<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Mimpi &#187; Tokoh</title>
	<atom:link href="http://rumahmimpi.net/category/tokoh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahmimpi.net</link>
	<description>mimpi adalah semangat. dan perlu sebuah rumah buat menampungnya.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 09:26:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pak Bual</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2012/01/pak-bual/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2012/01/pak-bual/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 15:43:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Pak Bual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=1062</guid>
		<description><![CDATA[Dua tahun lalu, saat datang ke kos-kosan saya di Jakarta, Pak Bual adalah orang yang saya jumpai pertama kali. Kos-kosan itu terdiri dari dua lantai, di mana lantai pertama terdiri dari tiga rumah petak sementara lantai kedua berisi kamar kos berjumlah 12 buah. Siang itu, saya melihat Pak Bual sedang berada di rumah petaknya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1064" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><a rel="attachment wp-att-1064" href="http://rumahmimpi.net/2012/01/pak-bual/lelaki-tua/"><img class="size-full wp-image-1064  " title="Lelaki Tua" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2012/01/Lelaki-Tua.jpg" alt="&quot;Lelaki Tua Beban&quot; karya Basuki Abdullah" width="400" height="287" /></a><p class="wp-caption-text">&quot;Lelaki Tua dan Beban&quot; karya Basuki Abdullah</p></div>
<p style="text-align: justify;">Dua tahun lalu, saat datang ke kos-kosan saya di Jakarta, Pak Bual adalah orang yang saya jumpai pertama kali. Kos-kosan itu terdiri dari dua lantai, di mana lantai pertama terdiri dari tiga rumah petak sementara lantai kedua berisi kamar kos berjumlah 12 buah. Siang itu, saya melihat Pak Bual sedang berada di rumah petaknya yang terletak paling ujung, dekat dengan pagar. Dia sedang menjahit.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya celingak-celinguk sebentar, lalu menyapanya. Ia membalas ramah dan bahkan dengan sukarela membantu saya. Ia yang paling awal memberitahu saya ihwal kos-kosan ini, berapa harga sewanya, bagaimana kondisinya, sudah penuh atau belum, meski jelas bahwa menyampaikan semua informasi itu bukanlah tugasnya. Pak Bual pula yang membantu saya memanggilkan si penjaga kos yang sedang berada di rumah sebelah kepunyaan pemilik kos.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saya sudah sms dia. Duduk dulu aja, Mas,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan saya pun duduk di depan pintu rumah petak itu, memerhatikan aktivitasnya, mesin jahit yang digunakannya, baju-baju dan gambar-gambar model pakaian yang tergeletak di sekitarnya, juga gelas kopinya yang menghitam dan penuh. Saya ingat dia memakai kemeja dan sarung—model pakaian yang selalu ia gunakan saat menjahit dan ngobrol panjang lebar dengan saya pada waktu-waktu yang lebih kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">Siang itu, dalam masa perkenalan kami yang singkat tapi penuh kesan, saya sudah menyadari bahwa dia suka membual. Saya tahu dia sendirian di rumah petak itu karena keluarganya ada di tempat lain. Saya juga tahu dia berasal dari satu kabupaten di Jawa Tengah, entah Kudus atau Pati, tapi saya tak tahu namanya. Sesungguhnya, sampai sekarang saya tak pernah benar-benar tahu namanya. Pak Bual juga tak menanyakan nama saya tapi dia bertanya dari mana asal saya, kerja di mana, kapan mulai merantau ke Jakarta, sudah berkeluarga atau belum.</p>
<p style="text-align: justify;">Kadang-kadang, saya merasa inilah salah satu ciri keramahan khas Jawa: kita bisa berakrab pada siapa saja tanpa tahu nama tapi kita harus tahu asal orang itu atau dia sudah menikah atau belum. Entah kenapa begitu, tapi yang jelas Pak Bual memberitahu saya banyak hal—di mana istrinya tinggal, berapa anaknya dan kerja di mana saja mereka, apa kerja yang sudah pernah dilakoninya, dan banyak lagi, tapi dia tak pernah menjabat tangan saya dan menyebut nama meskipun hanya nama panggilan.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, lebih dari dua tahun kemudian, saya mengenangnya sebagai Pak Bual semata-mata karena, menurut saya, dia suka membual. Dia adalah orang yang gemar ngobrol dan bercerita tentang banyak hal yang tak terhingga dalam durasi yang mungkin tak berbatas. Pada malam hari sesudah saya pulang kerja, Pak Bual sering mengajak saya duduk di rumah petaknya, mengobrol perihal pengalaman-pengalamannya, dalam waktu yang sangat lama. Obrolan itu juga terjadi pada akhir pekan, ketika saya kebetulan tak keluar kos-kosan dan dia tak pulang ke Bogor untuk menengok istrinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Durasi obrolan-obrolan saya dengan Pak Bual, percayalah, bisa sangat lama, dan itu bukan hasil kontribusi kami berdua melainkan semata-mata karena dia. Kadang-kadang kalau saya malas—dan ini sering terjadi—saya hanya menggumamkan satu kata, tersenyum, mengangguk atau menggeleng, untuk menanggapi berondongan ceritanya yang panjang. Bila saya sudah begitu bosan, atau terdesak oleh keperluan yang penting atau mendadak, maka dengan sesopan mungkin saya akan minta diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu terjadi, Pak Bual selalu kelihatan kecewa, berusaha menahan saya, bertanya apakah saya sudah ngantuk atau hendak ke manakah saya, seolah-olah dia adalah orang yang begitu kesepian sehingga orang yang tak begitu dikenalnya ini menjelma jadi teman yang begitu berharga. Kadang saya tak kuasa meninggalkan dia, terjebak oleh tatapannya yang penuh harap, tapi lebih sering saya meninggalkannya begitu saja. Beberapa kali malah dengan terburu-buru.