<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Mimpi &#187; balung buto</title>
	<atom:link href="http://rumahmimpi.net/tag/balung-buto/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahmimpi.net</link>
	<description>mimpi adalah semangat. dan perlu sebuah rumah buat menampungnya.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 09:26:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Balung Buto Sangiran</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2009/11/balung-buto-sangiran/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2009/11/balung-buto-sangiran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 01:28:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[balung buto]]></category>
		<category><![CDATA[Citro Suroto]]></category>
		<category><![CDATA[Koenigswald]]></category>
		<category><![CDATA[Raden Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Sangiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=408</guid>
		<description><![CDATA[
Indonesia punya pengalaman panjang yang cukup buruk dalam melestarikan peninggalan zaman lampaunya. Salah satu pengalaman itu berkait dengan pelestarian Situs Sangiran di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, yang pada 5 Desember 1996 diakui sebagai warisan dunia nomor 593 oleh UNESCO. Sejak pengakuan itu, situs tersebut secara resmi bernama “Sangiran Early Man Site”.
Pengakuan prestisius itu sebenarnya terbilang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-409" title="museum sangiran" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2009/11/sangiran-300x199.jpg" alt="museum sangiran" width="260" height="172" /></p>
<p>Indonesia punya pengalaman panjang yang cukup buruk dalam melestarikan peninggalan zaman lampaunya. Salah satu pengalaman itu berkait dengan pelestarian Situs Sangiran di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, yang pada 5 Desember 1996 diakui sebagai warisan dunia nomor 593 oleh UNESCO. Sejak pengakuan itu, situs tersebut secara resmi bernama “Sangiran Early Man Site”.</p>
<p>Pengakuan prestisius itu sebenarnya terbilang wajar bila melihat potensi Sangiran. Sejak penemuan alat-alat batu manusia purba oleh Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald pada 1934, berbagai penemuan di Sangiran memang susul-menyusul seolah tanpa henti.<span id="more-408"></span></p>
<p>Selama kurun waktu puluhan tahun terakhir, sudah ada sekitar 50 individu fosil manusia <em>Homo erectus</em>. Temuan tersebut mewakili 65 % fosil <em>Homo erectus</em> yang ditemukan di seluruh Indonesia atau 50 % populasi fosil <em>Homo erectus</em> di dunia. Elfrida Anjarwati, salah seorang arkeolog Museum Sangiran, menyebut Situs Sangiran sebagai situs manusia purba berdiri tegak yang terlengkap di Asia—sebagian pihak lainnya bahkan mengatakan situs ini merupakan yang terpenting di dunia.</p>
<p>Namun, meski sudah jelas-jelas terbukti memiliki potensi arkeologis luar biasa dan diakui secara internasional, tampaknya selalu saja ada kendala dalam melestarikan Sangiran. Salah satu persoalan terpentingnya adalah menghalangi praktik jual beli fosil di sana. Dalam rentang waktu yang terbilang lama, praktik semacam ini terus terjadi dan sulit ditanggulangi. Penjualan fosil secara ilegal itu jelas merugikan kepentingan penelitian arekologi Sangiran sekaligus mengkhianati amanah dari UNESCO—pengakuan Sangiran sebagai warisan dunia sejatinya mewajibkan tiap elemen masyarakat dunia untuk ikut serta menjaga situs itu.</p>
<p>Bagaimana sebenarnya awal mula praktik penjualan fosil-fosil di Situs Sangiran? Benarkah ini hanya persoalan ekonomi semata?</p>
<p>Ternyata, bila ditelusuri secara agak mendalam, praktik ini bukanlah semata-mata akibat ketidakmampuan ekonomi para penduduk setempat. Ada faktor kultural yang mulanya menyebabkan ihwal ini terjadi. Persoalan kultural ini terutama berkait dengan cara pandang masyarakat Sangiran terhadap fosil-fosil manusia purba yang terserak sangat banyak di dekat tempat mereka. Sejak waktu yang sangat lama, masyarakat Sangiran telah mengenal fosil-fosil tersebut tapi dengan cara pandang yang sangat berlainan dengan cara mereka menilai peninggalan-peninggalan purba itu.</p>
