<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Mimpi &#187; soe hok gie</title>
	<atom:link href="http://rumahmimpi.net/tag/soe-hok-gie/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahmimpi.net</link>
	<description>mimpi adalah semangat. dan perlu sebuah rumah buat menampungnya.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 09:26:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Temannya Soe Hok Gie</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2010/02/temannya-soe-hok-gie/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2010/02/temannya-soe-hok-gie/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 09:57:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[hariman siregar]]></category>
		<category><![CDATA[malari]]></category>
		<category><![CDATA[soe hok gie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[
Saya bertemu dia pada sebuah siang yang terik. Saat itu sudah jam 2 siang lebih. Saya menaiki tangga rumah susun itu, menuju lantai tiga. Ia menyambut saya tepat di depan anak tangga terakhir. Bayangan saya tentang dia langsung berubah begitu melihat sosoknya secara sempurna.
Mari memanggilnya B. Namanya terdengar sedikit lucu. Berbau perjuangan dan kekiri-kirian menurut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-453" title="soehokgiedipuncakpangrango" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2010/02/soehokgiedipuncakpangrango.jpg" alt="soehokgiedipuncakpangrango" width="293" height="220" /></p>
<p>Saya bertemu dia pada sebuah siang yang terik. Saat itu sudah jam 2 siang lebih. Saya menaiki tangga rumah susun itu, menuju lantai tiga. Ia menyambut saya tepat di depan anak tangga terakhir. Bayangan saya tentang dia langsung berubah begitu melihat sosoknya secara sempurna.</p>
<p>Mari memanggilnya B. Namanya terdengar sedikit lucu. Berbau perjuangan dan kekiri-kirian menurut saya. Ketika mendengar namanya, saya membayangkan ia berasal dari wilayah timur Indonesia. Saya mengangankan ia berkulit gelap, berambut keriting dengan potongan pendek di bagian depan dan gondrong di belakang. Saya membayangkan tubuhnya tegap, tangannya penuh bulu, dan cara bicaranya berapi-api. <span id="more-452"></span></p>
<p>Semua bayangan saya runtuh ketika melihat sosoknya. Saya sempat tersenyum-senyum sendiri, menertawakan bayangan naif saya. B adalah seorang pria tua, dengan rambut memutih yang mulai botak, kulit yang kendur, dan dia bukan dari Indonesia bagian timur. Bagi saya, ia tampak seperti keturunan tionghoa&#8211;meskipun saya tak yakin soal ini.</p>
<p>B adalah ketua umum sebuah LSM yang namanya sangat nasionalis. Sehari sebelum kami bertemu, B memimpin anggota LSM-nya melakukan demonstrasi perihal dugaan korupsi yang terjadi di sebuah departemen. Saya harusnya meliput demonstrasi itu tapi gagal. Jadwal demo yang sampai ke saya melalui sms ternyata salah. Jam 2 siang pada hari itu saya sampai di Kejaksaan Agung. Sepi. Seorang tukang ojek yang saya tanya tak tahu perihal demo. Esok harinya saya tahu dari B bahwa demo di kejaksaan dilaksanakan jam 12.</p>
<p>Atasan saya di kantor memerintahkan saya bertemu B, meminta data-data perihal korupsi yang disampaikan dalam demo itu. Malam itu juga saya menelepon B. Kami janjian ketemu di sebuah rumah susun, beberapa kilometer dari Stasiun Pasar Senen. Saya sempat heran dengan pilihan tempat ini karena sebelumnya saya minta ketemu di kantor LSM-nya saja. Setelah bertemu B, saya kemudian menebak-nebak, LSM yang ia pimpin pastilah tak punya kantor.</p>
<p>Akhirnya kami bertemu di rumahnya, sebuah petak sempit yang menjadi bagian dari sebuah komplek rumah susun yang pernah dinamai dengan julukan yang membikin patah hati: &#8220;rumah susun sangat sederhana&#8221;. Kami ngobrol ditemani donat dan kopi susu buatan istri B&#8211;seorang perempuan setengah tua dengan rambut keriting dan perut gendut.</p>