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan cerita-cerita panjangnya ke saya, Pak Bual datang ke Jakarta pada 1980-an, pada tahun ketika saya belum lahir. Saya lupa bagaimana dan kenapa dia bisa merantau tapi saya ingat dia bercerita bahwa pertama kali datang ke Jakarta, ia menginap di masjid di Pasar Tanah Abang. Cerita ini saja sudah menunjukkan betapa keras hidupnya dan cerita-cerita selanjutnya menguatkan kesan bahwa dia punya kehidupan yang penuh warna—atau dia ingin kelihatan begitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Bual mengaku pernah bekerja untuk sejumlah tokoh paling dikenal di Indonesia. Ia menyebut seorang nama petinggi militer di Jakarta pada 1980-an, di mana dia menjadi orang kepercayaan sang pejabat. Dia berkisah, suatu hari, ia naik motor di sekitar Jakarta dan karena melakukan pelanggaran lalu-lintas, seorang polisi mencegatnya. Pak Bual diminta menunjukkan surat-surat dan saat ia memberikan STNK sepeda motor yang dinaikinya, sang polisi melepaskannya begitu saja tanpa memberikan surat tilang. Penyebabnya, di STNK motor itu tertulis nama sang pejabat.</p>
<p style="text-align: justify;">Berkali-kali Pak Bual memuji kebaikan hati si petinggi militer itu, juga menunjukkan betapa sang majikannya itu punya kekuasaan besar di Indonesia masa itu. Pak Bual juga secara rutin dan terus-menerus mengesankan bahwa dia begitu dekat dan sangat dipercayai si petinggi militer tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain orang dekat si petinggi militer, Pak Bual mengaku pernah menjadi orang kepercayaan Mbak Tutut. Ya, itu Tutut yang putri Presiden Soeharto dan pengakuan itu saja sudah menunjukkan betapa dekatnya Pak Bual dengan episentrum kekuasaan saat Orde Baru masih berjaya. Tidak main-main, Pak Bual bercerita bahwa dia pernah menjadi direktur sebuah perusahaan atas suruhan Mbak Tutut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia juga menyatakan pernah memiliki mall di daerah pinggiran Jakarta tapi pusat perbelanjaan itu bangkrut dan hidupnya menjadi sulit. “Mas tahu mall yang itu kan? Itu dulu milik saya,” katanya. Saya menggeleng. Karena masih baru di Jakarta, saya tak bisa mengenali mall mana yang didakunya, dan akibatnya saya tak bisa mengingat nama mall atau lokasinya sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua kisah itu tentu saja fantastis, tapi yang lebih menakjubkan, Pak Bual dengan enteng mengatakan dekat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Pak SBY itu saya dekat, Mas,” katanya. Ketika dia menyampaikan hal itu dengan ekspresi yang tanpa beban, saya hampir seratus persen yakin dia membual dan menjadikan aktivitas itu sebagai hobi. Maka, ketika dia berkisah soal putrinya yang menjadi doktor dan mengajar di universitas ternama, juga putranya yang berhasil membuka bengkel besar, saya tak lagi menganggapnya serius.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejumlah kawan yang sempat berkunjung ke kos dan mendengarkan kisah-kisah Pak Bual juga punya simpulan bahwa orang tua itu hanya membual. Karena kebiasaannya itu, saya menjaga jarak dengan Pak Bual, kadang berprasangka bahwa dia bisa saja berbuat jahat ke saya. Tapi prasangka saya sungguh-sungguh keji dan salah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bilapun dia benar-benar suka berbohong, Pak Bual tetap sepenuhnya orang baik. Dia selalu menghentikan aktivitasnya saat adzan berkumandang, segera menyambar peci putihnya, lalu bergegas menuju mushola di dekat situ. Dia juga sangat baik ke saya. Berkali-kali dia menjamu saya, misalnya dengan membuatkan kopi atau membagi makanan yang dibelinya. Saat handphone satu-satunya yang saya miliki rusak, Pak Bual dengan ringan tangan meminjamkan handphone miliknya supaya saya bisa berkomunikasi dengan keluarga saya di Solo.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Bual juga seorang pekerja keras. Pada usia menjelang 60-an, dia tetap bekerja dengan tekun meski penghasilannya pas-pasan. Usaha jahit kecil-kecilan yang dikerjakannya itu memang bukan miliknya dan dia hanyalah seorang karyawan. Ia juga seorang lelaki tua yang tabah, berssedia tinggal sendirian selama lima hari per minggu, memasak atau membeli makanannya sendiri, juga mencuci semua pakaiannya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, ketika suatu hari saya menyadari dia sudah pindah tanpa saya ketahui sebelumnya, saya merasa kehilangan. Saya tak pernah tahu kenapa dia pindah tapi kemungkinan besar karena usaha jahit di mana dia menjadi karyawan sudah bangkrut. Dia mungkin membangun usaha jahitnya sendiri, atau berganti kerja ke orang lain, tapi saya yakin di suatu tempat yang baru itu dia akan menemukan pendengar baru, kepada siapa dia membagi bualan-bualan paling fantastis yang pernah diciptakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 12 januari 2012</p>
<p style="text-align: justify;">ilustrasi diambil dari <a href="http://seni-hiburan.mitrasites.com/gambar/basoeki-abdullah.html" target="_blank"><span style="color: #993300;">sini</span></a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2012%2F01%2Fpak-bual%2F&amp;title=Pak%20Bual"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2012/01/pak-bual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tugas Sedih Sondang Hutagalung</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/12/tugas-sedih-sondang-hutagalung/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/12/tugas-sedih-sondang-hutagalung/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 12:16:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Bendera]]></category>
		<category><![CDATA[ICW]]></category>
		<category><![CDATA[KontraS]]></category>
		<category><![CDATA[Petisi 28]]></category>
		<category><![CDATA[Sondang Hutagalung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=868</guid>
		<description><![CDATA[

Seorang pejuang tidak hanya dihargai dari hasil yang dicapainya, tapi juga dari niatan awalnya. Dengan keyakinan semacam itulah saya ingin menyampaikan rasa salut dan hormat untuk Sondang Hutagalung, mahasiswa Universitas Bung Karno, Jakarta, yang membakar diri di depan Istana Merdeka pada Rabu, 7 Desember lalu, demi meneriakkan sebuah protes.