<p>Seperti halnya masyarakat tradisional lainnya, cara pandang kuno masyarakat Sangiran terhadap fosil-fosil manusia purba itu mulanya dipengaruhi oleh mitos. Dalam Buku <em>Balung Buto, Warisan Budaya Dunia dalam Perspektif Masyarakat Sangiran</em> (2003), Bambang Sulistyanto mengisahkan, masyarakat Sangiran zaman lampau menyebut tulang-tulang yang mereka temukan di sekitar Sangiran sebagai <em>balung buto</em> atau tulang raksasa. Masyarakat percaya, pada suatu kurun waktu tertentu, Sangiran pernah menjadi wilayah kekuasaan para raksasa. Mitos ini antara lain diperkuat oleh keberadaan Dusun Bapang dan Desa Saren.</p>
<p>Masyarakat Sangiran menganggap nama Dusun Bapang diambil dari peristiwa dilemparnya para raksasa oleh seorang tokoh bernama Raden Bandung hingga para raksasa itu <em>njepapang</em> atau terjengkang. Sementara, nama Desan Saren diambil dari peristiwa terbunuhnya para raksasa sampai <em>saren</em> atau darahnya tercecer.</p>
<p>Toponimi ini menopang mitos <em>balung buto</em> sehingga bahkan masyarakat mempercayai tulang-tulang berukuran besar ini bisa digunakan sebagai jimat untuk menyembuhkan banyak sekali penyakit—mulai kadas, kurap, demam, bisul, encok, gatal-gatal, keseleo, sampai gigitan binatang berbisa. <em>Balung buto</em> bahkan diimani dapat memperlancar proses kelahiran, sebagai jimat kebal senjata tajam, dan pengusir setan.</p>
<p><strong>Pasca- Koenigswald</strong></p>
<p>Seandainya kearifan lokal ihwal <em>balung buto</em> itu terus bertahan, pastilah tidak terjadi praktik jual beli fosil secara gelap di Sangiran masa kini. Sayangnya, kepercayaan tersebut perlahan-lahan mulai terpupus, terutama sejak kedatangan Koenigswald pada 1934. Waktu itu, Koenigswald—yang tak mungkin bekerja sendirian meneliti lahan arkeologis di Sangiran yang sangat luas—mengajak seorang bocah setempat kelas 5 SD bernama Citro Suroto untuk menemaninya mencari fosil. Citro Suroto adalah orang lokal pertama yang berinteraksi langsung dengan Koenigswald dalam hal kerja mencari fosil.</p>
<p>Tiap hari, sejak pukul delapan pagi, Citro menemani Koenigswald menjelajah wilayah-wilayah di Sangiran. Ia biasa membawakan payung bagi Koenigswald sehingga secara luas ia dijuluki sebagai “si anak payung”. Dari proses bersama inilah Citro belajar seluk-beluk fosil sebab tiap menemukan fosil, Koenigswold akan bercerita padanya soal temuan itu. Dari cerita-cerita inilah, Citro mulai memahami wujud fosil, bagaimana cara mengambil dan memperlakukannya supaya tak rusak, bahkan Citro mulai paham bagaimana memperkirakan umur fosil.</p>
<p>Lama-kelamaan, ketika ia mulai berkeluarga, Citro mengajarkan pengetahuannya tentang fosil kepada keluarganya, sementara para tetangga Citro juga mulai belajar soal itu. Bertepatan dengan itu, para peneliti asing mulai datang dan mereka pastilah membutuhkan penduduk lokal untuk menemani pencarian fosil. Maka, muncullah “anak-anak payung” lainnya sehingga secara turun-temurun penduduk Sangiran mulai memahami seluk-beluk fosil. Bersamaan dengan proses itu, pandangan mereka ihwal tulang-tulang manusia itu pun berubah. Karena para peneliti asing yang datang ke Sangiran selalu memberikan imbalan uang bagi tiap tulang yang ditemukan, para penduduk pun mulai menganggap tulang-tulang itu tidak sebagai <em>balung buto</em> tapi sebagai “barang jualan”.</p>
<p>Di sinilah proses pencerabutan kearifan lokal terjadi, sementara pandangan rasional-ilmiah tentang fosil—yang menganggap fosil manusia tak sekadar sebagai “barang dagangan” tapi lebih sebagai properti penelitian muasal manusia—tak pernah bisa dicerna secara baik oleh masyarakat setempat. Persepsi yang tinggal di benak sebagian masyarakat pun sekadar persepsi dangkal-materialistik yang menilai fosil sebagai komoditas.</p>
<p>Inilah sesungguhnya yang memulai proses perdagangan fosil secara ilegal di Sangiran sehingga untuk menangkal hal itu secara luas dan permanen kita harus terlebih dulu merubah persepsi fosil sebagai komoditas. Sosialisasi gagasan ilmiah sekaligus pengingatan kolektif akan makna tulang-tulang itu dalam mitos tradisional perlu dilakukan sebagai langkah awal menjaga keutuhan dan kelengkapan Sangiran.</p>
<p>Haris Firdaus</p>
<p>ps: gambar diambil dari <a href="http://forum.pasarsolo.com/obyek-wisata/museum-sangiran/" target="_blank">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2009%2F11%2Fbalung-buto-sangiran%2F&amp;title=Balung%20Buto%20Sangiran"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2009/11/balung-buto-sangiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