<p>Sejak memulai obrolan, saya mulai curiga pada kredibilitas LSM-nya&#8211;kecurigaan ini sebenarnya sudah muncul begitu mendengar nama LSM-nya yang sangat nasionalis. B tak banyak bisa memberikan cerita soal dugaan korupsi dan hanya memberikan selembar kertas. Secara gagah, kertas berisi alur dugaan korupsi&#8211;lengkap dengan nama oknum yang diduga terlibat dan taksiran besaran kerugian negara&#8211;itu diberi judul &#8220;surat terbuka&#8221;. Yang dituju pun tak kalah mentereng: menteri yang memimpin departemen tempat korupsi itu diduga terjadi dan jaksa agung.</p>
<p>Saya coba mengorek lebih jauh keterangan darinya tapi ia tak mau&#8211;atau memang tak bisa?&#8211;banyak berkisah. &#8220;Sudah, dari kertas itu aja,&#8221; katanya. Saya geli di dalam hati. Sebenarnya, majalah tempat saya bekerja sudah mendapat data bocoran soal dugaan korupsi itu. Jauh lebih lengkap dari &#8220;surat terbuka&#8221; B. Bagaimana alurnya, siapa oknumnya, berapa kerugian negara&#8211;semua data itu sudah dipegang seorang wartawan majalah tempat saya. Tujuan saya mendatangi B hanyalah berjaga-jaga, siapa tahu LSM yang dipimpinnya inipunya data jauh lebih lengkap.</p>
<p>Nyatanya, tidak. Data yang ditulis dalam &#8220;surat terbuka&#8221; itu malah jauh lebih miskin. Hanya berisi dugaan tanpa menyertakan argumen atau bukti apa-apa. &#8220;Saya nggak punya kemampuan menjangkau bukti-bukti. Itu kan tugas penyidik,&#8221; begitu kira-kira apologinya saat saya bertanya perihal bukti-bukti dari dugaan yang ia sebarluaskan itu. Ini argumen klasik. Tapi LSM yang bertanggung jawab pasti tidak pernah hanya melansir tuduhan tanpa data karena sangat rawan dituntut balik. Apalagi, dalam &#8220;surat terbuka&#8221; B itu ada nama lengkap oknum yang diduga terlibat sehingga B bisa saja digugat.</p>
<p>Saat saya tanya sumber dari data yang ia publikasikan, B menjawab, dari orang dalam departemen itu. &#8220;Dalam tiap kasus kayak gini kan pasti ada orang yang nggak kebagian,&#8221; B menerangkan tanpa malu. Saya kembali terpingkal-pingkal. Oalah. Dugaan saya bahwa demo yang dipimpin B merupakan demo pesanan makin bertambah. Sejak tahu itu, saya sudah ingin buru-buru meninggalkan dia. Toh saya yakin, selembar kertas yang ia berikan ke saya dan hasil obrolan kami tak dibutuhkan untuk dikutip di berita yang akan dibuat. Tapi karena bersopan santun, saya sempat memperpanjang obrolan di luar topik wawancara kami.</p>
<p>Ternyata, ia seorang wartawan. Mungkin dari era 1970-an. Di zaman muda, ia mengaku kenal dengan Soe Hok Gie. Bersama Gie dan Adnan Buyung Nasution, B mengaku pernah membuat demonstrasi melawan Soeharto. &#8220;Itu terjadi sebelum Malari,&#8221; paparnya. Malari adalah akronim dari Malapetaka Lima Belas Januari, merujuk ke demo besar pada 15 Januari 1974 memprotes kedatangan PM Jepang kala itu. Orang semisal Hariman Siregar bagian dari kelompok penggerak demo itu&#8211;sebuah kelompok aktivis yang kemudian diberi julukan &#8220;Angkatan 74&#8243;. B pernah ditahan berkali-kali, katanya, tanpa pernah disidangkan.</p>
<p>Saya tak tahu apakah semua cerita itu benar. Tapi, saya lagi-lagi tersenyum dalam hati: kalau tak dapat data, lumayanlah bisa ketemu temannya Soe Hok Gie yang kesohor itu. <img src='http://rumahmimpi.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Di akhir pertemuan, saat saya pamit pulang, ia menyodorkan selembar uang seratus ribu yang sudah dilipat-lipat menjadi berbentuk kotak kecil. Saya tentu saja menolak dan lagi-lagi tertawa dalam hati: masak seorang ketua umum LSM, mantan wartawan, dan temannya Soe Hok Gie, kok memberi uang ke wartawan? Saya bertanya-tanya: apa ya pendapat Gie kalau tahu temannya mencoba &#8220;menyuap&#8221; wartawan? <img src='http://rumahmimpi.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Jakarta, 21 Februari 2010<br />
Haris Firdaus</p>
<p>gambar diambil dari <a href="http://rumahmimpi.net/2010/02/temannya-soe-hok-gie/" target="_blank">sini</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2010%2F02%2Ftemannya-soe-hok-gie%2F&amp;title=Temannya%20Soe%20Hok%20Gie"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2010/02/temannya-soe-hok-gie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