Kita tidak pernah benar-benar mengetahui motivasi Sondang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;"><a rel="attachment wp-att-892" href="http://rumahmimpi.net/2011/12/tugas-sedih-sondang-hutagalung/sondang-hutagalung/"><img class="aligncenter size-full wp-image-892" title="Sondang Hutagalung" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/12/Sondang-Hutagalung.jpg" alt="Sondang Hutagalung" width="375" height="282" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Seorang pejuang tidak hanya dihargai dari hasil yang dicapainya, tapi juga dari niatan awalnya. Dengan keyakinan semacam itulah saya ingin menyampaikan rasa salut dan hormat untuk Sondang Hutagalung, mahasiswa Universitas Bung Karno, Jakarta, yang membakar diri di depan Istana Merdeka pada Rabu, 7 Desember lalu, demi meneriakkan sebuah protes.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita tidak pernah benar-benar mengetahui motivasi Sondang karena belum ada surat wasiat yang ditemukan atas namanya tapi kita semua menerka-nerka Sondang memilih jadi martir untuk membuat sebuah perubahan. Tapi perubahan yang semacam apa? Konon, sebelum membakar diri, Sondang berteriak, “Turunkan SBY!” Dari sini, barangkali, kita bisa menebak bahwa Sondang ada dalam barisan aktivis yang tidak puas dengan kinerja pemerintah SBY-Boediono dan berharap terjadi sebuah perubahan radikal sebelum Pemilu 2014.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila benar Sondang ada dalam barisan aktivis yang berpikiran seperti itu, maka dengan segala hormat, saya harus menyatakan bahwa saya tak sepakat dengan dia. Saya tidak sedang memosisikan diri sebagai pembela dari pemerintah. Saya hanya ingin menjadi seorang yang realistis. Betapapun banyak masalah yang kita hadapi sekarang, betapapun jeleknya kinerja pemerintah di beberapa bidang, kita harus mengakui bahwa membubarkan pemerintahan ini di tengah jalan tak akan menyelesaikan semua masalah.</p>
<p style="text-align: justify;">Alih-alih menyelesaikan semua masalah, pembubaran pemerintah justru menimbulkan segudang masalah baru. Revolusi, apa boleh buat, tidak akan otomatis menyelesaikan masalah di Indonesia. Saya percaya, demokrasi di Indonesia yang ada sekarang sudah cukup baik karena setidaknya kita punya kebebasan berpendapat yang sangat luas meski sistem representasi politik memang belum berkorelasi positif dengan terwakilinya kepentingan rakyat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita semua memahami Indonesia punya banyak masalah dan beberapa di antara kita lalu berimajinasi tentang sebuah perubahan radikal, perubahan total, semacam perubahan besar yang bisa menyelesaikan semua masalah. Revolusi di beberapa negara Timur Tengah menguatkan imajinasi tersebut dan dengan gagah beberapa aktivis menggalang demonstrasi untuk menurunkan SBY-Boediono. Hasilnya, tidak ada apa-apa. Legitimasi SBY-Boediono juga tidak tergerus banyak akibat demonstrasi yang digerakkan oleh massa bayaran itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain konteks sosial Indonesia yang berbeda, yang tidak dalam posisi siap melakukan perubahan radikal, revolusi ala negara-negara Timur Tengah terbukti tak menyelesaikan semua masalah. Pertikaian politik di Mesir dan Libya paska turunnya Husni Mubarok dan Muammar Qadhafi sudah cukup menjadi bukti bahwa revolusi juga terus menyisakan pekerjaan rumah yang tak mudah.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, dalam negara seperti Indonesia yang kondisinya lumayan demokratis, saya berpendapat perubahan sektoral dan setahap demi setahap jauh lebih penting dan berguna. Maksud saya, tidak perlulah SBY-Boediono diturunkan tapi mari berkonsentrasi pada masalah-masalah khusus di pelbagai bidang, seperti hukum, ekonomi, politik, dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang pengamatan saya sebagai wartawan, perbaikan-perbaikan yang terjadi di Indonesia sesudah reformasi merupakan perbaikan yang sifatnya sektoral dan dilakukan sedikit demi sedikit. Tidak radikal. Dibandingkan dengan tuntutan-tuntutan yang sifatnya umum, semacam “Kembali ke Pancasila dan UUD 1945” dan “Turunkan SBY dan Boediono”, dari beberapa kelompok, seperti Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) dan Petisi 28, maka siaran-siaran pers dari Indonesia Corruption Watch (ICW) atau KontraS jauh lebih bergema dan berkontribusi positif.</p>
<p style="text-align: justify;">Riset, investigasi, dan komentar-komentar aktivis ICW dan KontraS di media massa jauh lebih jelas efeknya daripada demonstrasi-demonstrasi Bendera dan Petisi 28. Media massa juga lebih suka pada isu-isu yang sifatnya khusus, tidak abstrak, dan punya efek langsung, daripada sekadar seruan kuno seperti “Mari Kembali ke Konstitusi”. Riset ICW soal rekening gendut Polri, komentar-komentar mereka mengenai kasus Muhammad Nazaruddin dan Nunun Nurbaeti, jelas lebih menyumbang lebih banyak perbaikan daripada demonstrasi yang paling ricuh sekalipun.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan semua argumentasi itulah saya harus menyatakan berbeda pandangan dengan Sondang Hutagalung. Tapi barangkali, aksi bakar diri yang dilakukannya itu tidak harus dipandang sebagai sebuah tindakan yang menghendaki perubahan total. Mungkin Sondang juga tidak pernah berharap akan ada revolusi sesudah dia membakar dirinya. Kenyatannya, kita tahu, memang tidak ada revolusi sesudah Sondang meninggal pada Sabtu, 10 Desember lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya, aksi Sondang itu juga bisa dipandang sebagai bagian dari perubahan bertahap yang harus terus kita perjuangkan. Barangkali, kita juga membutuhkan aksi dengan daya kejut seperti itu, untuk mengingatkan bahwa masalah masih ada dan kita semua harus terus menerus berupaya. Semampu kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Seandainya Sondang tidak memilih membakar diri, dan memilih terus berjuang di Himpunan Advokasi dan Studi Marhaenis Muda untuk Rakyat Bangsa Indonesia (Hammurabi) yang diketuainya, saya kira, dia akan tetap menjadi pejuang. Dia akan tetap punya kontribusi. Tapi Sondang sudah memilih. Dia memilih peran sebagai martir. Kita mesti menghargai keberanian itu meski dengan sedih harus mengakui: kematiannya tak pernah menyulut sebuah perubahan yang benar-benar radikal.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kesadaran itu, bahwa kematian Sondang ternyata tak menghasilkan perubahan radikal, saya tak sedang mengecilkan perannya tapi justru ingin menambahkan rasa salut untuknya. Sebab, dengan kondisi semacam itu, tugas sedih yang dipilih Sondang itu benar-benar menjelma menjadi tugas yang sangat sedih.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 11 Desember 2011</p>
