangan Yu Ning, istrinya, lalu berjanji tidak akan mengurusi negara dan politik. “Aku <em>nguru</em>s<em>i </em>rumah tangga saja,” katanya. Yu Ning mengangguk dan balik berjanji tak akan lagi meminta suaminya itu untuk terjun ke dunia politik demi uang dan kekuasaan. Ya, semua prahara dan dilema itu sudah berakhir dan cinta akhirnya pulih.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Setelah itu, lagu <em>Dewa-Dewi </em>karya Sujiwo Tejo mengalun, membuat pentas ludruk <em>Kartolo Mbalelo: Memandang Indonesia Secara Jenaka</em> itu diakhiri dengan terlalu manis, kurang jenaka dan urakan. Dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat-Sabtu pekan lalu, <em>Kartolo Mbalelo </em>merupakan bagian dari proyek “Indonesia Kita” yang digagas oleh seniman Butet Kertaradjasa, Djaduk Ferianto, Agus Noor, dan kawan-kawan. “Indonesia Kita” adalah proyek yang bertujuan mempromosikan keragaman budaya Indonesia dalam wujud pentas kesenian.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;"><em>Kartolo Mbalelo</em> merupakan edisi ketiga “Indonesia Kita” sesudah <em><a href="http://rumahmimpi.net/2011/04/guyon-jelata-ala-yogya/" target="_blank">Laskar Dagelan</a></em> dan <em><a href="http://rumahmimpi.net/2011/06/maluku-adalah-lagu/">Beta Maluku</a></em>.  Seperti dua pentas sebelumnya, pertunjukan ini merepresentasikan kesenian dari daerah tertentu. Jika <em>Laskar Dagelan</em> adalah representasi kesenian Yogya dan <em>Beta Maluku</em> mewakili Maluku, maka <em>Kartolo Mbalelo </em>hadir sebagai wakil kesenian Jawa Timur. Disebut sebagai musikal ludrukan, pertunjukan ini memang mengambil inspirasi utama dari kesenian ludruk.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Ludruk merupakan drama tradisional asal Jawa Timur yang ceritanya mengambil dari persoalan rakyat sehari-hari dengan diselingi musik dan lawakan. Berbeda dengan ketoprak Jawa Tengah yang banyak berkisah tentang kaum bangsawan masa kerajaan, cerita ludruk berpusat pada rakyat kecil dengan masalah-masalah konkret yang mereka alami sehari-hari. Dalam ludruk, para pemain menggunakan bahasa-bahasa lugas supaya mudah dipahami penontonnya yang berasal dari rakyat biasa.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Disutradarai seniman serba bisa Sujiwo Tejo, <em>Kartolo Mbalelo </em>melibatkan sejumlah seniman Jawa Timur yang malang-melintang di dunia ludruk. Tokoh utama pertunjukan ini adalah Cak Kartolo, pemain ludruk legendaris berusia 64 tahun yang sudah aktif di dunia ludruk sejak 1960-an. Dua karib Kartolo juga ikut dalam pentas ini, yakni Yu Ning dan Cak Sapari. Ada pula Cak Lontong, Nurbuat, Rohana, Inul Daratista, dan kelompok Loedroek ITB. Selain itu, dua tokoh politik Indonesia hadir sebagai bintang tamu, yakni Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD dan Wakil Ketua DPR Pramono Anung.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Pentas <em>Kartolo Mbalelo </em>cukup taat pada sejumlah pakem ludruk sekaligus melakukan sejumlah improvisasi yang menarik. Pada bagian awal pertunjukan ini, misalnya, ditampilkan Tari Remo yang memang biasanya disajikan sebagai pembuka ludruk. Tapi, alih-alih menyajikan Tari Remo secara biasa, Sujiwo Tejo mengganti kostum para penarinya dengan pakaian ala penari kontemporer yang gaul dan meriah. Ketaatan pada pakem ludruk juga terlihat dengan munculnya tokoh Sakerah, seorang jagoan legendaris yang sangat dikenal di sejumlah daerah di Jawa Timur. Dalam ludruk konvensional, tokoh pejuang kelahiran Pasuruan yang hidup pada abad ke-19 itu memang selalu muncul.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;"><em>Kartolo Mbalelo</em> bercerita tentang seorang seniman ludruk bernama Kartolo yang diajak bergabung ke dalam sebuah partai politik. Tapi, Kartolo yang tidak tertarik pada politik menampik tawaran itu. Yu Ning marah terhadap sikap suaminya itu karena menganggap politik adalah jalan pintas menuju kekayaan. Yu Ning lalu memutuskan berpisah dengan Kartolo.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Secara umum, tidak ada yang baru dalam kisah <em>Kartolo Mbalelo</em> ini. Sinisme, ejekan, dan kemuakan terhadap dunia politik Indonesia mutakhir yang terangkum dalam kisah ini adalah hal-hal yang sudah jamak kita temui di manapun. Tokoh Kartolo juga digambarkan nyaris sempurna: seolah-olah dia bukan manusia yang bisa tergoda pada uang dan perempuan.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Yang menarik dalam pentas ini justru terletak pada perubahan tiba-tiba yang terjadi di tengah proses penggarapannya. Semula, naskah asli pentas ini—yang ditulis Agus Noor—sangat kental nuansa politisnya. Namun, karena Cak Kartolo ogah berbicara politik, maka harus ada penyuntingan yang cukup drastis. Porsi pembicaraan politik dioper ke tokoh lain, dan masalah politik yang dialami tokoh Kartolo dalam pentas ini ditarik ke ranah domestik.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Jadi, problem utama tokoh Kartolo bukanlah menerima atau menolak tawaran bergabung dengan partai politik, tapi pada sikap anti-politiknya yang berpengaruh pada kehidupan rumah tangganya. Penolakan Kartolo pada jabatan di partai politik membuat istrinya memilih meninggalkan dia. Konstruksi cerita semacam ini sebenarnya bisa ditarik ke konflik yang lebih personal dan sublim, tapi sayang itu tidak terjadi. Akhirnya, kisah pentas ini menjadi terlalu datar.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Meski begitu, sebagai sebuah hiburan, <em>Kartolo Mbalelo</em> tetap sangat layak ditonton. Walau humor-humor dalam pentas ini tidak selucu dalam <em>Laskar Dagelan</em>, tapi lawakan Cak Kartolo dan kawan-kawan cukup bisa mengocok perut. Sejumlah lagu, tarian, dan unjuk kanuragan yang disajikan dalam pertunjukan ini juga sangat menghibur. Secara umum, <em>Kartolo Mbalelo</em> berhasil sebagai pentas hiburan. Pentas ini juga berhasil merefleksikan kesenian Jawa Timur meski tidak meninggalkan bekas yang sangat mendalam.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Haris Firdaus</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">gambar diambil dari <a href="http://hot.detik.com/">sini</a></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F07%2Ftentang-kartolo-yang-apolitis%2F&amp;title=Tentang%20Kartolo%20yang%20Apolitis"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/07/tentang-kartolo-yang-apolitis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