<p style="text-align: justify;">Haris Firdaus</p>
<p style="text-align: justify;">foto diambil dari <a href="http://www.detiknews.com/read/2011/12/12/141332/1788989/1148/media-israel-juga-beritakan-aksi-bakar-diri-sondang-di-depan-istana" target="_blank">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F12%2Ftugas-sedih-sondang-hutagalung%2F&amp;title=Tugas%20Sedih%20Sondang%20Hutagalung"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/12/tugas-sedih-sondang-hutagalung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mama Ina Melawan Usia</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/12/856/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/12/856/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 10:30:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Ari Tulang]]></category>
		<category><![CDATA[Hedi Yunus]]></category>
		<category><![CDATA[Once]]></category>
		<category><![CDATA[Vina Panduwinata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=856</guid>
		<description><![CDATA[
Dari atas panggung, Vina Panduwinata mencari anaknya. “Vito di mana ya?” katanya sambil menuruni panggung. Tak menemukan anaknya di barisan depan, Vina terpaksa terus berjalan ke belakang. Ternyata, sang anak, Joedo Harvianto Kartiko, duduk di bagian belakang, di dekat tempat mangkal wartawan. Pelan-pelan musik mengalun, dan sambil menyanyikan lagu Anakku, Vina mendekati Vito, menggandengnya, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-896" href="http://rumahmimpi.net/2011/12/856/vina-panduwinata-2/"><img class="aligncenter size-full wp-image-896" title="Vina Panduwinata-2" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/12/Vina-Panduwinata-2.JPG" alt="Vina Panduwinata-2" width="522" height="392" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dari atas panggung, Vina Panduwinata mencari anaknya. “Vito di mana ya?” katanya sambil menuruni panggung. Tak menemukan anaknya di barisan depan, Vina terpaksa terus berjalan ke belakang. Ternyata, sang anak, Joedo Harvianto Kartiko, duduk di bagian belakang, di dekat tempat mangkal wartawan. Pelan-pelan musik mengalun, dan sambil menyanyikan lagu <em>Anakku</em>, Vina mendekati Vito, menggandengnya, dan mengajaknya berjalan ke panggung.</p>
<p style="text-align: justify;">Drama ibu-anak itu menghiasi bagian tengah konser “The Emerald Voice of Vina Panduwinata” yang digelar di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Rabu malam, 30 November lalu. Meski terkesan agak maksa, drama itu menarik karena bisa menunjukkan siapa sesungguhnya Vina Panduwinata sekarang: dia seorang ibu dengan anak yang sudah dewasa, bukan lagi wanita muda yang genit dan menggoda. Ya, Vina sekarang sudah 52 tahun dan dia sudah 30 tahun menjadi penyanyi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, Vina adalah penyanyi yang hendak melawan usia. Dalam usia kepala lima, dia terus-menerus hendak menunjukkan bahwa masanya belum habis. Tahun lalu, misalnya, Vina merilis album ke-12 yang bertajuk <em>Kekuatan Cinta</em>. Dia juga terus tampil di banyak acara televisi dan konser, dan kadang-kadang muncul dalam tayangan infotainment. Pada 2006, Vina menggelar konser tunggal pertamanya yang bertajuk “Viva Vina” sesudah 25 tahun berkarier di dunia musik.</p>
<p style="text-align: justify;">“The Emerald Voice of Vina Panduwinata” merupakan konser tunggal Vina yang ketiga, setelah “Konser Vina” pada 2008. Dipromotori oleh Hedi Yunus melalui wadah HY Project dan Q+, konser ini didukung sejumlah penyanyi pria, seperti Once, Judika, Andy/rif, Candil, Marcell, dan Hedi Yunus sendiri. Selain diiringi Dian HP Big Band, dalam konser ini Vina juga berkolaborasi dengan beberapa musisi, semisal Baron, Ovy/rif, Yuke, Indobeatbox, Tataloe Percussion, dan Doit Band.</p>
<p style="text-align: justify;">Dibandingkan dua konser tunggal Vina sebelumnya, konser kali ini lebih sederhana, terutama bila dilihat dari tata panggung. Meski begitu, seperti dikatakan dalam buku pengantar konser, pertunjukan ini menjanjikan sesuatu yang berbeda, yakni kolaborasi pemusik lintas generasi dan lintas genre. Vina sendiri dalam konser ini berkali-kali menegaskan universalitas musik. “Malam ini tidak ada Musik A atau Musik B. Musik itu tidak mengenal tua dan muda,” kata penyanyi kelahiran Bogor, 6 Agustus 1959 itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya, janji manis itu tak terbukti sungguh-sungguh. Memang ada beberapa pemusik yang beda generasi dengan Vina, tapi tak benar-benar merepresentasikan lintas generasi musisi Indonesia. Soal genre, konser ini memang menampilkan sejumlah musisi rock dan nuansa rock pada beberapa lagu, tapi alpa menyuguhkan genre yang dominan di Indonesia: dangdut. Dan, nada dasar konser ini pun tetap tak beranjak dari lagu-lagu Vina yang lembut, mendayu-dayu,dan bertabur cinta.</p>
<p style="text-align: justify;">Vina memang tak bisa keluar dari genre pop yang menjadi zona nyamannya. Dalam konser selama tiga jam itu, ia hanya tercatat beberapa kali meninggalkan pop, seperti saat menyanyikan <em>Apa Kabar</em> dengan aransemen ala jazz. Terobosan menarik sebenarnya terjadi ketika Vina menyanyikan <em>Wow</em> dengan aransemen rock, berkolaborasi dengan Baron, Ovy, Yuke, dan Marcell (yang menggebuk drum). Sayangnya, Vina tak berani menyanyikan utuh lagu ini. Sesudah separo lagu, ia menghilang ke belakang panggung dan Candil mengambil alih perannya sebagai vokalis.</p>
<p style="text-align: justify;"><a rel="attachment wp-att-897" href="http://rumahmimpi.net/2011/12/856/cover-cita-ceria/"><img class="alignleft size-medium wp-image-897" title="Cover Cita Ceria" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/12/Cover-Cita-Ceria-300x271.jpg" alt="Cover Cita Ceria" width="300" height="271" /></a>Yang menarik dari konser ini adalah kesan bahwa Vina adalah penyanyi berumur yang terus berhasrat menjadi muda. Usianya memang sudah setengah abad, tapi di atas panggung, ia bisa menjelma menjadi sosok yang jauh lebih muda. Saat melantunkan <em>Surat Cinta</em>, misalnya, Vina bukan lagi ibu-ibu separo baya yang biasa dipanggil dengan sebutan Mama Ina. Dia menjelma menjadi gadis remaja pemalu yang berdebar-debar saat menbaca surat cinta pertamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika menyanyikan <em>Di Dadaku Ada Kamu</em>, Vina adalah wanita muda yang genit dan suka menggoda. Lagu ini dipopulerkan Vina melalui album ketiganya yang bertajuk <em>Citra Ceria</em> (1984). Dalam perjalanan karier Vina, <em>Citra Ceria</em> menarik dicatat karena album ini berupaya menguatkan citra Vina sebagai penyanyi yang sensual dan seksi. <em>Cover</em> album ini berisi foto Vina mengenakan pakaian senam merah keunguan dan biru bintang-bintang dengan pose yang sangat menggoda dan sulit dipercaya: <em>nunggin</em>g.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam album pertamanya yang bertajuk <em>Citra Biru</em> (1981), citra seksi Vina belum ditonjolkan. <em>Cover</em> album ini hanya berisi foto setengah badan Vina dengan tatapan mata tajam dan bibir terkunci tanpa senyum—sebuah pose yang konon dalam ukuran masa itu termasuk kategori anggun. Di album kedua, terjadi perubahan cukup signifikan dalam konsep <em>cover</em>-nya. Sampul album <em>Citra Pesona</em> (1982) berisi foto setengah badan Vina yang sedang berendam di kolam. Rambutnya basah. Di bagian atas tubuhnya, Vina tidak mengenakan pakaian apa-apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Bertahun-tahun kemudian, meski sudah beranjak tua, Si Burung Camar ini tampaknya tidak pernah benar-benar ingin meninggalkan kesan seksinya. Kita terus melihat Vina dengan gaun-gaun ketat berbelahan dada rendah. Dan, dalam “The Emerald Voice of Vina Panduwinata”, sang mama tetap berupaya tampil menggoda. Berkali-kali ia menggoda Marcell, Once, atau bahkan Hedi Yunus di panggung, juga mencium pipi penyanyi-penyanyi ganteng itu. “Cewek-cewek nggak boleh iri ya,” kata Vina pada penonton.</p>
<p style="text-align: justify;">Puncak kegenitan Vina adalah saat ia menyanyikan <em>Di Dadaku Ada Kamu</em>. Di panggung saat itu ada Judika, Andy/rif, Candil, Marcell, dan Hedi Yunus. Secara bergantian, Vina berdekat-dekatan dengan lima pria itu, sambil menyanyikan lirik nakal yang penuh desahan. Tentu saja, semua kegenitan ini adalah sebuah drama yang ditujukan buat memeriahkan suasana. Orang yang bertanggung jawab atas skenario ini adalah Ari Tulang yang berperan sebagai <em>show and artist director</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Peran Ari dalam pertunjukan ini memang sentral. Sebab, drama-drama hasil arahannya sangat menghidupkan suasana. Dengan 43 lagu, tidak mudah memang menjaga suasana konser tetap menyenangkan sehingga penonton tetap betah dan tidak mengantuk. Apalagi, lagu-lagu Vina kebanyakan juga itu-itu saja, dengan aransemen yang tak banyak berubah.</p>
<p style="text-align: justify;">Haris Firdaus</p>
<p style="text-align: justify;">foto diambil dari <a href="http://sangdiva.blogspot.com/2011/12/emerald-voice-of-vina-panduwinata.html" target="_blank">sini</a> dan <a href="http://madrotter.blogspot.com/2010_12_01_archive.html" target="_blank">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F12%2F856%2F&amp;title=Mama%20Ina%20Melawan%20Usia"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/12/856/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa yang Kau Cari, Surapati?</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/05/apa-yang-kau-cari-surapati/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/05/apa-yang-kau-cari-surapati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 11:49:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Untung Surapati]]></category>
		<category><![CDATA[VOC]]></category>
		<category><![CDATA[Yudhi Herwibowo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=674</guid>
		<description><![CDATA[Kadangkala, seorang pahlawan adalah sosok yang teramat misterius. Tindakan-tindakan dan kisah hidupnya mungkin banyak kita ketahui, tapi selalu ada hal-hal tertentu dari sosoknya yang tak pernah kita pahami. Sayangnya, seringkali yang belum kita pahami itu justru sesuatu yang mendasar, sesuatu yang membuat dia menjadi pahlawan.
Saat membaca novel Yudhi Herwibowo berjudul Untung Surapati, kepala saya selalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-675" href="http://rumahmimpi.net/2011/05/apa-yang-kau-cari-surapati/cover-untung-surapati/"><img class="alignleft size-full wp-image-675" title="Cover Untung Surapati" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/05/Cover-Untung-Surapati.jpg" alt="Cover Untung Surapati" width="400" height="270" /></a>Kadangkala, seorang pahlawan adalah sosok yang teramat misterius. Tindakan-tindakan dan kisah hidupnya mungkin banyak kita ketahui, tapi selalu ada hal-hal tertentu dari sosoknya yang tak pernah kita pahami. Sayangnya, seringkali yang belum kita pahami itu justru sesuatu yang mendasar, sesuatu yang membuat dia menjadi pahlawan.</p>
<p>Saat membaca novel <a href="http://yudhiherwibowo.com/" target="_blank">Yudhi Herwibowo </a>berjudul <a href="http://untung-surapati.blogspot.com" target="_blank"><em>Untung Surapati</em></a>, kepala saya selalu digedor-gedor oleh pemikiran semacam itu. Diterbitkan penerbit Metamind, Solo, pada Februari 2011 lalu, novel setebal 660 halaman itu bisa disebut sebagai roman sejarah: dia mengisahkan hampir semua sisi kehidupan Surapati yang bisa diketahui dengan pedoman sejarah yang kuat.</p>
<p>Yudhi menggunakan sejumlah buku untuk merujuk cerita sejarah soal Untung, seperti <em>Babad Tanah Jawa</em> yang dibacanya dalam tiga versi. Untuk detail lain, Yudhi juga selalu merujuk buku. soal Perang Kartasura, misalnya, ia merujuk ke Buku <em>Terbunuhnya Kapten Tack</em> karya de Graaf.   Tentu saja, ada bagian yang rumpang, seperti masa kecil sang pahlawan, sebab tak seorang pun benar-benar tahu bagaimana Surapati lahir kemudian tumbuh besar.</p>
<p>Yang bisa diketahui dari Surapati kecil hanyalah dia seorang budak. Pertama kali dibeli oleh Kapitein Van Beber di Banten pada suatu hari di tahun 1600-an, Untung Surapati kemudian diserahkan pada seorang pedagang asal Belanda, Mijnheer Moor. Di rumah Mijnheer Moor inilah Surapati mendapatkan nama pertamanya: Untung. Sebelum itu, dia hanya dipanggil Si Kurus, semata-mata karena tubuhnya kerempeng.</p>
<p>Mijnheer Moor memperlakukan Untung dengan baik, terutama karena budak kecil itu dianggapnya membawa keberuntungan. Suzanne, anak Moor, juga suka bermain dengan Untung sampai kemudian mereka tumbuh dewasa menjadi sepasang teman, sahabat, lalu menjadi kekasih. Dan, seperti yang kemudian bisa terbaca dalam kisah hidup Surapati, Mijnheer Moor marah bukan kepalang tatkala tahu sang budak berani memacari anaknya. Untung dipenjarakan, disiksa, lalu dijatuhi hukuman mati.</p>
<p>Pada malam terakhir menjelang hukuman matinya, Untung berhasil meloloskan diri berkat bantuan Suzanne. Malam itu juga, Untung juga membebaskan para tahanan di penjara yang sama. Dalam waktu yang sangat cepat, dia menikahi Suzanne, tapi kemudian memutuskan mengembalikan istrinya itu ke rumah Mijnnheer Moor. Untung kemudian bergabung dengan para tahanan yang melarikan diri dan berkumpul di suatu tempat yang disebut Tanah Mati.</p>
<p>Di Tanah Mati inilah, kisah hidup Untung berubah drastis. Dari seorang budak penakut yang penurut pada majikannya, Untung berubah menjadi seorang pemberani yang, entah kenapa, tiba-tiba memutuskan memusuhi VOC. Saat itu, dia memang bukan lagi pemuda kurus yang penakut, tapi sudah menjelma menjadi pendekar sakti berkat berguru pada seorang pendekar lain bernama Ki Tembang Jara Driya.</p>
<p>Tapi, bahkan ketika telah mewarisi ilmu kanuragan dari Ki Tembang, Untung tetaplah budak Mijnheer Moor dan dia hampir tak pernah menunjukkan rasa ketidaksukaan pada VOC. Faktanya, majikan Untung adalah seorang residen VOC dan dia tampaknya nyaman-nyaman saja menjadi budak dari sosok semacam itu. Satu-satunya permusuhannya dengan VOC terjadi ketika dia memacari Suzanne dan Mijnheer Moor yang marah lalu menghukumnya.</p>
<p>Perlu dicatat: Untung sebenarnya tidak berurusan dengan VOC sebagai institusi, tapi hanya punya permusuhan dengan Moor yang merupakan bagian kecil dari VOC. Dan, perlu digarisbawahi lagi: sebab keduanya berselisih pun bukan sesuatu yang berkaitan dengan kekejaman dan monopoli dagang VOC di Nusantara. Sebab keduanya berselisih “hanyalah” soal cinta. Tapi justru dari perselisihan semacam itulah Surapati lalu beralih menjadi seorang musuh VOC yang sempat sangat merepotkan.</p>
<p>Di Tanah Mati, di antara para pelarian yang berkumpul di sana, Yudhi Herwibowo melukiskan sebuah tindakan heroik yang dilakukan Surapati. “Maka kupikir, daripada kita terus melarikan diri dan bersembunyi, kita sebaiknya bisa pula mempertahankan diri! Ini adalah tanah kita! Mereka, orang-orang asing itu, tak berhak memperlakukan kita seperti ini!” kata Untung saat itu. Sesudah sebuah proklamasi yang heroik tapi agak aneh ini, Untung menghimpun anggota baru untuk memperkuat kelompoknya, kemudian mengadakan latihan kanuragan untuk mereka.</p>
<p>Sesudah itu, mereka melakukan sesuatu yang tak bisa saya pahami: merampok harta orang-orang VOC. Dipandang dalam konteks sekarang, perampokan harta orang-orang VOC akan dengan mudah diterima. Tindakan itu mungkin dianggap sebagai pelampiasan kebencian terhadap orang asing, mungkin semacam nasionalisme. Tapi, waktu itu, belum ada nasionalisme, belum ada sebuah komunitas yang dibayangkan sebagai satu <em>nation</em> dengan Untung dan kawan-kawannya.</p>
<p>Saya tak habis mengerti kenapa Untung dan kelompoknya merampok orang-orang VOC. Sebab, dalam pandangan saya, Untung tak pernah benar-benar punya motivasi melakukan itu. Bukankah permusuhannya hanya dengan Mijnheer Moor? Bukankah sumber perselisihan Untung dengan Moor hanyalah Suzanne? Kenapa dia tidak merebut Suzanne, misalnya, tapi justru merampok orang-orang yang tak berkait langsung dengan Moor? Jika perampokan itu dilakukan untuk bertahan hidup, bukankah pilihannya menjadi terlalu berisiko?</p>
<p>Dalam novelnya, Yudhi Herwibowo melukiskan Untung sebagai orang yang tak pernah menganggap kedatangan VOC di Nusantara sebagai masalah. Oke, dia memang seorang budak, tapi tanpa VOC pun perbudakan di Nusantara kala itu pastilah tetap terjadi. Ketika menjadi budak Moor, Untung juga tampak nyaman-nyaman saja karena dia diperlakukan baik. Satu-satunya yang menjadi perhatiannya kala itu pastilah hanya soal bertahan hidup sehingga begitu dia mendapat jaminan kehidupan yang cukup baik, Untung tak perlu berpikir soal-soal lain.</p>
<p>Tapi, di Tanah Mati, Untung seolah-olah menjelma menjadi orang lain. Tiba-tiba dia punya gagasan memusuhi VOC, merampok harta kelompok dagang itu, menggunakan senjata-senjata VOC yang dirampasnya untuk memperkuat kelompoknya. Dari mana ide ini timbul sebenarnya? Apa alasannya? Dan, lebih penting lagi, apa sebenarnya tujuan Untung? Membebaskan Nusantara? Saya kira tidak karena gagasan merdeka dari penjajah belum timbul kala itu.</p>
<p>Pada titik inilah, saya menyadari betapa motivasi seseorang melakukan “perjuangan” kadangkala tak pernah jelas. Tapi bahkan tanpa motivasi yang jelas pun, “perjuangan” Untung melawan VOC berlangsung sangat lama, sampai dia harus mengungsi dari Batavia ke Kartasura, lalu ke Pasuruan. Selama pertempurannya dengan VOC, banyak pihak yang sudah dilibatkannya: dari mulai Keraton Kartasura hingga para adipati di Madura, Bangil, dan daerah-daerah lainnya. Namun, kadangkala, ketika semua pertempuran itu dihadapkan pada pertanyaan “untuk apa”, semua orang yang terlibat dalam pertempuran itu mungkin tak pernah benar-benar mengerti.</p>
<p>Setelah membaca novel <em>Untung Surapati</em>, saya kadang membayangkan: jangan-jangan Untung Surapati sendiri tak pernah mempunya tujuan yang jelas ketika dia memutuskan memusuhi VOC. Jangan-jangan, pada suatu waktu ketika permusuhan dengan VOC makin besar dan tak bisa dipadamkan, Surapati juga merasah resah dan tidak mengerti kenapa dia sampai terseret pada proses semacam itu. Dengan berpikir semacam ini, saya tidak sedang menurunkan derajat kepahlawanan Surapati yang dianugerahkan oleh pemerintah Indonesia pada 1975.</p>
<p>Bagi saya, kepahlawanan adalah sesuatu yang muncul dari tafsir orang-orang yang memberi gelar, bukan dari orang yang diberi. Kepahlawan juga bukan sesuatu yang beku dan selesai. Sehingga, ketika bahkan kita menganggap Untung Surapati sebagai “pahlawan nasional”, kita mungkin tak pernah benar-benar tahu apa yang dicari Surapati dari pertempuran panjangnya dengan VOC.</p>
<p>Jakarta, 15 Mei 2011</p>
<p>Haris Firdaus</p>
<p>gambar diambil dari <a href="http://untung-surapati.blogspot.com/2011/03/cover-yang-terpilih.html" target="_blank">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F05%2Fapa-yang-kau-cari-surapati%2F&amp;title=Apa%20yang%20Kau%20Cari%2C%20Surapati%3F"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/05/apa-yang-kau-cari-surapati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jejak Politik Hariman Siregar</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2011/03/jejak-politik-hariman-siregar/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2011/03/jejak-politik-hariman-siregar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Mar 2011 13:59:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Moertopo]]></category>
		<category><![CDATA[hariman siregar]]></category>
		<category><![CDATA[malari]]></category>
		<category><![CDATA[Soemitro]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=625</guid>
		<description><![CDATA[Pada pertengahan Januari 1974, ketika hari masih sangat pagi, Hariman Siregar dibangunkan dari selnya di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo, Jakarta Pusat. Sudah dua hari ia ditahan di sana karena dituduh terlibat dalam peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974, yang dikenal dengan sebutan Peristiwa Malari.
Pagi itu, Hariman diperbolehkan keluar dari sel sebentar untuk pergi ke Rumah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-628" href="http://rumahmimpi.net/2011/03/jejak-politik-hariman-siregar/hariman-siregar-2/"><img class="alignleft size-full wp-image-628" title="Hariman Siregar" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/03/Hariman-Siregar2.jpg" alt="Hariman Siregar" width="300" height="200" /></a>Pada pertengahan Januari 1974, ketika hari masih sangat pagi, Hariman Siregar dibangunkan dari selnya di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo, Jakarta Pusat. Sudah dua hari ia ditahan di sana karena dituduh terlibat dalam peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974, yang dikenal dengan sebutan Peristiwa Malari.</p>
<p>Pagi itu, Hariman diperbolehkan keluar dari sel sebentar untuk pergi ke Rumah Sakit St. Carolus, karena Sriyanti, istrinya, dalam kondisi mencemaskan ketika hendak melahirkan anak kembar. Pada saat Hariman sampai di rumah sakit, kabar sedih menerpa: bayi kembar yang baru saja dilahirkan Sriyanti telah meninggal. Esok harinya, Sriyanti pun mengalami koma sebelum akhirnya mengalami hilang ingatan untuk selamanya. Beberapa waktu kemudian, Kalisati Siregar, ayah Hariman, juga meninggal.</p>
<p>Barangkali, itulah masa-masa terberat bagi sosok Hariman Siregar. Setelah dipenjara rezim Soeharto, ia mesti kehilangan anak, ayah, sekaligus menyaksikan istrinya sakit berkepanjangan. &#8220;Kalau ingat masa itu, <em>gue </em>jengkel. Membicarakan ini rasanya tidak menyenangkan. Bayarannya tidak imbang. Semuanya sudah habis,&#8221; kata Hariman mengomentari masa-masa suram itu.</p>
<p>Kesedihan berat yang menimpa Hariman itulah yang menjadi kisah pembuka dalam buku <em>Hariman &amp; Malari </em>ini. Buku ini merupakan biografi yang ditulis dengan sudut pandang orang ketiga. Bukan memoar yang mengambil sudut pandang orang pertama, yang belakangan marak. Diterbitkan Q-Communication&#8211;yang beberapa kali menerbitkan buku biografi tokoh ternama&#8211;buku ini ditulis Imran Hasibuan, Airlambang, dan Yosef Rizal dan diterbitkan pada Januari 2011.</p>
<p>Secara garis besar, ada empat bagian dalam buku ini. Bagian pertama berisi kisah hidup Hariman. Bagian kedua menyuguhkan galeri foto. Bagian ketiga menampilkan komentar para tokoh ihwal sosok Hariman. Sedangkan bagian terakhir mengetengahkan sejumlah tulisan Hariman.</p>
<p>Dalam literatur gerakan mahasiswa di Indonesia, nama Hariman Siregar selalu diidentikkan dengan Peristiwa Malari. Sebagaimana banyak diketahui, Malari adalah julukan yang mencakup dua peristiwa yang berdekatan waktu, meski belum tentu berkaitan. Peristiwa pertama adalah demonstrasi besar-besaran mahasiswa di Jakarta pada 15 Januari 1974.</p>
<p>Aksi itu terutama berkaitan dengan kedatangan Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka, ke Indonesia. Pada hari itu, ratusan mahasiswa dan pelajar melakukan <em>long march </em>dari Universitas Indonesia (UI) di Salemba, Jakarta Pusat, ke Universitas Trisakti di Grogol, Jakarta Barat.</p>
<p>Tujuan utama aksi itu sesungguhnya menuntut pemerintah mengubah kebijakan pembangunan dan ketergantungan pada modal asing. Selain itu, juga mendesak penguasa menangani secara serius berbagai penyelewengan dan korupsi yang kian merajalela serta penguatan lembaga penyalur pendapat rakyat. Di Trisakti, mereka melakukan mimbar bebas hingga sore hari.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-630" href="http://rumahmimpi.net/2011/03/jejak-politik-hariman-siregar/hariman-dan-malari-2/"><img class="alignleft size-medium wp-image-630" title="Hariman dan Malari" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2011/03/Hariman-dan-Malari1-300x196.jpg" alt="Hariman dan Malari" width="334" height="218" /></a>Pada saat hampir bersamaan, terjadi peristiwa kedua, yakni kerusuhan massal di sejumlah sudut kota Jakarta. Massa melakukan pembakaran, perusakan, dan penjarahan terhadap sejumlah gedung. Dalam kerusuhan yang berlangsung selama dua hari itu, 11 orang meninggal, ratusan mobil dan sepeda motor rusak, serta lebih dari 100 gedung dan bangunan hangus dibakar. Meski para tokoh mahasiswa menyatakan kerusuhan itu tidak ada kaitannya dengan demonstrasi mahasiswa, pemerintah tetap menangkap sejumlah pentolan mahasiswa.</p>
<p>Sebagai Ketua Dewan Mahasiswa UI, Hariman Siregar ada dalam daftar utama target penangkapan. Dalam pengadilan yang digelar untuknya, ia divonis enam tahun penjara (walaupun prakteknya ia hanya dipenjara kurang dari tiga tahun) karena dianggap melakukan tindakan subversi, yakni merongrong haluan negara.</p>
<p>Setelah dibebaskan dari penjara, naluri aktivis Hariman tidak surut. Ia kembali terlibat menyokong gerakan mahasiswa 1978 yang menolak Soeharto sebagai presiden kembali. Setelah itu, nama pria kelahiran Padang Sidempuan, Sumatera Utara, 1 Mei 1950, itu memang tak bisa dilepaskan dari dunia pergerakan hingga sekarang.</p>
<p>Namun, sejatinya, pelekatan Peristiwa Malari di belakang nama Hariman tidaklah tepat. Sebab, faktanya, kerusuhan yang diwarnai pencurian, pembakaran, dan terbunuhnya belasan orang itu merupakan aksi yang sama sekali terpisah dari gerakan mahasiswa ketika itu. Kerusuhan itu juga tidak bisa dibilang 100% inisiatif masyarakat Jakarta yang mendukung aksi-aksi mahasiswa, melainkan lebih cenderung ada tangan ketiga yang menggerakkannya.</p>
<p>Seperti kesaksian mantan Panglima Kopkamtib Jenderal (purnawirawan) Soemitro dalam memoarnya. Menurut dia, kelompok &#8220;jaringan intel lepas&#8221; Opsus (Operasi Khusus) di bawah komando Ali Moertopo yang paling bertanggung jawab atas peristiwa kelam itu. Ia menunjuk serangkaian rapat rahasia kelompok itu yang dilakukan beberapa kali menjelang Peristiwa Malari pecah. Dengan kesaksian ini, tampak bahwa Hariman hanyalah kambing hitam tragedi nasional itu. Jadi, bila menyebut Hariman sebagai tokoh sentral Peristiwa Malari, sama saja dengan membenarkan pengambinghitaman tersebut.</p>
<p>Buku <em>Hariman &amp; Malari </em>mengisahkan dengan cukup rinci bagaimana jejak politik Hariman dimulai, perkembangannya, hingga kondisinya pada masa setelah reformasi. Ia dibesarkan dalam keluarga yang berafiliasi pada Partai Sosialis Indonesia (PSI). Ibunya pun cukup aktif dalam Gerakan Wanita Sosialis, organisasi <em>onderbouw </em>PSI. Bahkan, setelah berkeluarga, mertuanya yang sekaligus guru politiknya adalah tokoh partai itu: Prof. Dr. Sarbini Soemawinata.</p>
<p>Yang cukup menarik, ternyata pada masa awalnya menjadi aktivis, Hariman pernah dekat dengan Ali Moertopo, seorang asisten pribadi Presiden Soeharto. Dengan dukungan dari kelompok Ali Moertopo pula, Hariman berhasil meraih kursi Ketua Dewan Mahasiswa UI, mengalahkan pesaingnya dari Himpunan Mahasiswa Islam yang ketika itu sangat berpengaruh di UI. Meski begitu, segera setelah terpilih sebagai Ketua Dewan Mahasiswa UI, Hariman menunjukkan independensinya dari Ali Moertopo.</p>
<p>Tragisnya, ia lalu menjadi korban dalam tarik-menarik rivalitas dua petinggi tentara di lingkaran kekuasaan ketika itu: Ali Moertopo di satu pihak dan Soemitro di pihak lain. Soemitro dicurigai membahayakan kedudukan Pak Harto dengan menggalang dukungan mahasiswa. Malah, dalam dokumen yang dikenal dengan Dokumen Ramadi disebutkan, Soemitro hendak merebut kekuasaan dari tangan Soeharto.</p>
<p>Dalam keterangan resminya ketika itu, pemerintah menyebutkan keterlibatan PSI dan Masyumi yang dicap sebagai kelompok ekstrem kanan dalam tragedi nasional itu. Hal itu disampaikan Presiden Soeharto dalam sidang kabinet dan pada saat bertemu dengan para pemimpin partai politik. Disebutkan pula keterlibatan mantan anggota Partai Nasional Indonesia poros Ali-Surachman dan kalangan tentara yang memiliki ambisi pribadi. Malah, lebih jauh, pemerintah menuding adanya dukungan pihak asing yang ikut menyusun rencana dan mendanai gerakan itu.</p>
<p>Kisah menarik lainnya adalah peran Hariman ketika B.J. Habibie menjadi presiden. Pada waktu itu, Hariman termasuk orang dekat dengan Habibie. Ia bahkan mengerahkan sejumlah rekan aktivisnya untuk mendukung Habibie menjelang sidang umum MPR pada Oktober 1999. Hariman berupaya agar anggota MPR menerima laporan pertanggungjawaban Habibie, sehingga kemungkinan Habibie menjadi presiden lagi terbuka lebar.</p>
<p>Tapi laporan pertanggungjawaban itu ditolak. Habibie memutuskan tidak maju sebagai calon presiden. Sejak itu hingga sekarang, Hariman berada di lingkar luar kekuasaan dengan mengelola Indonesian Democracy Monitor (Indemo). Seiring dengan perubahan zaman, Hariman tidak lagi memainkan peran sentral dalam politik Indonesia.</p>
<p>Penerbitan buku ini barangkali adalah bagian dari upaya mengingatkan bahwa Hariman pernah punya peran penting dalam sejarah Indonesia. Sebagai tugu pengingat, buku ini bisa dikatakan bagus, meski &#8211;seperti umumnya biografi&#8211; isi buku ini terlalu banyak puja-puji dan minim kritik.</p>
<p>Haris Firdaus</p>
<p>foto Hariman Siregar diambil dari <a href="http://www.inilah.com/read/detail/504361/semangat-hidup-yang-selalu-menyala/" target="_blank">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2011%2F03%2Fjejak-politik-hariman-siregar%2F&amp;title=Jejak%20Politik%20Hariman%20Siregar"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2011/03/jejak-politik-hariman-siregar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

